Efisiensi Logistik Jadi Kunci Ketahanan dan Transisi Energi Nasional
Jum'at, 28 November 2025 - 21:31 WIB
loading...
Efisiensi logistik energi akan menjadi kunci dalam menjaga keandalan pasokan melalui pembangunan infrastruktur gas alam cair. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat efisiensi rantai pasok energi nasional melalui integrasi logistik batu bara, gas, dan bioenergi untuk mendukung pertumbuhan kebutuhan listrik nasional yang diperkirakan mencapai 5.3 persen per tahun sampai dengan 2034.
Langkah strategis ini menjadi fondasi penting dalam memastikan pasokan energi primer yang semakin andal dan efisien sekaligus mempercepat transisi energi. Penegasan tersebut disampaikan Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto dalam Indonesia Logistics Leaders Forum 2025 yang merupakan rangkaian ALFI Convex 2025 di ICE BSD City, Tangerang. Rakhmad menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan listrik didorong oleh pesatnya pertumbuhan pusat data, hilirisasi, kendaraan listrik, serta elektrifikasi rumah tangga.
"Dengan pertumbuhan sebesar 5,3 persen per tahun, kebutuhan energi terus meningkat. Tahun ini kami mengelola hampir 100 juta ton batu bara, sekitar 1,4 miliar kaki kubik gas per hari termasuk 90 kargo LNG, serta 4 juta kiloliter BBM dan 2.6 juta ton biomassa," ujar Rakhmad dalam pernyataannya, Jumat (28/11/2025).
Baca Juga: Gas Tetap Jadi Pilar Transisi Energi, Tantangan Pasokan dan Infrastruktur Masih Besar
Ia menambahkan bahwa efisiensi logistik energi akan menjadi kunci dalam menjaga keandalan pasokan melalui pembangunan infrastruktur midstream gas/gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) maupun bioenergi/biomassa.
"Saat ini, kami telah berhasil membangun mini regas LNG di Tarakan dan sedang membangun jaringan regasifikasi LNG di Nias, Sulawesi Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua Utara dengan skema milk and run atau hub and spoke. Sistem ini akan menciptakan virtual pipeline gas nasional yang membuka peluang bagi smelter, petrokimia, dan kawasan industri di luar Jawa serta sektor komersial," jelasnya.
Selain gas, PLN EPI juga memperkuat ekosistem bioenergi melalui pengembangan aplikasi digital biomass marketplace yang menghubungkan pemasok, agregator, pemilik fasilitas produksi dan pembangkit listrik. Potensi bioenergi nasional mencapai 80-130 juta ton per tahun.
"Kebutuhan bioenergi PLN Group sekitar 10 juta ton. Platform digital ini didesain untuk mempermudah keterlibatan pemasok bioenergi termasuk kelompok tani lokal dan usaha kecil untuk meningkatkan efisiensi logistik, dan memastikan kualitas pasokan," imbuhnya.
Baca Juga: Gas Jadi Pilar Transisi Energi dan Keandalan Listrik Nasional
Rakhmad menambahkan bahwa percepatan efisiensi logistik energi perlu terus ditingkatkan. “Semakin cepat kita mengintegrasikan teknologi, kolaborasi, dan standar logistik modern, semakin besar dampaknya bagi keandalan sistem pasokan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.
Forum logistik ini juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi global dan penerapan teknologi seperti digital supply chain, automation, dan AI-based planning untuk memperkuat daya saing logistik Indonesia. Indonesia perlu mempercepat integrasi rantai pasok lintas moda, peningkatan standar keamanan, dan penggunaan data real time untuk menekan biaya logistik yang masih sekitar 14,3 persen dari PDB.
Langkah strategis ini menjadi fondasi penting dalam memastikan pasokan energi primer yang semakin andal dan efisien sekaligus mempercepat transisi energi. Penegasan tersebut disampaikan Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto dalam Indonesia Logistics Leaders Forum 2025 yang merupakan rangkaian ALFI Convex 2025 di ICE BSD City, Tangerang. Rakhmad menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan listrik didorong oleh pesatnya pertumbuhan pusat data, hilirisasi, kendaraan listrik, serta elektrifikasi rumah tangga.
"Dengan pertumbuhan sebesar 5,3 persen per tahun, kebutuhan energi terus meningkat. Tahun ini kami mengelola hampir 100 juta ton batu bara, sekitar 1,4 miliar kaki kubik gas per hari termasuk 90 kargo LNG, serta 4 juta kiloliter BBM dan 2.6 juta ton biomassa," ujar Rakhmad dalam pernyataannya, Jumat (28/11/2025).
Baca Juga: Gas Tetap Jadi Pilar Transisi Energi, Tantangan Pasokan dan Infrastruktur Masih Besar
Ia menambahkan bahwa efisiensi logistik energi akan menjadi kunci dalam menjaga keandalan pasokan melalui pembangunan infrastruktur midstream gas/gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) maupun bioenergi/biomassa.
"Saat ini, kami telah berhasil membangun mini regas LNG di Tarakan dan sedang membangun jaringan regasifikasi LNG di Nias, Sulawesi Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua Utara dengan skema milk and run atau hub and spoke. Sistem ini akan menciptakan virtual pipeline gas nasional yang membuka peluang bagi smelter, petrokimia, dan kawasan industri di luar Jawa serta sektor komersial," jelasnya.
Selain gas, PLN EPI juga memperkuat ekosistem bioenergi melalui pengembangan aplikasi digital biomass marketplace yang menghubungkan pemasok, agregator, pemilik fasilitas produksi dan pembangkit listrik. Potensi bioenergi nasional mencapai 80-130 juta ton per tahun.
"Kebutuhan bioenergi PLN Group sekitar 10 juta ton. Platform digital ini didesain untuk mempermudah keterlibatan pemasok bioenergi termasuk kelompok tani lokal dan usaha kecil untuk meningkatkan efisiensi logistik, dan memastikan kualitas pasokan," imbuhnya.
Baca Juga: Gas Jadi Pilar Transisi Energi dan Keandalan Listrik Nasional
Rakhmad menambahkan bahwa percepatan efisiensi logistik energi perlu terus ditingkatkan. “Semakin cepat kita mengintegrasikan teknologi, kolaborasi, dan standar logistik modern, semakin besar dampaknya bagi keandalan sistem pasokan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.
Forum logistik ini juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi global dan penerapan teknologi seperti digital supply chain, automation, dan AI-based planning untuk memperkuat daya saing logistik Indonesia. Indonesia perlu mempercepat integrasi rantai pasok lintas moda, peningkatan standar keamanan, dan penggunaan data real time untuk menekan biaya logistik yang masih sekitar 14,3 persen dari PDB.
(nng)
Lihat Juga :