Hashim Beberkan Potensi Kapasitas Penyimpanan Karbon di Indonesia
Sabtu, 06 Desember 2025 - 15:06 WIB
loading...
Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan, bahwa Indonesia memiliki potensi Carbon Capture and Storage (CCS) yang luar biasa. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan, bahwa Indonesia memiliki potensi Carbon Capture and Storage (CCS) yang luar biasa. Hal ini ia sampaikan dalam acara Investing on Climate yang berlangsung di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (5/12).
Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer. Baca Juga: Pertamina dan ExxonMobil Menjajaki Pengembangan Carbon Capture Storage Hub
Menurut Hashim, struktur geologi Indonesia memberikan peluang besar untuk menjadi kekuatan global dalam penyimpanan karbon. Tak tanggung-tanggung, Hashim menyebut Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan karbon mencapai 500 hingga 700 gigaton.
"Dan ternyata Indonesia punya potensi untuk jadi super power CCS. Kenapa? Karena ternyata Indonesia ini kita punya banyak rongga-rongga di bawah tanah dan di bawah laut. Dan kita punya potensi 500 sampai 700 gigaton," jelasnya.
Lebih lanjut Hashim mengungkapkan, saat ini, beberapa proyek besar tengah berjalan, termasuk proyek kolaborasi ExxonMobil dan Pertamina yang memanfaatkan rongga bawah laut sekitar 100 kilometer dari lepas pantai utara Banten, memiliki estimasi kapasitas sebanyak 3 gigaton.
Baca Juga: Carbon Capture Storage Sebagai Pendorong Perekonomian Indonesia: Memanfaatkan Potensi untuk Masa Depan Hijau
Hashim juga mengambil contoh proyek CCS di Arun, Aceh, yang memanfaatkan rongga bekas ladang gas Arun dengan kapasitas penyimpanannya diperkirakan mencapai 1 gigaton. "Masih ada potensi 500 sampai 700 gigaton lainnya. So Indonesia banyak prospek, potensi besar, saya optimis," tegasnya.
Namun begitu, Hashim menekankan bahwa pencapaian besar ini sangat bergantung pada implementasi kebijakan pemerintah. "Tapi terus terang ini semua tergantung pada implementasi. Ini tergantung pada pelaksanaan program-program pelaksanaan dan pelaksanaan dari visi dari Presiden dan Pemerintah," pungkasnya.
Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer. Baca Juga: Pertamina dan ExxonMobil Menjajaki Pengembangan Carbon Capture Storage Hub
Menurut Hashim, struktur geologi Indonesia memberikan peluang besar untuk menjadi kekuatan global dalam penyimpanan karbon. Tak tanggung-tanggung, Hashim menyebut Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan karbon mencapai 500 hingga 700 gigaton.
"Dan ternyata Indonesia punya potensi untuk jadi super power CCS. Kenapa? Karena ternyata Indonesia ini kita punya banyak rongga-rongga di bawah tanah dan di bawah laut. Dan kita punya potensi 500 sampai 700 gigaton," jelasnya.
Lebih lanjut Hashim mengungkapkan, saat ini, beberapa proyek besar tengah berjalan, termasuk proyek kolaborasi ExxonMobil dan Pertamina yang memanfaatkan rongga bawah laut sekitar 100 kilometer dari lepas pantai utara Banten, memiliki estimasi kapasitas sebanyak 3 gigaton.
Baca Juga: Carbon Capture Storage Sebagai Pendorong Perekonomian Indonesia: Memanfaatkan Potensi untuk Masa Depan Hijau
Hashim juga mengambil contoh proyek CCS di Arun, Aceh, yang memanfaatkan rongga bekas ladang gas Arun dengan kapasitas penyimpanannya diperkirakan mencapai 1 gigaton. "Masih ada potensi 500 sampai 700 gigaton lainnya. So Indonesia banyak prospek, potensi besar, saya optimis," tegasnya.
Namun begitu, Hashim menekankan bahwa pencapaian besar ini sangat bergantung pada implementasi kebijakan pemerintah. "Tapi terus terang ini semua tergantung pada implementasi. Ini tergantung pada pelaksanaan program-program pelaksanaan dan pelaksanaan dari visi dari Presiden dan Pemerintah," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :