Kinerja Operasional Solid 2025, MNC Energy Investments Siap Akselerasi Produksi di 2026
Jum'at, 09 Januari 2026 - 13:17 WIB
loading...
Di tahun 2025, IATA berhasil memproduksi 3,56 juta metric ton (MT) batubara dengan total penjualan mencapai 3,38 juta MT, atau sekitar 80% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - PT MNC Energy Investments Tbk (IDX: IATA) mencatatkan kinerja operasional positif sepanjang 2025, serta berada pada posisi strategis untuk mengakselerasi skala produksi batubara secara signifikan pada 2026 melalui optimalisasi seluruh wilayah Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) yang dikelola.
Di tahun 2025, IATA berhasil memproduksi 3,56 juta metric ton (MT) batubara dengan total penjualan mencapai 3,38 juta MT, atau sekitar 80% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025. Capaian ini didukung oleh dimulainya produksi IUP-OP PT Arthaco Prima Energy sejak kuartal III 2025, yang terus memperkuat basis operasional IATA.
Memasuki 2026, IATA menargetkan total produksi hingga 7,85 juta MT, melonjak 179% dibanding RKAB 2025, dengan kontribusi dari masing-masing IUP-OP sebagai berikut, PT Arthaco Prima Energy (APE): 3,00 juta MT, PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE): 1,10 juta MT, dan PT Putra Muba Coal (PMC): 3,75 juta MT.
Baca Juga: MNC Energy Investments dan KPP Mining Masuki Fase Produksi dengan 1st Digging Ceremony
Target produksi tahun 2026 bersifat indikatif, sesuai dengan pengajuan RKAB ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (menunggu persetujuan). Target ini ditopang oleh fundamental operasional IATA yang solid berupa cadangan batubara yang signifikan, infrastruktur terintegrasi, serta kesiapan logistik dan fasilitas pendukung di seluruh area operasional.
Memiliki 2 jetty manual dengan kapasitas 10.000 MT/hari, serta akan segera memulai konstruksi Barge Loading Conveyor (BLC) 4 feeder berkapasitas 40.000 MT/hari. Kapasitas pelabuhan eksisting mencapai 250.000 MT/bulan dan akan dinaikan menjadi 1.200.000 MT/bulan.
Kegiatan operasional diperkuat dukungan tongkang milik PT Karya Pacific Investama, selaku pemegang saham IATA. Bekerja sama dengan kontraktor PT Kalimantan Prima Persada (KPP MINING) dengan nilai kontrak Rp5 triliun dan sudah 1st digging pada awal Januari 2026.
Baca Juga: MNC Energy Investments dan KPP Mining Jalin Kerja Sama Jasa Pertambangan Batubara Senilai Rp5 T
Fasilitasi muat terdiri dari 1 jetty BLC dengan kapasitas 10.000 MT/hari dan 3 jetty manual berkapasitas 15.000 MT/hari. Memiliki kapasitas stockpile 350.000 MT. Diperkuat dengan dukungan armada tug boat/tongkang dari group sendiri (PT Karya Pacific Shipping), bagian dari pemegang saham IATA.
Dengan fondasi operasional yang semakin matang, infrastruktur yang memadai, serta kolaborasi strategis dengan kontraktor terkemuka, IATA yakin dapat mencapai target 2026 dan memperkuat posisinya sebagai pemain pertambangan batubara nasional yang terus tumbuh berkelanjutan.
Di tahun 2025, IATA berhasil memproduksi 3,56 juta metric ton (MT) batubara dengan total penjualan mencapai 3,38 juta MT, atau sekitar 80% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025. Capaian ini didukung oleh dimulainya produksi IUP-OP PT Arthaco Prima Energy sejak kuartal III 2025, yang terus memperkuat basis operasional IATA.
Memasuki 2026, IATA menargetkan total produksi hingga 7,85 juta MT, melonjak 179% dibanding RKAB 2025, dengan kontribusi dari masing-masing IUP-OP sebagai berikut, PT Arthaco Prima Energy (APE): 3,00 juta MT, PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE): 1,10 juta MT, dan PT Putra Muba Coal (PMC): 3,75 juta MT.
Baca Juga: MNC Energy Investments dan KPP Mining Masuki Fase Produksi dengan 1st Digging Ceremony
Target produksi tahun 2026 bersifat indikatif, sesuai dengan pengajuan RKAB ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (menunggu persetujuan). Target ini ditopang oleh fundamental operasional IATA yang solid berupa cadangan batubara yang signifikan, infrastruktur terintegrasi, serta kesiapan logistik dan fasilitas pendukung di seluruh area operasional.
IUP-OP APE
Memiliki cadangan batu bara sebesar 222 juta MT (GAR 3.100-3.300). Terdapat jalan hauling pit-to-port sepanjang +10 km, tidak bersinggungan dengan jalan umum, serta terpasang geotekstil dan perkerasan batu split secara menyeluruh.Memiliki 2 jetty manual dengan kapasitas 10.000 MT/hari, serta akan segera memulai konstruksi Barge Loading Conveyor (BLC) 4 feeder berkapasitas 40.000 MT/hari. Kapasitas pelabuhan eksisting mencapai 250.000 MT/bulan dan akan dinaikan menjadi 1.200.000 MT/bulan.
Kegiatan operasional diperkuat dukungan tongkang milik PT Karya Pacific Investama, selaku pemegang saham IATA. Bekerja sama dengan kontraktor PT Kalimantan Prima Persada (KPP MINING) dengan nilai kontrak Rp5 triliun dan sudah 1st digging pada awal Januari 2026.
IUP-OP IBPE
Memiliki cadangan batu bara sebesar 25 juta MT (GAR 3.151-3.344). Terdapat jalan hauling pit-to-port sepanjang ±3.5 km dan tidak bersinggungan dengan jalan umum. IUP-OP IBPE menggunakan pelabuhan yang sama dengan IUP-OP PMC.IUP-OP PMC
Memiliki cadangan batu bara sebesar 54,8 juta MT (GAR 2.700-3.547). Terdapat jalan hauling pit-to-port sepanjang ±17 km, tidak bersinggungan dengan jalan umum dan 100% jalan dalam kondisi all weather roads.Baca Juga: MNC Energy Investments dan KPP Mining Jalin Kerja Sama Jasa Pertambangan Batubara Senilai Rp5 T
Fasilitasi muat terdiri dari 1 jetty BLC dengan kapasitas 10.000 MT/hari dan 3 jetty manual berkapasitas 15.000 MT/hari. Memiliki kapasitas stockpile 350.000 MT. Diperkuat dengan dukungan armada tug boat/tongkang dari group sendiri (PT Karya Pacific Shipping), bagian dari pemegang saham IATA.
Dengan fondasi operasional yang semakin matang, infrastruktur yang memadai, serta kolaborasi strategis dengan kontraktor terkemuka, IATA yakin dapat mencapai target 2026 dan memperkuat posisinya sebagai pemain pertambangan batubara nasional yang terus tumbuh berkelanjutan.
(akr)
Lihat Juga :