Tekan Biaya Operasional, AI Perlu Dimanfaatkan dalam Perawatan Aset Migas
Minggu, 07 Desember 2025 - 15:47 WIB
loading...
Bedah Buku Cara Hebat Merawat Aset di Jakarta, Sabtu (6/12). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Aging Assets atau set yang menua cenderung meningkatkan biaya operasional (operational expenditures/OPEX) dan pengeluaran modal (capital expenditures/CAPEX) karena memerlukan biaya tambahan yang tidak terduga.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional Taufik Aditiyawarman dalam acara Bedah Buku "Cara Hebat Merawat Aset" di Jakarta, Sabtu (6/12), mengatakan bahwa aging assets juga dapat mengacaukan perencanaan bisnis akibat penghentian produksi (cessation of production/CoP) dan penghentian operasi.
Persoalannya, imbuh dia, studi yang dilakukan Business Wire mengungkapkan bahwa lebih dari 70% perusahaan masih belum memiliki kesadaran penuh terhadap jadwal perawatan, peningkatan, atau penggantian peralatan. "Kurangnya pemahaman ini berisiko memperpanjang waktu henti operasional serta memperburuk efisiensi dan keselamatan kerja,” kata Taufik.
Baca Juga: Reformasi Perizinan dan Efisiensi Rantai Suplai Jadi Fokus SKK Migas di 2026
Terkait dengan itu, lanjut Taufik, aging assets harus disikapi bukan sebagai sebuah masalah, namun sebuah tantangan yang perlu dicarikan solusinya dalam rangka menjaga aset tersebut tetap produktif secara optimal dan aman dalam kaitannya dengan keselamatan kerja. Salah satu solusinya adalah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) dalam pemeliharaan aset.
“Perkembangan teknologi kecerdasan buatan bukanlah ancaman bagi ketersediaan lapangan kerja. AI hanyalah sebatas alat yang perlu dipelajari sebagai bekal untuk analisa dan pengambilan keputusan terkait faktor-faktor produksi agar lebih efektif, efisien, serta meningkatkan profitabilitas dan keberlanjutan bisnis,” tuturnya.
Baca Juga: Buktikan Potensi Baru di Lapangan Tua, PHE ONWJ Hasilkan Uji Produksi 1.097 BOPD
Kunci pemanfaatan AI, lanjut Taufik, adalah Big Data yang valid dan representatif, sehingga diperlukan adanya suatu kolaborasi yang terintegrasi antar-stakeholder dalam penyediaan data secara voluntary. Sehingga, data menjadi lebih berkualitas dan accessible untuk pengembangan oleh masing-masing kontributor/pemangku kepentingan.
“Buku ini diharapkan dapat menjadi kontribusi penulis dalam diskursus ilmiah terkait AI, serta menjadi pemantik pengembangan dan pemanfaatan AI lebih lanjut dalam industri migas pada khususnya dan industri-industri lain secara umum,” tutup Taufik.
Dalam acara bedah buku yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) dan Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Indonesia (Aspermigas) ini, hadir pula sebagai penanggap, Sekretaris Jenderal Aspermigas Elan Biantoro, serta Guru Besar Tetap Fakultas Teknik Universitas Indonesia Johny Wahyuadi.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional Taufik Aditiyawarman dalam acara Bedah Buku "Cara Hebat Merawat Aset" di Jakarta, Sabtu (6/12), mengatakan bahwa aging assets juga dapat mengacaukan perencanaan bisnis akibat penghentian produksi (cessation of production/CoP) dan penghentian operasi.
Persoalannya, imbuh dia, studi yang dilakukan Business Wire mengungkapkan bahwa lebih dari 70% perusahaan masih belum memiliki kesadaran penuh terhadap jadwal perawatan, peningkatan, atau penggantian peralatan. "Kurangnya pemahaman ini berisiko memperpanjang waktu henti operasional serta memperburuk efisiensi dan keselamatan kerja,” kata Taufik.
Baca Juga: Reformasi Perizinan dan Efisiensi Rantai Suplai Jadi Fokus SKK Migas di 2026
Terkait dengan itu, lanjut Taufik, aging assets harus disikapi bukan sebagai sebuah masalah, namun sebuah tantangan yang perlu dicarikan solusinya dalam rangka menjaga aset tersebut tetap produktif secara optimal dan aman dalam kaitannya dengan keselamatan kerja. Salah satu solusinya adalah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) dalam pemeliharaan aset.
“Perkembangan teknologi kecerdasan buatan bukanlah ancaman bagi ketersediaan lapangan kerja. AI hanyalah sebatas alat yang perlu dipelajari sebagai bekal untuk analisa dan pengambilan keputusan terkait faktor-faktor produksi agar lebih efektif, efisien, serta meningkatkan profitabilitas dan keberlanjutan bisnis,” tuturnya.
Baca Juga: Buktikan Potensi Baru di Lapangan Tua, PHE ONWJ Hasilkan Uji Produksi 1.097 BOPD
Kunci pemanfaatan AI, lanjut Taufik, adalah Big Data yang valid dan representatif, sehingga diperlukan adanya suatu kolaborasi yang terintegrasi antar-stakeholder dalam penyediaan data secara voluntary. Sehingga, data menjadi lebih berkualitas dan accessible untuk pengembangan oleh masing-masing kontributor/pemangku kepentingan.
“Buku ini diharapkan dapat menjadi kontribusi penulis dalam diskursus ilmiah terkait AI, serta menjadi pemantik pengembangan dan pemanfaatan AI lebih lanjut dalam industri migas pada khususnya dan industri-industri lain secara umum,” tutup Taufik.
Dalam acara bedah buku yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) dan Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Indonesia (Aspermigas) ini, hadir pula sebagai penanggap, Sekretaris Jenderal Aspermigas Elan Biantoro, serta Guru Besar Tetap Fakultas Teknik Universitas Indonesia Johny Wahyuadi.
(nng)
Lihat Juga :