Harga Minyak Mentah Dunia Ambruk Hampir 1% dalam Sepekan Sentuh USD60,47 per Barel
Sabtu, 20 Desember 2025 - 09:51 WIB
loading...
Patokan harga minyak dunia, Brent dan WTI turun sekitar 1% sepanjang pekan ini setelah kedua patokan minyak mentah dunia itu jatuh sekitar 4% minggu lalu. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak mentah merayap naik akibat kemungkinan gangguan dari blokade kapal tanker Venezuela oleh Amerika Serikat atau AS saat pasar menunggu kabar tentang kemungkinan kesepakatan perdamaian Rusia-Ukraina. Harga minyak Brent naik 65 sen atau 1,1% menjadi USD60,47 per barel.
Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) meningkat 51 sen yang setara 0,9% hingga menyentuh level USD56,66/barel. Kondisi ini membuat Brent dan WTI turun sekitar 1% sepanjang pekan ini setelah kedua patokan minyak mentah dunia itu jatuh sekitar 4% minggu lalu.
Di pasar energi lainnya, penurunan terbaru harga kontrak berjangka bensin AS ke level terendah dalam empat tahun menurunkan spread 321- dan spread bensin, yang mengukur margin keuntungan pemurnian, ke level terendah sejak Februari.
Baca Juga: Siap-siap! Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD100/Barel Tanpa Minyak Mentah Rusia
"Minyak mencatat kenaikan kecil sambil bertahan di atas level terendah yang ditetapkan awal pekan ini sembari menunggu panduan lebih lanjut mengenai perundingan damai Ukraina/Rusia serta berita terbaru dari Venezuela terkait potensi dampak blokade tanker Trump," kata para analis di firma penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan.
Saat Presiden AS Donald Trump berusaha mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua, tanggung jawab ada pada Ukraina dan Eropa untuk mengambil langkah berikutnya menuju perdamaian.
Pemimpin Uni Eropa memutuskan, untuk meminjamkan uang dengan memberikan pinjaman sebesar 90 miliar euro (USD105 miliar) kepada Ukraina untuk membiayai pertahanannya melawan Rusia selama dua tahun ke depan. Eropa memilih langkah itu daripada menggunakan rencana yang memicu perpecahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni membiayai Kiev dengan uang negara Rusia.
Sedangkan Putin tidak menawarkan kompromi mengenai persyaratannya untuk mengakhiri perang di Ukraina dan menuduh Uni Eropa mencoba melakukan "perampokan terang-terangan" terhadap aset Rusia. Selain itu Ukraina menyerang kapal tanker minyak "armada bayangan" Rusia di Laut Mediterania dengan drone udara untuk pertama kalinya, kata seorang pejabat, yang mencerminkan meningkatnya intensitas serangan Kiev terhadap pengiriman minyak Rusia.
"Ketidakpastian tentang bagaimana AS akan menegakkan niat Trump untuk memblokir kapal tangki yang disanksi masuk dan keluar dari Venezuela menekan premi risiko geopolitik," kata analis IG Tony Sycamore seperti dilansir Reuters.
Baca Juga: Pertamina Bakal Beli Minyak dari Sumur Rakyat dengan Harga 80% ICP
Venezuela, yang memompa sekitar 1% pasokan minyak global, pada Kamis mengizinkan dua kargo yang tidak terkena sanksi untuk berlayar ke China, kata dua sumber yang akrab dengan operasional ekspor minyak Venezuela.
Sebuah kapal tanker yang disanksi membawa sekitar 300.000 barel nafta dari Rusia memasuki perairan Venezuela pada Kamis malam. Sementara tiga kapal lain yang juga disanksi baik menghentikan navigasi atau mulai mengubah arah di Samudra Atlantik, menurut data pelacakan kapal.
Pada Jumat, AS memberlakukan sanksi terhadap anggota keluarga dan rekan-rekan Nicolas Maduro serta istrinya, seiring sikap Washington yang meningkatkan tekanan terhadap presiden Venezuela.
Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) meningkat 51 sen yang setara 0,9% hingga menyentuh level USD56,66/barel. Kondisi ini membuat Brent dan WTI turun sekitar 1% sepanjang pekan ini setelah kedua patokan minyak mentah dunia itu jatuh sekitar 4% minggu lalu.
Di pasar energi lainnya, penurunan terbaru harga kontrak berjangka bensin AS ke level terendah dalam empat tahun menurunkan spread 321- dan spread bensin, yang mengukur margin keuntungan pemurnian, ke level terendah sejak Februari.
Baca Juga: Siap-siap! Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD100/Barel Tanpa Minyak Mentah Rusia
"Minyak mencatat kenaikan kecil sambil bertahan di atas level terendah yang ditetapkan awal pekan ini sembari menunggu panduan lebih lanjut mengenai perundingan damai Ukraina/Rusia serta berita terbaru dari Venezuela terkait potensi dampak blokade tanker Trump," kata para analis di firma penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan.
Saat Presiden AS Donald Trump berusaha mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua, tanggung jawab ada pada Ukraina dan Eropa untuk mengambil langkah berikutnya menuju perdamaian.
Pemimpin Uni Eropa memutuskan, untuk meminjamkan uang dengan memberikan pinjaman sebesar 90 miliar euro (USD105 miliar) kepada Ukraina untuk membiayai pertahanannya melawan Rusia selama dua tahun ke depan. Eropa memilih langkah itu daripada menggunakan rencana yang memicu perpecahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni membiayai Kiev dengan uang negara Rusia.
Sedangkan Putin tidak menawarkan kompromi mengenai persyaratannya untuk mengakhiri perang di Ukraina dan menuduh Uni Eropa mencoba melakukan "perampokan terang-terangan" terhadap aset Rusia. Selain itu Ukraina menyerang kapal tanker minyak "armada bayangan" Rusia di Laut Mediterania dengan drone udara untuk pertama kalinya, kata seorang pejabat, yang mencerminkan meningkatnya intensitas serangan Kiev terhadap pengiriman minyak Rusia.
Blokade Venezuela
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari Jumat mengatakan, kepada wartawan bahwa Amerika Serikat tidak khawatir tentang eskalasi dengan Rusia terkait Venezuela, saat pemerintahan Trump memperkuat kekuatan militer di Karibia. Trump mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia tetap membuka kemungkinan."Ketidakpastian tentang bagaimana AS akan menegakkan niat Trump untuk memblokir kapal tangki yang disanksi masuk dan keluar dari Venezuela menekan premi risiko geopolitik," kata analis IG Tony Sycamore seperti dilansir Reuters.
Baca Juga: Pertamina Bakal Beli Minyak dari Sumur Rakyat dengan Harga 80% ICP
Venezuela, yang memompa sekitar 1% pasokan minyak global, pada Kamis mengizinkan dua kargo yang tidak terkena sanksi untuk berlayar ke China, kata dua sumber yang akrab dengan operasional ekspor minyak Venezuela.
Sebuah kapal tanker yang disanksi membawa sekitar 300.000 barel nafta dari Rusia memasuki perairan Venezuela pada Kamis malam. Sementara tiga kapal lain yang juga disanksi baik menghentikan navigasi atau mulai mengubah arah di Samudra Atlantik, menurut data pelacakan kapal.
Pada Jumat, AS memberlakukan sanksi terhadap anggota keluarga dan rekan-rekan Nicolas Maduro serta istrinya, seiring sikap Washington yang meningkatkan tekanan terhadap presiden Venezuela.
(akr)
Lihat Juga :