Injeksi Dana Rp200 Triliun Tak Mempan Dorong Kredit, BI: Fakta Berbicara!
Senin, 22 Desember 2025 - 19:54 WIB
loading...
Bank Indonesia (BI) memberikan catatan terhadap efektivitas penempatan dana Pemerintah senilai Rp200 triliun di perbankan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memberikan catatan terhadap efektivitas penempatan dana Pemerintah senilai Rp200 triliun di perbankan. Meski kebijakan ini melonggarkan likuiditas dan menekan suku bunga dana, dampaknya terhadap penurunan suku bunga kredit dinilai masih belum optimal.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M. Juhro menjelaskan bahwa guyuran dana tersebut memberikan dampak positif yang signifikan pada struktur pendanaan, khususnya bagi bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara).
"Apakah Rp 200 triliun membantu penurunan suku bunga? Ya, pastilah. Dana itu membuat struktur dana di bank Himbara lebih fleksibel," ujar Solikin dalam Taklimat Media di Gedung BI, Senin (22/12/2025).
Baca Juga: Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Ekonom: Masalahnya Nggak Ada Permintaan Kredit
Menurut Solikin, fleksibilitas pendanaan ini memberikan ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga dana (simpanan). Hal ini menjadi pembeda bagi bank Himbara dibandingkan bank non-Himbara yang masih harus menghadapi persaingan ketat dalam memperoleh Dana Pihak Ketiga (DPK). “Karena memiliki fleksibilitas, maka ada ruang untuk menurunkan suku bunga dana,” katanya.
Namun, Solikin secara jujur mengakui bahwa tambahan likuiditas ratusan triliun rupiah tersebut belum menjadi stimulus yang cukup kuat untuk mendorong penurunan suku bunga kredit secara drastis di pasar. “Kalau dampaknya ke suku bunga dana sudah pasti. Tapi apakah itu cukup untuk mendorong kredit? Belum. Fakta berbicara, survei membuktikan,” katanya.
Kesenjangan antara penurunan suku bunga acuan dan suku bunga kredit terlihat jelas dalam data sepanjang tahun 2025. Meskipun BI telah memangkas BI Rate sebanyak 125 basis poin, transmisi ke sektor riil melalui bunga kredit berjalan merangkak.
Baca Juga: Purbaya Kucurkan Rp200 T ke Himbara, Ekonom: Esensinya Sama, Uang Belum Masuk ke Proyek Riil
Untuk suku bunga dana dengan merespons lebih cepat seiring melimpahnya likuiditas dan suku Bunga Kredit hanya turun tipis sebesar 24 basis poin, dari level 9,20 persen di awal tahun 2025 menjadi 8,96 persen pada November 2025. Lambatnya penurunan bunga kredit ini menjadi tantangan tersendiri bagi BI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, meski berbagai instrumen makroprudensial telah diaktifkan untuk memperluas ekspansi likuiditas moneter.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M. Juhro menjelaskan bahwa guyuran dana tersebut memberikan dampak positif yang signifikan pada struktur pendanaan, khususnya bagi bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara).
"Apakah Rp 200 triliun membantu penurunan suku bunga? Ya, pastilah. Dana itu membuat struktur dana di bank Himbara lebih fleksibel," ujar Solikin dalam Taklimat Media di Gedung BI, Senin (22/12/2025).
Baca Juga: Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Ekonom: Masalahnya Nggak Ada Permintaan Kredit
Menurut Solikin, fleksibilitas pendanaan ini memberikan ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga dana (simpanan). Hal ini menjadi pembeda bagi bank Himbara dibandingkan bank non-Himbara yang masih harus menghadapi persaingan ketat dalam memperoleh Dana Pihak Ketiga (DPK). “Karena memiliki fleksibilitas, maka ada ruang untuk menurunkan suku bunga dana,” katanya.
Namun, Solikin secara jujur mengakui bahwa tambahan likuiditas ratusan triliun rupiah tersebut belum menjadi stimulus yang cukup kuat untuk mendorong penurunan suku bunga kredit secara drastis di pasar. “Kalau dampaknya ke suku bunga dana sudah pasti. Tapi apakah itu cukup untuk mendorong kredit? Belum. Fakta berbicara, survei membuktikan,” katanya.
Kesenjangan antara penurunan suku bunga acuan dan suku bunga kredit terlihat jelas dalam data sepanjang tahun 2025. Meskipun BI telah memangkas BI Rate sebanyak 125 basis poin, transmisi ke sektor riil melalui bunga kredit berjalan merangkak.
Baca Juga: Purbaya Kucurkan Rp200 T ke Himbara, Ekonom: Esensinya Sama, Uang Belum Masuk ke Proyek Riil
Untuk suku bunga dana dengan merespons lebih cepat seiring melimpahnya likuiditas dan suku Bunga Kredit hanya turun tipis sebesar 24 basis poin, dari level 9,20 persen di awal tahun 2025 menjadi 8,96 persen pada November 2025. Lambatnya penurunan bunga kredit ini menjadi tantangan tersendiri bagi BI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, meski berbagai instrumen makroprudensial telah diaktifkan untuk memperluas ekspansi likuiditas moneter.
(nng)
Lihat Juga :