Menyoroti Risiko Siber OT dan Dorong Penerapan Security by Design dalam Industri 4.0
Sabtu, 22 November 2025 - 22:52 WIB
loading...
A
A
A
Untuk produksi dengan sensitivitas tinggi, ITSEC Asia menggabungkan threat intelligence dengan pengujian yang terencana guna meningkatkan keamanan tanpa mengganggu operasional bisnis. Informasi intelijen sektoral dan risiko pemasok menjadi prioritas oleh manajemen, sementara pengujian dilakukan di lingkungan aman atau dalam maintenance window yang telah disepakati.
"Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan ketahanan tetapi juga memberikan bukti nyata kapabilitas kepada pelanggan, regulator, dan pihak asuransi," ungkap Dannacher.
Dari pandangannya, keamanan OT yang kuat menjadi pendorong pertumbuhan melalui proses go/no-go yang jelas, peningkatan kredibilitas untuk kontrak jangka panjang, serta penerapan ulang playbook terstandarisasi di berbagal pabrik dan negara.
Di sisi kebijakan, ITSEC Asia melihat adanya peningkatan, meski belum sepenuhnya selaras antara agenda digitalisasi industri seperti program Making Indonesia 4.0 dengan kebijakan dan penegakan keamanan siber nasional. Transformasi industri bergerak cepat, sementara aturan serta pengawasan masih bervariasi antar sektor dan wilayah.
Perusahaan mengidentifikasi tiga area yang dinilai perlu diperkuat, mencakup: baseline keamanan OT untuk infrastruktur kritis, tata kelola pelaporan insiden yang lebih terstruktur dan terukur, serta pengembangan SDM yang lebih luas di luar program-program unggulan..
Dannacher mendukung kombinasi insentif dan persyaratan minimum untuk mempercepat peningkatan kapabilitas industri. la menyoroti insentif seperti tax credit atau depresiasi dipercepat untuk investasi keamanan siber yang dapat diukur hasilnya, serta public co-funding bagi pabrik kecil-menengah untuk memulai program dasar seperti assessment, pelatihan, dan managed detection services. Aturan pengadaan juga dinilai penting, misalnya dengan memberikan preferensi kepada pemasok yang memenuhi standar keamanan dan memiliki SDM tersertifikasi.
Baca Juga: Keamanan Siber Dipandang sebagai Sektor Bisnis Menjanjikan
Dari sisi sumber daya manusia, ITSEC Asia menilai bahwa Indonesia belum memiliki jumlah profesional siber yang memadai mengamankan infrastruktur industri yang berkembang pesat, khususnya dalam peran OT Security, incident response, dan governance untuk sektor teregulasi. Untuk menjawab tantangan ini, perusahaan berinvestasi melalui Cybersecurity & Al Academy dan inisiatif terkait guna membangun talenta lokal dan jalur karier yang lebih jelas bagi para tenaga ahli di Indonesia.
Dalam pesannya kepada para pemimpin manufaktur dan investor, Dannacher menegaskan bahwa "segala sesuatu yang terhubung harus dilindungi." Ia mengimbau agar keamanan siber tidak dianggap sebagai langkah akhir dalam proyek transformasi digital, melainkan harus tertanam sejak awal.
Dengan pendekatan security-by-design, smart factories dapat dibangun lebih tangguh, tepercaya, dan mampu mendukung pertumbuhan berkelanjutan yang sejalan dengan tujuan ITSEC Asia untuk empowering a safer digital future.
"Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan ketahanan tetapi juga memberikan bukti nyata kapabilitas kepada pelanggan, regulator, dan pihak asuransi," ungkap Dannacher.
Dari pandangannya, keamanan OT yang kuat menjadi pendorong pertumbuhan melalui proses go/no-go yang jelas, peningkatan kredibilitas untuk kontrak jangka panjang, serta penerapan ulang playbook terstandarisasi di berbagal pabrik dan negara.
Di sisi kebijakan, ITSEC Asia melihat adanya peningkatan, meski belum sepenuhnya selaras antara agenda digitalisasi industri seperti program Making Indonesia 4.0 dengan kebijakan dan penegakan keamanan siber nasional. Transformasi industri bergerak cepat, sementara aturan serta pengawasan masih bervariasi antar sektor dan wilayah.
Perusahaan mengidentifikasi tiga area yang dinilai perlu diperkuat, mencakup: baseline keamanan OT untuk infrastruktur kritis, tata kelola pelaporan insiden yang lebih terstruktur dan terukur, serta pengembangan SDM yang lebih luas di luar program-program unggulan..
Dannacher mendukung kombinasi insentif dan persyaratan minimum untuk mempercepat peningkatan kapabilitas industri. la menyoroti insentif seperti tax credit atau depresiasi dipercepat untuk investasi keamanan siber yang dapat diukur hasilnya, serta public co-funding bagi pabrik kecil-menengah untuk memulai program dasar seperti assessment, pelatihan, dan managed detection services. Aturan pengadaan juga dinilai penting, misalnya dengan memberikan preferensi kepada pemasok yang memenuhi standar keamanan dan memiliki SDM tersertifikasi.
Baca Juga: Keamanan Siber Dipandang sebagai Sektor Bisnis Menjanjikan
Dari sisi sumber daya manusia, ITSEC Asia menilai bahwa Indonesia belum memiliki jumlah profesional siber yang memadai mengamankan infrastruktur industri yang berkembang pesat, khususnya dalam peran OT Security, incident response, dan governance untuk sektor teregulasi. Untuk menjawab tantangan ini, perusahaan berinvestasi melalui Cybersecurity & Al Academy dan inisiatif terkait guna membangun talenta lokal dan jalur karier yang lebih jelas bagi para tenaga ahli di Indonesia.
Dalam pesannya kepada para pemimpin manufaktur dan investor, Dannacher menegaskan bahwa "segala sesuatu yang terhubung harus dilindungi." Ia mengimbau agar keamanan siber tidak dianggap sebagai langkah akhir dalam proyek transformasi digital, melainkan harus tertanam sejak awal.
Dengan pendekatan security-by-design, smart factories dapat dibangun lebih tangguh, tepercaya, dan mampu mendukung pertumbuhan berkelanjutan yang sejalan dengan tujuan ITSEC Asia untuk empowering a safer digital future.
(akr)
Lihat Juga :