Abaikan Sanksi, Kapal Tanker China Tantang Blokade AS di Venezuela

Rabu, 31 Desember 2025 - 11:33 WIB
loading...
Abaikan Sanksi, Kapal...
Kapal tanker raksasa berbendera China tetap beroperasi di sekitar perairan Venezuela. FOTO/Newsweek
A A A
JAKARTA - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China kembali menguat setelah dua kapal tanker raksasa berbendera China tetap beroperasi di sekitar perairan Venezuela, meski Washington mengumumkan blokade penuh terhadap negara Amerika Latin tersebut pada pertengahan Desember. Pergerakan kapal-kapal ini menjadi ujian nyata atas efektivitas penegakan sanksi AS terhadap ekspor minyak Venezuela.

Data pelacakan maritim dikutip dari Worldoil melaporkan, kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) Thousand Sunny terus melaju menuju Terminal Jose, salah satu pusat ekspor minyak utama Venezuela. Kapal tersebut tercatat tidak mengubah kecepatan maupun arah sejak Presiden AS Donald Trump menyatakan pemberlakuan blokade total pada 16 Desember. Tanker ini diketahui telah mengangkut minyak mentah Venezuela ke China secara rutin selama sekitar lima tahun terakhir.

Baca Juga: Krisis Mata Uang, Iran Diguncang Protes Massal

Sementara itu, kapal tanker China lainnya, Xing Ye, terpantau berada di lepas pantai Guyana Prancis. Kapal tersebut dilaporkan tengah menunggu jadwal pemuatan minyak mentah, setelah sebelumnya terakhir kali mengangkut minyak Venezuela pada Agustus lalu. Kedua kapal tidak masuk dalam daftar sanksi AS dan mengibarkan bendera China, sehingga berpotensi memicu eskalasi diplomatik apabila dilakukan upaya intersepsi.



Catatan industri menyebutkan, kedua tanker tersebut sebelumnya dimiliki oleh China National Petroleum Corporation (CNPC) sebelum dijual kepada pembeli yang tidak diungkapkan identitasnya pada 2020. Penjualan ini diyakini sebagai bagian dari skema untuk menjaga kelangsungan ekspor minyak Venezuela ke China di tengah tekanan sanksi Barat, sekaligus mekanisme pembayaran utang Caracas kepada Beijing.

Tekanan eksternal itu mulai berdampak langsung terhadap sektor hulu migas Venezuela. Perusahaan minyak negara PDVSA dilaporkan mulai menutup sejumlah sumur di kawasan Sabuk Orinoco sejak akhir Desember, menyusul kapasitas penyimpanan yang hampir penuh. Produksi di wilayah tersebut ditargetkan turun sedikitnya 25% menjadi sekitar 500.000 barel per hari, atau setara pemangkasan 15% dari total produksi nasional.

Baca Juga: Akankah China Menyelamatkan Venezuela?

Langkah tersebut mencerminkan situasi genting yang dihadapi pemerintahan Presiden Nicolás Maduro, mengingat pendapatan minyak merupakan tulang punggung ekonomi Venezuela. Penutupan sumur dinilai sebagai opsi terakhir karena tingginya biaya operasional serta risiko teknis saat produksi harus kembali dinyalakan.

Di sisi lain, Venezuela mulai meningkatkan pengamanan jalur ekspor minyaknya. Kapal-kapal penjaga pantai dilaporkan mengawal tanker yang meninggalkan pelabuhan-pelabuhan di wilayah timur, meski pengamanan tersebut masih terbatas di perairan teritorial. Beberapa pengiriman produk minyak ke pasar Asia pada pertengahan Desember diketahui berangkat dengan perlindungan unsur angkatan laut.

Ketegangan internasional pun meluas ke forum global. Dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB, China dan Rusia secara terbuka mengecam langkah AS. Beijing menilai blokade tersebut melanggar hukum internasional, sementara Moskow menyebutnya sebagai bentuk agresi. Di tengah eskalasi itu, perusahaan energi AS Chevron tetap mengekspor minyak Venezuela ke Amerika Serikat berdasarkan lisensi khusus pemerintah AS, menegaskan kompleksitas kepentingan energi di tengah konflik geopolitik yang kian memanas.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Rekomendasi
Piala Dunia 2026 dan...
Piala Dunia 2026 dan Bayang-bayang Jet Pribadi Infantino
Dilimpahkan ke Kejari...
Dilimpahkan ke Kejari Jaksel, Roy Suryo: Allahu Akbar, Terus Semangat!
Apple Setuju Berkolaborasi...
Apple Setuju Berkolaborasi dengan Intel untuk Merancang dan Memproduksi Chip
Berita Terkini
Semringah di Pembukaan,...
Semringah di Pembukaan, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,25% ke 6.099
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo Energy dan BP per 22 Juni 2026
Pascapemadaman Listrik...
Pascapemadaman Listrik Bergilir di Pulau Jawa, PLN Update Kondisi Perbaikan
Rosan Lapor Prabowo...
Rosan Lapor Prabowo soal Perampingan 258 BUMN, 300 Pelat Merah Lain Menyusul
Pergantian Direksi Disorot,...
Pergantian Direksi Disorot, Mampukah Kejayaan Pelni Kembali?
IHSG Menghijau di Awal...
IHSG Menghijau di Awal Pekan, Pagi Ini Sentuh Level 6.217
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved