Rubi Handojo Paparkan Penguatan Ketahanan Risiko Jasa Raharja
Jum'at, 05 Desember 2025 - 22:07 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahap ini, Jasa Raharja berfokus untuk memastikan setiap aspek operasional, termasuk proses layanan dan manajemen risiko finansial, berjalan dengan prinsip kehati-hatian dan ketepatan. Lebih lanjut, Rubi menegaskan bahwa manusia merupakan modal utama dalam membangun ketahanan organisasi.
Jasa Raharja menjalankan serangkaian program pengembangan SDM yang berorientasi pada risiko. Mulai dari pembentukan insan Jasa Raharja yang tangguh dalam menghadapi risiko, penanaman pemikiran risiko sejak proses orientasi, peningkatan keterampilan melalui program reskilling dan upskilling, hingga penguatan kapabilitas analitik untuk mengantisipasi pola risiko baru.
“Ketahanan risiko dibentuk oleh orang-orang yang menjalankannya. Budaya kerja yang kuat, pemikiran risiko yang matang, dan kompetensi yang relevan adalah kunci agar organisasi mampu bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian. Jasa Raharja berkinerja melampaui tugas menjadi mandatnya dengan tetap selaras dengan penerapan prinsip-prinsip GRC.” tambahnya. Baca juga: Hari Sadar Risiko Nasional 2025, Bappenas Sebut Pentingnya Penerapan MRPN
Sebagai penutup, Rubi menyampaikan sejumlah pencapaian yang menjadi bukti penguatan tata kelola risiko Jasa Raharja. Di antaranya adalah pencapaian Risk Maturity Index pada level 4,2 (Fase Praktik yang Lebih Baik) serta rating idAAA, yang mencerminkan kualitas tata kelola dan ketahanan operasional perusahaan. Jasa Raharja juga meraih beberapa penghargaan terkait manajemen risiko, di antaranya adalah Public Initiatives Award di ajang ASEAN Risk Award (ARA) 2025 sebagai pengakuan regional atas komitmen perusahaan dalam penguatan manajemen risiko.
Partisipasi Jasa Raharja dalam konferensi ini menjadi kesempatan untuk berbagi praktik, pengalaman, dan perspektif kepada audiens dalam konferensi tersebut. Melalui sesi ini, Jasa Raharja turut memperkaya wawasan bersama mengenai penerapan manajemen risiko di sektor publik, sekaligus memperoleh pandangan baru dari berbagai pihak yang berkontribusi dalam pengembangan tata kelola risiko di tingkat regional.
Jasa Raharja menjalankan serangkaian program pengembangan SDM yang berorientasi pada risiko. Mulai dari pembentukan insan Jasa Raharja yang tangguh dalam menghadapi risiko, penanaman pemikiran risiko sejak proses orientasi, peningkatan keterampilan melalui program reskilling dan upskilling, hingga penguatan kapabilitas analitik untuk mengantisipasi pola risiko baru.
“Ketahanan risiko dibentuk oleh orang-orang yang menjalankannya. Budaya kerja yang kuat, pemikiran risiko yang matang, dan kompetensi yang relevan adalah kunci agar organisasi mampu bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian. Jasa Raharja berkinerja melampaui tugas menjadi mandatnya dengan tetap selaras dengan penerapan prinsip-prinsip GRC.” tambahnya. Baca juga: Hari Sadar Risiko Nasional 2025, Bappenas Sebut Pentingnya Penerapan MRPN
Sebagai penutup, Rubi menyampaikan sejumlah pencapaian yang menjadi bukti penguatan tata kelola risiko Jasa Raharja. Di antaranya adalah pencapaian Risk Maturity Index pada level 4,2 (Fase Praktik yang Lebih Baik) serta rating idAAA, yang mencerminkan kualitas tata kelola dan ketahanan operasional perusahaan. Jasa Raharja juga meraih beberapa penghargaan terkait manajemen risiko, di antaranya adalah Public Initiatives Award di ajang ASEAN Risk Award (ARA) 2025 sebagai pengakuan regional atas komitmen perusahaan dalam penguatan manajemen risiko.
Partisipasi Jasa Raharja dalam konferensi ini menjadi kesempatan untuk berbagi praktik, pengalaman, dan perspektif kepada audiens dalam konferensi tersebut. Melalui sesi ini, Jasa Raharja turut memperkaya wawasan bersama mengenai penerapan manajemen risiko di sektor publik, sekaligus memperoleh pandangan baru dari berbagai pihak yang berkontribusi dalam pengembangan tata kelola risiko di tingkat regional.
(poe)
Lihat Juga :