Dibayangi Tingginya Ketidakpastian, Ramalan Gubernur BI: Ekonomi Global Melandai di 3%

Rabu, 17 Desember 2025 - 16:13 WIB
loading...
Dibayangi Tingginya...
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan, bahwa ekonomi dunia dibayangi oleh ketidakpastian tinggi dan risiko pelemahan pada tahun mendatang, meski menunjukkan perbaikan jangka pendek. Foto/Dok
A A A
Gubernur Bank Indonesia (BI) , Perry Warjiyo mengungkapkan, bahwa ekonomi dunia dibayangi oleh ketidakpastian tinggi dan risiko pelemahan pada tahun mendatang, meski menunjukkan perbaikan jangka pendek. Perry menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 diperkirakan berada di level 3,2%.

Angka ini didorong oleh penguatan ekonomi di Jepang dan India melalui konsumsi rumah tangga serta stimulus fiskal, serta pemulihan di kawasan Eropa. Namun kondisi kontras terlihat pada dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan China.

“Ekonomi Amerika Serikat pada 2025 ini masih melambat dipengaruhi dampak temporari government shutdown dan pelemahan pasar tenaga kerja. Prospek ekonomi Tiongkok juga terus melambat dipengaruhi permintaan domestik yang tetap lemah,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (17/12/2025).

Baca Juga: Mitigasi Risiko Perekonomian Global

Memasuki tahun 2026, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan melandai ke level 3%. Penurunan ini dipicu oleh efek lanjutan dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta kerentanan rantai pasok global.



Di pasar keuangan, Perry mencatat bahwa suku bunga kebijakan AS atau Fed Funds Rate (FFR) telah turun sebesar 25 basis poin pada Desember 2025. Namun, ia memberi catatan bahwa tren penurunan suku bunga tersebut kemungkinan akan lebih terbatas di masa depan.

Kondisi pasar obligasi AS juga menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor dua tahun cenderung bergerak naik, sementara tenor 10 tahun tetap tinggi akibat besarnya beban utang pemerintah Amerika Serikat.

Dinamika di Amerika Serikat tersebut berdampak langsung pada indeks dolar AS (DXY) yang tetap perkasa. Perry menjelaskan kondisi ini menyebabkan aliran modal asing ke negara berkembang (emerging markets) masih terbatas.

“Perkembangan ini menyebabkan indeks mata uang dolar AS (DXY) masih tetap tinggi dan masih tetap terbatasnya aliran masuk modal asing ke emerging market,” ungkapnya.

Menutup paparannya, Perry menegaskan perlunya kewaspadaan ekstra terhadap kebijakan-kebijakan global guna menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Baca Juga: Diguncang Shutdown Terlama Pemerintah AS, Gubernur BI Ramal Ekonomi Dunia di Kisaran 3,1%

“Ke depan, ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi dengan prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang masih lemah. Kondisi tersebut memerlukan kewaspadaan dan pengamatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari dampak pelambatan global serta untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi di dalam negeri,” pungkas Perry.

Perlu diketahui, berdasarkan asesmen dan proyeksi tersebut, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16 dan 17 Desember 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 5,5%.

Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global dengan tetap memperkuat.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BI Tancap Gas, Suku...
BI Tancap Gas, Suku Bunga Acuan Kembali Naik 25 Bps ke Level 5,75%
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Kurs Tembus Rp18 Ribu,...
Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Rekomendasi
Apple Gandeng Intel...
Apple Gandeng Intel Bikin Chip di AS: Apa Dampaknya buat Konsumen?
Test Drive Leapmotor...
Test Drive Leapmotor B10 Jakarta–Bandung: Pintar, Nyaman, tapi Ada Catatannya
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap, Polda Metro Jaya: Berkas Perkara Lengkap
Berita Terkini
Airlangga Jadikan Catatan...
Airlangga Jadikan Catatan MSCI Sebagai Amunisi Tuntaskan Reformasi Pasar Modal
Navigasi Kompleksitas...
Navigasi Kompleksitas Bisnis 2026, Grab For Business Dorong Pelaku Usaha Scale Smarter dan Execute Faster
Kemenhut Bangun Perekonomian...
Kemenhut Bangun Perekonomian Kehutanan Inklusif, Berkelanjutan, dan Kompetitif
IHSG Berakhir Merayap...
IHSG Berakhir Merayap Naik ke 6.177 Diwarnai Lompatan 353 Saham
Tips MotionTrade: Jangan...
Tips MotionTrade: Jangan Bagikan Kode OTP, Lindungi Keamanan Akun Investasi Anda!
OJK Respons Penilaian...
OJK Respons Penilaian MSCI ke Pasar Modal Indonesia: Tahan Status Emerging Market dengan Catatan
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved