Harga Beras di Indonesia Timur Terpantau Tinggi Jelang Nataru 2025
Rabu, 24 Desember 2025 - 12:29 WIB
loading...
Harga beras di wilayah Indonesia Timur terpantau masih relatif tinggi menjelang momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026), begini kata Bapanas. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Harga beras di wilayah Indonesia Timur terpantau masih relatif tinggi menjelang momen Natal dan Tahun Baru atau Nataru 2025/2026 . Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat tren kenaikan harga berlaku untuk zona 3, yakni di Maluku-Papua.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono menyampaikan, meski harga beras medium dan premium di wilayah lainnya mengalami penurunan signifikan, namun untuk wilayah zona 3 tersebut masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Harga beras medium, premium baik di zona 1 dan 2 mengalami penurunan yang cukup signifikan dan sebetulnya sudah di bawah HET. Namun, khusus di zona 3 di Maluku-Papua memang trennya masih tetap stabil tinggi," terangnya dikutip Rabu (24/12/2025).
Baca Juga: Zulhas Sebut Harga Beras Dunia Ikut Turun saat Indonesia Surplus 4,7 Juta Ton
Maino menyebut Pemerintah terus memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan strategis nasional berada dalam kondisi aman. Upaya pengamanan dilakukan melalui penguatan distribusi, pengawasan harga, dan sinergi lintas kementerian/lembaga serta aparat penegak hukum.
Di samping itu dilakukan juga penguatan pasokan di wilayah timur dengan penyaluran beras di wilayah Papua. Maino mengatakan bahwa upaya ini terus dilakukan sejak dua pekan yang lalu.
“Kita sudah menyewa gudang-gudang filial di seluruh wilayah Kabupaten Papua yang saat ini mungkin tidak tersedia gudang Bulog. Sehingga diharapkan dengan adanya gudang Bulog tersebut, suplai pasokan beras di semua wilayah ini akan meningkat,” tutur Maino.
Maino menegaskan bahwa pengamanan pasokan menjadi perhatian utama menjelang Nataru. “Prinsipnya dengan ketersediaan pangan yang cukup, mestinya kita semuanya, para pelaku pangan, pelaku usaha pangan, sama-sama untuk bisa menjaga harga pangan maksimal HET ataupun HAP,” tegasnya.
Di sisi distribusi, Bapanas memberikan dukungan pembiayaan dari daerah surplus ke wilayah defisit melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Terhitung sampai saat ini telah didistribusikan lebih dari seribu ton, dengan mayoritas komoditasnya adalah beras.
Baca Juga: Mentan Gandeng Kapolri Bentuk Satgas Pengendalian Harga Beras
Lebih lanjut, Gerakan Pangan Murah (GPM) terus digencarkan di berbagai daerah sebagai upaya menjaga keterjangkauan harga. GPM dilaksanakan oleh Dinas Pangan Provinsi maupun Kota, yang sampai kemarin telah tercatat 11.831 kali dilaksanakan.
Adapun perkembangan program stabilisasi beras melalui realisasi beras SPHP dan Bantuan Pangan, diketahui telah menyentuh angka 749 ribu ton dari target 1,5 juta ton. Sementara itu, Bantuan Pangan November-Desember telah tersalurkan sebesar 84,43%.
"Mudah-mudahan dengan adanya alokasi tersebut, Minyak Kita di pasaran, sama-sama bisa kita pastikan dijual maksimal HET,” jelas Maino.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono menyampaikan, meski harga beras medium dan premium di wilayah lainnya mengalami penurunan signifikan, namun untuk wilayah zona 3 tersebut masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Harga beras medium, premium baik di zona 1 dan 2 mengalami penurunan yang cukup signifikan dan sebetulnya sudah di bawah HET. Namun, khusus di zona 3 di Maluku-Papua memang trennya masih tetap stabil tinggi," terangnya dikutip Rabu (24/12/2025).
Baca Juga: Zulhas Sebut Harga Beras Dunia Ikut Turun saat Indonesia Surplus 4,7 Juta Ton
Maino menyebut Pemerintah terus memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan strategis nasional berada dalam kondisi aman. Upaya pengamanan dilakukan melalui penguatan distribusi, pengawasan harga, dan sinergi lintas kementerian/lembaga serta aparat penegak hukum.
Di samping itu dilakukan juga penguatan pasokan di wilayah timur dengan penyaluran beras di wilayah Papua. Maino mengatakan bahwa upaya ini terus dilakukan sejak dua pekan yang lalu.
“Kita sudah menyewa gudang-gudang filial di seluruh wilayah Kabupaten Papua yang saat ini mungkin tidak tersedia gudang Bulog. Sehingga diharapkan dengan adanya gudang Bulog tersebut, suplai pasokan beras di semua wilayah ini akan meningkat,” tutur Maino.
Maino menegaskan bahwa pengamanan pasokan menjadi perhatian utama menjelang Nataru. “Prinsipnya dengan ketersediaan pangan yang cukup, mestinya kita semuanya, para pelaku pangan, pelaku usaha pangan, sama-sama untuk bisa menjaga harga pangan maksimal HET ataupun HAP,” tegasnya.
Di sisi distribusi, Bapanas memberikan dukungan pembiayaan dari daerah surplus ke wilayah defisit melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Terhitung sampai saat ini telah didistribusikan lebih dari seribu ton, dengan mayoritas komoditasnya adalah beras.
Baca Juga: Mentan Gandeng Kapolri Bentuk Satgas Pengendalian Harga Beras
Lebih lanjut, Gerakan Pangan Murah (GPM) terus digencarkan di berbagai daerah sebagai upaya menjaga keterjangkauan harga. GPM dilaksanakan oleh Dinas Pangan Provinsi maupun Kota, yang sampai kemarin telah tercatat 11.831 kali dilaksanakan.
Adapun perkembangan program stabilisasi beras melalui realisasi beras SPHP dan Bantuan Pangan, diketahui telah menyentuh angka 749 ribu ton dari target 1,5 juta ton. Sementara itu, Bantuan Pangan November-Desember telah tersalurkan sebesar 84,43%.
"Mudah-mudahan dengan adanya alokasi tersebut, Minyak Kita di pasaran, sama-sama bisa kita pastikan dijual maksimal HET,” jelas Maino.
(akr)
Lihat Juga :