Mesin Uang 3 Konglomerat RI Naik Rp225 Triliun, Prajogo Pangestu Unggul Jauh
Kamis, 01 Januari 2026 - 20:45 WIB
loading...
Kekayaan gabungan tiga miliarder teratas Indonesia melonjak fantastis sebesar USD13,5 miliar. FOTO/eVnExpress
A
A
A
JAKARTA - Kekayaan gabungan tiga miliarder teratas Indonesia melonjak fantastis sebesar USD13,5 miliar atau setara Rp225 triliun sepanjang tahun 2025. Namun, peningkatan besar itu hanya dinikmati oleh satu sosok, sementara dua lainnya justru mengalami penyusutan aset.
Dikutip dari eVnExpress, Prajogo Pangestu, taipan energi berusia 81 tahun, kian mengokohkan posisinya sebagai orang terkaya di Indonesia. Kekayaan bersihnya mencapai USD 39,5 miliar, nyaris dua kali lipat dari catatan Forbes pada Maret lalu.
Baca Juga: 500 Orang Terkaya Dunia Makin Tajir di 2025, Tumpuk Harta Rp36.000 Triliun dalam Setahun
Saham perusahaan-perusahaannya meroket 265% tahun ini, jauh melampaui pertumbuhan Indeks Komposi Jakarta yang hanya 21%, didorong oleh optimisme pasar atas ekspansi besar-besaran di sektor petrokimia dan energi terbarukan.
Di posisi kedua, kekayaan Low Tuck Kwong justru menyusut 11% menjadi USD 25,6 miliar. Penurunan ini tak lepas dari melandainya harga batubara secara global. Meski demikian, pria 76 tahun yang memulai karirnya di bisnis konstruksi keluarga di Singapura ini tetap memegang kerajaan tambang batubara yang sangat solid melalui Bayan Resources.
Sementara itu, di urutan ketiga, Robert Budi Hartono mengalami penurunan kekayaan bersih sebesar 4% menjadi USD21,4 miliar. Penurunan ini seiring dengan koreksi saham Bank Central Asia (BCA) sebesar 18% yang masih menjadi pilar utama hartanya. Bersama saudaranya, Michael, Budi Hartono membangun kerajaan bisnis yang sangat beragam dari warisan perusahaan rokok Djarum.
1. Prajogo Pangestu
Prajogo Pangestu membangun Barito Pacific Group dari usaha kayu kecil pada 1979 menjadi salah satu konglomerat petrokimia dan energi terkemuka di Asia Tenggara. Diversifikasi ke industri padat modal seperti petrokimia dan karet sintetis dimulai pada tahun 2000-an. Kekayaannya kini terutama berasal dari kepemilikan mayoritas sekitar 71% di Barito Pacific dan kendali di Petrindo Jaya Kreasi. Aset-asetnya mencakup petrokimia, energi geotermal dan terbarukan, batu bara, serta sumber daya lainnya.
2. Low Tuck Kwong
Low Tuck Kwong pindah ke Indonesia pada 1972 untuk mencari peluang yang lebih baik. Ia mendirikan kontraktor konstruksi Jaya Sumpiles Indonesia pada 1973 sebelum beralih ke batubara dengan mengakuisisi konsesi pertambangan di Kalimantan pada 1990-an. Untuk mengkonsolidasikan bisnisnya, ia mendirikan Bayan Resources Tbk pada 2004 dengan model terintegrasi dari tambang hingga logistik. Perusahaan itu kini tumbuh menjadi eksportir utama, memproduksi sekitar 56,9 juta ton batubara pada 2024 dengan pendapatan sekitar USD 3,3 miliar.
Baca Juga: Perayaan Tahun Baru 2026 di London Spektakuler, 12.000 Kembang Api Pukau 100.000 Pengunjung
3. Robert Budi Hartono
Bersama saudaranya Michael (orang terkaya ke-4 di Indonesia), Budi Hartono mewarisi Djarum yang sedang dalam kesulitan pascakebakaran. Mereka berhasil membangun ulang dan memodernisasinya hingga menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar dunia. Pada 1970-an dan 1980-an, keluarga ini mendiversifikasi ke elektronik. Langkah strategis mereka adalah mengambil alih kendali Bank Central Asia, yang kini menyumbang sebagian besar kekayaan keluarga Hartono.
Dikutip dari eVnExpress, Prajogo Pangestu, taipan energi berusia 81 tahun, kian mengokohkan posisinya sebagai orang terkaya di Indonesia. Kekayaan bersihnya mencapai USD 39,5 miliar, nyaris dua kali lipat dari catatan Forbes pada Maret lalu.
Baca Juga: 500 Orang Terkaya Dunia Makin Tajir di 2025, Tumpuk Harta Rp36.000 Triliun dalam Setahun
Saham perusahaan-perusahaannya meroket 265% tahun ini, jauh melampaui pertumbuhan Indeks Komposi Jakarta yang hanya 21%, didorong oleh optimisme pasar atas ekspansi besar-besaran di sektor petrokimia dan energi terbarukan.
Di posisi kedua, kekayaan Low Tuck Kwong justru menyusut 11% menjadi USD 25,6 miliar. Penurunan ini tak lepas dari melandainya harga batubara secara global. Meski demikian, pria 76 tahun yang memulai karirnya di bisnis konstruksi keluarga di Singapura ini tetap memegang kerajaan tambang batubara yang sangat solid melalui Bayan Resources.
Sementara itu, di urutan ketiga, Robert Budi Hartono mengalami penurunan kekayaan bersih sebesar 4% menjadi USD21,4 miliar. Penurunan ini seiring dengan koreksi saham Bank Central Asia (BCA) sebesar 18% yang masih menjadi pilar utama hartanya. Bersama saudaranya, Michael, Budi Hartono membangun kerajaan bisnis yang sangat beragam dari warisan perusahaan rokok Djarum.
1. Prajogo Pangestu
Prajogo Pangestu membangun Barito Pacific Group dari usaha kayu kecil pada 1979 menjadi salah satu konglomerat petrokimia dan energi terkemuka di Asia Tenggara. Diversifikasi ke industri padat modal seperti petrokimia dan karet sintetis dimulai pada tahun 2000-an. Kekayaannya kini terutama berasal dari kepemilikan mayoritas sekitar 71% di Barito Pacific dan kendali di Petrindo Jaya Kreasi. Aset-asetnya mencakup petrokimia, energi geotermal dan terbarukan, batu bara, serta sumber daya lainnya.
2. Low Tuck Kwong
Low Tuck Kwong pindah ke Indonesia pada 1972 untuk mencari peluang yang lebih baik. Ia mendirikan kontraktor konstruksi Jaya Sumpiles Indonesia pada 1973 sebelum beralih ke batubara dengan mengakuisisi konsesi pertambangan di Kalimantan pada 1990-an. Untuk mengkonsolidasikan bisnisnya, ia mendirikan Bayan Resources Tbk pada 2004 dengan model terintegrasi dari tambang hingga logistik. Perusahaan itu kini tumbuh menjadi eksportir utama, memproduksi sekitar 56,9 juta ton batubara pada 2024 dengan pendapatan sekitar USD 3,3 miliar.
Baca Juga: Perayaan Tahun Baru 2026 di London Spektakuler, 12.000 Kembang Api Pukau 100.000 Pengunjung
3. Robert Budi Hartono
Bersama saudaranya Michael (orang terkaya ke-4 di Indonesia), Budi Hartono mewarisi Djarum yang sedang dalam kesulitan pascakebakaran. Mereka berhasil membangun ulang dan memodernisasinya hingga menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar dunia. Pada 1970-an dan 1980-an, keluarga ini mendiversifikasi ke elektronik. Langkah strategis mereka adalah mengambil alih kendali Bank Central Asia, yang kini menyumbang sebagian besar kekayaan keluarga Hartono.
(nng)
Lihat Juga :