Tolak Bagi-bagi Bonus, Dirut Baru Garuda Indonesia Potong Gaji Direksi 10%
Minggu, 07 Desember 2025 - 17:21 WIB
loading...
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan dalam RDP Garuda Indonesia dengan Komisi VI DPR RI. FOTO/Tangkapan Layar YouTube/TV Parlemen
A
A
A
JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mulai memperketat pengeluaran di seluruh lini sebagai bagian dari agenda besar efisiensi operasional perusahaan. Sejumlah kebijakan penghematan diberlakukan dari tingkat paling atas termasuk langkah pemotongan gaji direksi dan peniadaan tantiem bagi jajaran pimpinan.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, menegaskan keputusan penghematan tersebut telah disepakati bersama manajemen dalam rapat internal dan akan diberlakukan secara bertahap. Kebijakan efisiensi ini merupakan pesan penting terkait keteladanan pemimpin di tengah kondisi keuangan perusahaan yang belum pulih sepenuhnya.
"Saya tawarkan kepada para direksi, bagaimana kalau direksi Garuda secara sukarela, karena pemimpin itu harus pribadi yang berani berkorban. Kalau kita tidak terima gaji, kita potong 10%, apakah sudah setuju? Ternyata semuanya setuju," kata Glenny dalam RDP Garuda Indonesia dengan Komisi VI DPR RI dikutip dari siaran YouTube, TV Parlemen, Minggu (7/12/2025).
Baca Juga: Garuda Indonesia Tunda Beli Pesawat Baru meski Dapat Suntikan Rp23,67 Triliun
Glenny juga menolak pemberian tantiem bagi direksi dan komisaris. Ia menuturkan sempat diminta menandatangani alokasi tantiem, namun menolak karena menilai pembagian bonus tidak pantas dilakukan ketika perusahaan masih merugi.
"Dan saya melihat pemerintah sedang mengadakan pengetatan APBN, Garuda sedang rugi. Apa kata masyarakat kalau besok keluar di medsos perusahaan sedang rugi kok bagi-bagi tantiem? mohon maaf saya menolak, saya menolak," ujarnya.
Selain kebijakan eksekutif, Glenny menyatakan telah membentuk kelompok kerja (pokja) khusus untuk mempercepat realisasi program efisiensi. Salah satunya mencakup penertiban fasilitas perjalanan dinas yang sempat memunculkan keluhan dari Jepang terkait penurunan kelas tiket perjalanan bisnis. Dengan temuan tersebut, Garuda melakukan pergantian staf perwakilan di Jepang dan memangkas jumlah personel menjadi hanya satu orang.
"Saya minta kepada human capital ganti perwakilan yang ada di Jepang. Langsung dibuat, hari itu juga ditarik balik. Dan efisiensi yang dilakukan juga, penempatan (biasanya) kita punya perwakilan 2-3 orang, itu kita cabut, hanya 1 orang. Biarkan local staff yang lebih banyak. Karena kita harus membiayai mereka punya allowance," ujar Glenny.
Baca Juga: Danantara: Banyak Pesawat Garuda Tak Bisa Terbang Jadi Beban Perusahaan
Sementara, Wakil Direktur Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyampaikan bahwa efisiensi juga dilakukan pada aspek teknis operasional, khususnya konsumsi avtur. Ia menyebut armada Garuda Indonesia berhasil menghemat penggunaan bahan bakar hingga 21 juta liter melalui perubahan prosedur taxiing di apron bandara.
"Jadi penggunaan avtur, kami juga kita lakukan efisiensi, yaitu pada waktu taxi kita pakai menggunakan satu engine supaya menghemat avtur dan itu sudah bisa menghasilkan (efisiensi) sekitar 21 juta liter," kata Thomas.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, menegaskan keputusan penghematan tersebut telah disepakati bersama manajemen dalam rapat internal dan akan diberlakukan secara bertahap. Kebijakan efisiensi ini merupakan pesan penting terkait keteladanan pemimpin di tengah kondisi keuangan perusahaan yang belum pulih sepenuhnya.
"Saya tawarkan kepada para direksi, bagaimana kalau direksi Garuda secara sukarela, karena pemimpin itu harus pribadi yang berani berkorban. Kalau kita tidak terima gaji, kita potong 10%, apakah sudah setuju? Ternyata semuanya setuju," kata Glenny dalam RDP Garuda Indonesia dengan Komisi VI DPR RI dikutip dari siaran YouTube, TV Parlemen, Minggu (7/12/2025).
Baca Juga: Garuda Indonesia Tunda Beli Pesawat Baru meski Dapat Suntikan Rp23,67 Triliun
Glenny juga menolak pemberian tantiem bagi direksi dan komisaris. Ia menuturkan sempat diminta menandatangani alokasi tantiem, namun menolak karena menilai pembagian bonus tidak pantas dilakukan ketika perusahaan masih merugi.
"Dan saya melihat pemerintah sedang mengadakan pengetatan APBN, Garuda sedang rugi. Apa kata masyarakat kalau besok keluar di medsos perusahaan sedang rugi kok bagi-bagi tantiem? mohon maaf saya menolak, saya menolak," ujarnya.
Selain kebijakan eksekutif, Glenny menyatakan telah membentuk kelompok kerja (pokja) khusus untuk mempercepat realisasi program efisiensi. Salah satunya mencakup penertiban fasilitas perjalanan dinas yang sempat memunculkan keluhan dari Jepang terkait penurunan kelas tiket perjalanan bisnis. Dengan temuan tersebut, Garuda melakukan pergantian staf perwakilan di Jepang dan memangkas jumlah personel menjadi hanya satu orang.
"Saya minta kepada human capital ganti perwakilan yang ada di Jepang. Langsung dibuat, hari itu juga ditarik balik. Dan efisiensi yang dilakukan juga, penempatan (biasanya) kita punya perwakilan 2-3 orang, itu kita cabut, hanya 1 orang. Biarkan local staff yang lebih banyak. Karena kita harus membiayai mereka punya allowance," ujar Glenny.
Baca Juga: Danantara: Banyak Pesawat Garuda Tak Bisa Terbang Jadi Beban Perusahaan
Sementara, Wakil Direktur Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyampaikan bahwa efisiensi juga dilakukan pada aspek teknis operasional, khususnya konsumsi avtur. Ia menyebut armada Garuda Indonesia berhasil menghemat penggunaan bahan bakar hingga 21 juta liter melalui perubahan prosedur taxiing di apron bandara.
"Jadi penggunaan avtur, kami juga kita lakukan efisiensi, yaitu pada waktu taxi kita pakai menggunakan satu engine supaya menghemat avtur dan itu sudah bisa menghasilkan (efisiensi) sekitar 21 juta liter," kata Thomas.
(nng)
Lihat Juga :