Pasca Digulung Longsor, Tambang Emas Grasberg Cave Freeport Baru Beroperasi 100% di 2026
Senin, 24 November 2025 - 14:17 WIB
loading...
Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas menerangkan, tambang emas Grasberg Cave (GBC) baru akan beroperasi 100% pada triwulan II 2026, setelah insiden longsor. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas menerangkan, tambang emas Grasberg Block Cave (GBC) baru akan beroperasi 100%pada triwulan II 2026, setelah insiden longsor yang terjadi pada 8 September 2025 lalu. Ia mengatakan insiden longsoran tersebut berdampak pada penurunan produksi emas secara signifikan.
Bahkan pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2025, target penjualan emas sudah dipastikan tidak tercapai, atau hanya 33 ribu ton alias 50% dari target 67 ribu ton. Baca Juga: Pasca Longsor, Operasional Tambang Freeport Masih Menunggu Hasil Audit
"Longsor ini menyebabkan kami berhenti produksi di tambang bawah tanah, kami fokus pada pencarian ke 7 orang karyawan kami yang terperangkap, yang menyebabkan kami berhenti produksi itu hampir 50 hari. Pada 28 Oktober, baru kemudian atas diskusi dengan Kementerian ESDM, untuk mengoperasikan kembali tambang bawah tanah," kata Tony dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Senin (24/11/2025).
Tony menjelaskan, hingga akhir tahun 2025 ini diproyeksikan produksi emas dari tambang Grasberg masih berada di angka 80 persen dari kapasitas produksi. Masih diperlukan upaya pembersihan dan pemulihan infrastruktur terdampak longsoran.
Progres pembersihan dan pemulihan infrastruktur tersebut akan berlangsung hingga kuartal II 2026 mendatang, sebelum tambang akhirnya Grasberg kembali beroperasi 100%.
"Selanjutnya rencana kerja untuk pengoperasian grasberg ini di bulan November dan Desember melakukan pembersihan, kemudian persiapan infrastruktur, karena pada saat longsoran terjadi banyak infrastruktur yang juga rusak, dan memerlukan waktu sebelum kami memulai operasional," lanjutnya.
Baca Juga: 12% Saham Freeport Diserahkan Gratis ke Pemerintah, Bos Danantara: Hasil Nego
Meski demikian, Tony memastikan kinerja keuangan perseroan masih tetap terjaga ditopang dari kenaikan harga komoditas secara global. Meskipun produksi emas menurun hampir setengahnya, namun harga emas diproyeksikan 80% lebih tinggi dari target RKAB.
"Emas juga, di RKAB proyeksi harga emas USD1.900/0z, tapi kita cek harganya masih di USD3.000/oz. Jadi pendapatan masih tetap tinggi, padahal produksi berkurang sekitar separuhnya," pungkasnya.
Bahkan pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2025, target penjualan emas sudah dipastikan tidak tercapai, atau hanya 33 ribu ton alias 50% dari target 67 ribu ton. Baca Juga: Pasca Longsor, Operasional Tambang Freeport Masih Menunggu Hasil Audit
"Longsor ini menyebabkan kami berhenti produksi di tambang bawah tanah, kami fokus pada pencarian ke 7 orang karyawan kami yang terperangkap, yang menyebabkan kami berhenti produksi itu hampir 50 hari. Pada 28 Oktober, baru kemudian atas diskusi dengan Kementerian ESDM, untuk mengoperasikan kembali tambang bawah tanah," kata Tony dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Senin (24/11/2025).
Tony menjelaskan, hingga akhir tahun 2025 ini diproyeksikan produksi emas dari tambang Grasberg masih berada di angka 80 persen dari kapasitas produksi. Masih diperlukan upaya pembersihan dan pemulihan infrastruktur terdampak longsoran.
Progres pembersihan dan pemulihan infrastruktur tersebut akan berlangsung hingga kuartal II 2026 mendatang, sebelum tambang akhirnya Grasberg kembali beroperasi 100%.
"Selanjutnya rencana kerja untuk pengoperasian grasberg ini di bulan November dan Desember melakukan pembersihan, kemudian persiapan infrastruktur, karena pada saat longsoran terjadi banyak infrastruktur yang juga rusak, dan memerlukan waktu sebelum kami memulai operasional," lanjutnya.
Baca Juga: 12% Saham Freeport Diserahkan Gratis ke Pemerintah, Bos Danantara: Hasil Nego
Meski demikian, Tony memastikan kinerja keuangan perseroan masih tetap terjaga ditopang dari kenaikan harga komoditas secara global. Meskipun produksi emas menurun hampir setengahnya, namun harga emas diproyeksikan 80% lebih tinggi dari target RKAB.
"Emas juga, di RKAB proyeksi harga emas USD1.900/0z, tapi kita cek harganya masih di USD3.000/oz. Jadi pendapatan masih tetap tinggi, padahal produksi berkurang sekitar separuhnya," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :