Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, Pamapersada Nusantara Luncurkan PAMA Eco-Edu Forest di IKN
Senin, 24 November 2025 - 10:12 WIB
loading...
Kepala OIKN Basuki Hadimuljono bersama Direktur PT Pamapersada Nusantara Abdul Nasir Maksum dan General Manager CSRGS Division PT Pamapersada Nusantara Puguh Sasetyo saat peluncuran PAMA Eco-Edu Forest di IKN, Kamis (20/11/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
PENAJAM PASER UTARA - PT Pamapersada Nusantara (PAMA) resmi meluncurkan PAMA Eco-Edu Forest di Ibu Kota Nusantara (IKN) , Kalimantan Timur, Kamis (20/11/2025). Sebuah program pengelolaan keanekaragaman hayati yang dirancang sebagai ruang pembelajaran, pusat riset, sekaligus wahana restorasi ekosistem yang berpihak pada keberlanjutan.
Program ini dikembangkan melalui kolaborasi multipihak bersama Universitas Gadjah Mada (UGM), Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), serta masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari upaya memperkuat tata kelola keanekaragaman hayati di kawasan IKN melalui sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas lokal.
Direktur PT Pamapersada Nusantara, Abdul Nasir Maksum mengatakan, peluncuran program ini merupakan wujud keseriusan PAMA dalam mendorong konservasi yang holistik dan inklusif. Melalui PAMA Eco-Edu Forest, ia ingin mengajak seluruh pihak untuk melihat hutan bukan hanya sebagai ruang hijau, tetapi sebagai laboratorium alam yang hidup. Baca juga: Basuki Lapor Progres IKN ke Istana, Persiapan Jadi Ibu Kota Politik 2028
”Tempat tumbuhnya ilmu pengetahuan, inovasi, nilai sosial budaya, dan kesadaran ekologis. Keberhasilan pengelolaan keanekaragaman hayati hanya dapat terwujud bila kita melangkah bersama, saling menguatkan, dan saling belajar,” katanya.
Ia menambahkan kerja sama yang telah terjalin selama dua tahun terakhir dengan UGM, OIKN, dan para pemangku kepentingan menjadi fondasi kokoh bagi pengembangan model Eco-Edu Forest berbasis riset dan community engagement. Kolaborasi ini diharapkan menghadirkan praktik terbaik dalam konservasi dan pendidikan lingkungan di kawasan IKN.
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara(OIKN) Basuki Hadimuljono menyambut baik hadirnya program ini sebagai bagian dari implementasi visi IKN sebagai kota hutan berkelanjutan. Ia menjelaskan, IKN dibangun dengan visi sebagai kota hutan yang modern dan berkelanjutan. Kehadiran PAMA Eco-Edu Forest semakin memperkuat ekosistem konservasi yang kami dorong di kawasan ini.
”Kami mengapresiasi inisiatif PAMA dalam menciptakan ruang edukasi alam yang melibatkan masyarakat dan dunia akademik. Kolaborasi seperti ini penting agar pembangunan IKN tetap berpihak pada keberlanjutan ekologis,” ungkapnya.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menjaga keberlanjutan kawasan hutan. UGM melihat PAMA Eco-Edu Forest sebagai model kolaborasi ideal antara dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Pendekatan berbasis riset dan restorasi ekologis sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlanjutan kawasan hutan. ”Kami berharap program ini menjadi laboratorium alam yang dapat melahirkan inovasi dan sumber daya manusia unggul di bidang kehutanan dan konservasi,” ujarnya.
Program ini dikembangkan di lahan seluas 100 hektare di Wanagama Nusantara, yang dirancang sebagai pusat konservasi dan pendidikan lingkungan. Di dalamnya, PAMA menekankan pentingnya penangkaran satwa dilindungi seperti rusa sambar untuk memulihkan populasi spesies rentan serta menjaga fungsi ekologis satwa kunci dalam ekosistem hutan.
Selain itu, kegiatan enrichment planting dilakukan untuk memperkaya kembali keragaman pohon. Terutama spesies lokal bernilai ekologis seperti meranti dan durian Kalimantan, sehingga hutan dapat pulih lebih cepat dan mampu menyediakan habitat yang lebih baik bagi flora dan fauna.
Infrastruktur pendukung seperti kantor pengelola dan pusat informasi juga disiapkan agar Wanagama Nusantara dapat berfungsi secara optimal sebagai laboratorium alam yang nyaman bagi kegiatan riset, edukasi, dan konservasi masyarakat. Lebih dari sekadar upaya pelestarian, PAMA Eco-Edu Forest membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat aktif melalui program volunteer dan riset lapangan. Baca juga: Ahli IPB Sebut Hewan Ini Jadi Kekayaan Hayati Indonesia Satu-Satunya di Dunia
Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau perusahaan. PAMA Eco-Edu Forest merupakan bagian dari komitmen PAMA dalam menjalankan PAMA Sustainability Aspiration, arah strategis perusahaan untuk menghadirkan kinerja berkelanjutan berdasarkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Melalui pilar Environmental, PAMA berupaya membangun ekosistem operasional yang rendah emisi, efisien dalam penggunaan sumber daya, serta mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pemulihan fungsi ekologis. Terutama di area-area yang memiliki nilai penting bagi konservasi keanekaragaman hayati.
Program ini dikembangkan melalui kolaborasi multipihak bersama Universitas Gadjah Mada (UGM), Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), serta masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari upaya memperkuat tata kelola keanekaragaman hayati di kawasan IKN melalui sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas lokal.
Direktur PT Pamapersada Nusantara, Abdul Nasir Maksum mengatakan, peluncuran program ini merupakan wujud keseriusan PAMA dalam mendorong konservasi yang holistik dan inklusif. Melalui PAMA Eco-Edu Forest, ia ingin mengajak seluruh pihak untuk melihat hutan bukan hanya sebagai ruang hijau, tetapi sebagai laboratorium alam yang hidup. Baca juga: Basuki Lapor Progres IKN ke Istana, Persiapan Jadi Ibu Kota Politik 2028
”Tempat tumbuhnya ilmu pengetahuan, inovasi, nilai sosial budaya, dan kesadaran ekologis. Keberhasilan pengelolaan keanekaragaman hayati hanya dapat terwujud bila kita melangkah bersama, saling menguatkan, dan saling belajar,” katanya.
Ia menambahkan kerja sama yang telah terjalin selama dua tahun terakhir dengan UGM, OIKN, dan para pemangku kepentingan menjadi fondasi kokoh bagi pengembangan model Eco-Edu Forest berbasis riset dan community engagement. Kolaborasi ini diharapkan menghadirkan praktik terbaik dalam konservasi dan pendidikan lingkungan di kawasan IKN.
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara(OIKN) Basuki Hadimuljono menyambut baik hadirnya program ini sebagai bagian dari implementasi visi IKN sebagai kota hutan berkelanjutan. Ia menjelaskan, IKN dibangun dengan visi sebagai kota hutan yang modern dan berkelanjutan. Kehadiran PAMA Eco-Edu Forest semakin memperkuat ekosistem konservasi yang kami dorong di kawasan ini.
”Kami mengapresiasi inisiatif PAMA dalam menciptakan ruang edukasi alam yang melibatkan masyarakat dan dunia akademik. Kolaborasi seperti ini penting agar pembangunan IKN tetap berpihak pada keberlanjutan ekologis,” ungkapnya.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menjaga keberlanjutan kawasan hutan. UGM melihat PAMA Eco-Edu Forest sebagai model kolaborasi ideal antara dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Pendekatan berbasis riset dan restorasi ekologis sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlanjutan kawasan hutan. ”Kami berharap program ini menjadi laboratorium alam yang dapat melahirkan inovasi dan sumber daya manusia unggul di bidang kehutanan dan konservasi,” ujarnya.
Program ini dikembangkan di lahan seluas 100 hektare di Wanagama Nusantara, yang dirancang sebagai pusat konservasi dan pendidikan lingkungan. Di dalamnya, PAMA menekankan pentingnya penangkaran satwa dilindungi seperti rusa sambar untuk memulihkan populasi spesies rentan serta menjaga fungsi ekologis satwa kunci dalam ekosistem hutan.
Selain itu, kegiatan enrichment planting dilakukan untuk memperkaya kembali keragaman pohon. Terutama spesies lokal bernilai ekologis seperti meranti dan durian Kalimantan, sehingga hutan dapat pulih lebih cepat dan mampu menyediakan habitat yang lebih baik bagi flora dan fauna.
Infrastruktur pendukung seperti kantor pengelola dan pusat informasi juga disiapkan agar Wanagama Nusantara dapat berfungsi secara optimal sebagai laboratorium alam yang nyaman bagi kegiatan riset, edukasi, dan konservasi masyarakat. Lebih dari sekadar upaya pelestarian, PAMA Eco-Edu Forest membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat aktif melalui program volunteer dan riset lapangan. Baca juga: Ahli IPB Sebut Hewan Ini Jadi Kekayaan Hayati Indonesia Satu-Satunya di Dunia
Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau perusahaan. PAMA Eco-Edu Forest merupakan bagian dari komitmen PAMA dalam menjalankan PAMA Sustainability Aspiration, arah strategis perusahaan untuk menghadirkan kinerja berkelanjutan berdasarkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Melalui pilar Environmental, PAMA berupaya membangun ekosistem operasional yang rendah emisi, efisien dalam penggunaan sumber daya, serta mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pemulihan fungsi ekologis. Terutama di area-area yang memiliki nilai penting bagi konservasi keanekaragaman hayati.
(poe)
Lihat Juga :