Dihantam Dua Tragedi Besar, Freeport Gagal Capai Target 2025
Senin, 24 November 2025 - 12:23 WIB
loading...
PT Freeport Indonesia (PTFI) menyampaikan bahwa kinerja produksi dan penjualan tahun 2025 dipastikan tidak mencapai target yang telah ditetapkan dalam RKAB imbas dua tragedi besar. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) menyampaikan bahwa kinerja produksi dan penjualan tahun 2025 dipastikan tidak mencapai target yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Produksi tembaga diperkirakan hanya 70%, sedangkan emas 50% dari target.
Direktur Utama PTFI, Tony Wenas menjelaskan, bahwa dua insiden besar yang terjadi sepanjang 2025 menyebabkan turunnya kapasitas produksi, baik untuk tembaga maupun emas. Kedua insiden tersebut ialah kebakaran yang terjadi di Smelter PTFI di Semester I 2025, dan longsornya tambang Grasberg Cave (GBC) pada 8 September lalu.
Berdasarkan pemaparannya dalam RDP Bersama Komisi VI DPR RI, volume penjualan tembaga tahun 2025 diproyeksikan hanya mencapai 537 ribu ton, atau 70% dari target RKAB sebesar 770 ribu ton. Sementara penjualan emas diperkirakan berada pada angka 33 ton, hanya 50% dari target 67 ton.
Baca Juga: Pasca Longsor, Operasional Tambang Freeport Masih Menunggu Hasil Audit
"Kebakaran yang terjadi di smelter PTFI pada awal tahun berdampak langsung pada inventori konsentrat di Timika. Akibatnya, operasi penambangan harus dikurangi hingga sekitar 40 persen dari kapasitas normal pada triwulan pertama," kata Tony dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Senin (24/11/2025).
Tony menambahkan, kinerja pada semester II juga kembali terganggu oleh kejadian luncuran material basah di area tambang Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025. Insiden tersebut membuat perusahaan tidak mampu mengejar ketertinggalan produksi.
"Ini menyebabkan kami berhenti produksi di tambang bawah tanah , kami fokus pada pencarian ke 7 orang karyawan kami yang terperangkap, yang menyebabkan kami berhenti produksi itu hampir 50 hari. Pada 28 Oktober, baru kemudian atas diskusi dengan Kementerian ESDM, untuk mengoperasikan kembali tambang bawah tanah," sambungnya.
Ditegaskan juga bahwa Freeport terus melakukan langkah pemulihan, baik di smelter maupun tambang GBC, agar produksi dapat kembali pada level normal.
Namun demikian, meski produksi turun diperkirakan pendapatan PTFI diproyeksikan akan tetap berada di level lebih tinggi dari target, yakni yakni USD4,1 miliar, atau 117% dari target USD3,7 miliar. Hal ini terjadi karena lonjakan harga emas dan tembaga. Harga tembaga diproyeksikan 19 persen lebih tinggi dari RKAB 2025, sementara harga emas 80 persen lebih tinggi dari target RKAB 2025.
Tony mengatakan, kenaikan harga komoditas dunia membuat pendapatan Freeport masih berada di level kuat. Penjualan diproyeksikan mencapai USD8,05 miliar, atau 82% dari target USD10,4 miliar.
Baca Juga: Hasil Final Negosiasi 6 Bulan, Freeport Sepakat Beri 12% Saham Gratis ke Pemerintah
"Jadi kalau kita lihat produksi hanya 70 persen untuk tembaga, tapi pendapatannya bisa naik 19 persen, total 119 persen. Emas juga, di RKAB proyeksi harga emas USD1900/0z, tapi kita cek harganya masih di USD3.000/oz. Jadi pendapatan masih tetap tinggi, padahal produksi berkurang sekitar separuhnya," pungkasnya.
Direktur Utama PTFI, Tony Wenas menjelaskan, bahwa dua insiden besar yang terjadi sepanjang 2025 menyebabkan turunnya kapasitas produksi, baik untuk tembaga maupun emas. Kedua insiden tersebut ialah kebakaran yang terjadi di Smelter PTFI di Semester I 2025, dan longsornya tambang Grasberg Cave (GBC) pada 8 September lalu.
Berdasarkan pemaparannya dalam RDP Bersama Komisi VI DPR RI, volume penjualan tembaga tahun 2025 diproyeksikan hanya mencapai 537 ribu ton, atau 70% dari target RKAB sebesar 770 ribu ton. Sementara penjualan emas diperkirakan berada pada angka 33 ton, hanya 50% dari target 67 ton.
Baca Juga: Pasca Longsor, Operasional Tambang Freeport Masih Menunggu Hasil Audit
"Kebakaran yang terjadi di smelter PTFI pada awal tahun berdampak langsung pada inventori konsentrat di Timika. Akibatnya, operasi penambangan harus dikurangi hingga sekitar 40 persen dari kapasitas normal pada triwulan pertama," kata Tony dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Senin (24/11/2025).
Tony menambahkan, kinerja pada semester II juga kembali terganggu oleh kejadian luncuran material basah di area tambang Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025. Insiden tersebut membuat perusahaan tidak mampu mengejar ketertinggalan produksi.
"Ini menyebabkan kami berhenti produksi di tambang bawah tanah , kami fokus pada pencarian ke 7 orang karyawan kami yang terperangkap, yang menyebabkan kami berhenti produksi itu hampir 50 hari. Pada 28 Oktober, baru kemudian atas diskusi dengan Kementerian ESDM, untuk mengoperasikan kembali tambang bawah tanah," sambungnya.
Ditegaskan juga bahwa Freeport terus melakukan langkah pemulihan, baik di smelter maupun tambang GBC, agar produksi dapat kembali pada level normal.
Namun demikian, meski produksi turun diperkirakan pendapatan PTFI diproyeksikan akan tetap berada di level lebih tinggi dari target, yakni yakni USD4,1 miliar, atau 117% dari target USD3,7 miliar. Hal ini terjadi karena lonjakan harga emas dan tembaga. Harga tembaga diproyeksikan 19 persen lebih tinggi dari RKAB 2025, sementara harga emas 80 persen lebih tinggi dari target RKAB 2025.
Tony mengatakan, kenaikan harga komoditas dunia membuat pendapatan Freeport masih berada di level kuat. Penjualan diproyeksikan mencapai USD8,05 miliar, atau 82% dari target USD10,4 miliar.
Baca Juga: Hasil Final Negosiasi 6 Bulan, Freeport Sepakat Beri 12% Saham Gratis ke Pemerintah
"Jadi kalau kita lihat produksi hanya 70 persen untuk tembaga, tapi pendapatannya bisa naik 19 persen, total 119 persen. Emas juga, di RKAB proyeksi harga emas USD1900/0z, tapi kita cek harganya masih di USD3.000/oz. Jadi pendapatan masih tetap tinggi, padahal produksi berkurang sekitar separuhnya," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :