Kuota Impor Dipangkas Jadi 30.000 Ton, Pengusaha Daging Protes

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:02 WIB
loading...
Kuota Impor Dipangkas...
Sejumlah asosiasi pengusaha daging sapi yang tergabung dalam berbagai wadah industri menyampaikan keberatan atas kebijakan pemerintah terkait alokasi kuota impor daging sapi reguler untuk tahun 2026. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Sejumlah asosiasi pengusaha daging sapi yang tergabung dalam berbagai wadah industri menyampaikan keberatan atas kebijakan pemerintah terkait alokasi kuota impor daging sapi reguler untuk tahun 2026. Langkah protes ini mencuat setelah kouta impor bagi pihak swasta dilaporkan mengalami pemangkasan drastis menjadi hanya 30.000 ton, atau merosot hingga 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kegelisahan para pelaku usaha ini memuncak dengan mendatangi kantor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian di Jakarta. Para importir mempertanyakan dasar pertimbangan pemerintah yang memangkas kuota tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu, mengingat pada tahun lalu alokasi impor daging sapi reguler berada di angka 180.000 ton.

"Kami datang meminta penjelasan pemerintah mengapa kouta impor daging sapi reguler diberikan hanya 30.000 ton tahun ini untuk 100 lebih importir daging. Padahal, tahun lalu kuota impor yang diberikan pemerintah mencapai 180.000 ton," ujar wakil Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI), Marina Ratna DK kepada wartawan usai menyambangi Ditjen PKH, Jumat (9/1).

Selain APPHI, delegasi pengusaha ini juga didampingi oleh perwakilan dari Asosiasi Pengusaha dan Pengolahan Daging Indonesia (APPDI), Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI), serta Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA). Mereka menilai kebijakan ini tidak hanya mengejutkan secara administratif, tetapi juga mengancam keberlangsungan industri daging nasional secara sistematis.

Direktur Eksekutif APDDI, Teguh Boediyana, menyatakan bahwa para pengusaha telah menyiapkan rencana operasional tahunan berdasarkan realisasi kuota tahun lalu. Pemangkasan mendadak ini dianggap menempatkan perusahaan dalam situasi yang sangat pelik. Menurutnya, keterbatasan kuota akan berimbas langsung pada efisiensi perusahaan, termasuk risiko terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) demi menekan kerugian operasional.

Para importir juga menyoroti adanya ketimpangan dalam distribusi mandat impor. Marina memaparkan bahwa dari total kuota impor 297.000 ton yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, porsi terbesar dialokasikan kepada BUMN, yakni PT Berdikari dan PT PPI. Alokasi tersebut mencakup 100.000 ton daging kerbau India, 75.000 ton daging sapi Brasil, serta 75.000 ton dari negara mitra lainnya.

Sebaliknya, sebanyak 108 perusahaan swasta harus berbagi jatah di angka 30.000 ton, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan industri. Selain volume yang menyusut, pengusaha juga mengeluhkan pembatasan jenis produk (kode HS) yang boleh diimpor, yang dinilai tidak memberikan ruang fleksibilitas bagi kebutuhan pasar yang beragam.

Kondisi ini dipandang bertolak belakang dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang sempat mengarahkan penyederhanaan birokrasi impor, terutama untuk komoditas yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Pelaku usaha menyayangkan bahwa arahan strategis tersebut belum sepenuhnya terimplementasi dalam tatanan teknis di kementerian terkait.

Baca Juga: KPK Diminta Usut Dugaan Pengancaman Pengusaha dan Monopoli Impor Daging

Sektor yang paling terdampak langsung dari pembatasan ini adalah industri Hotel, Restoran, dan Katering (Horeka). Marina menekankan bahwa industri Horeka membutuhkan spesifikasi daging tertentu yang selama ini dipenuhi oleh swasta. Ketidakmampuan pemenuhan stok dari jalur swasta dikhawatirkan akan mengganggu kinerja sektor pariwisata dan kuliner yang menjadi tulang punggung ekonomi riil.



Teguh menambahkan bahwa keterlibatan swasta sangat krusial dalam menjaga keseimbangan pasar. Ia berpendapat bahwa penguasaan distribusi oleh BUMN semestinya difokuskan pada penugasan khusus seperti stabilisasi harga atau keadaan darurat, namun kenyataannya harga di tingkat pasar seringkali tetap fluktuatif meskipun ada intervensi melalui impor penugasan.

Ketidakterbukaan informasi mengenai alasan pemangkasan kuota ini dinilai sebagai langkah mundur dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Minimnya ruang diskusi sebelum kebijakan diketuk membuat pelaku usaha merasa dianaktirikan dalam ekosistem tata niaga daging nasional yang seharusnya bersifat kolaboratif antara pemerintah, BUMN, dan swasta.

Baca Juga: Pengusaha Daging Resah, Pemerintah Diduga Hambat Izin Impor

Sebagai tindak lanjut, para pengusaha tidak hanya melayangkan keberatan kepada Kementerian Pertanian. Surat keluhan dan permohonan peninjauan ulang kebijakan ini juga akan ditembuskan kepada Kementerian Perdagangan serta Kantor Menteri Koordinator Bidang Pangan, dengan harapan ada solusi moderat yang bisa menyelamatkan industri daging dalam negeri.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Antisipasi Lonjakan...
Antisipasi Lonjakan Harga Obat, BPOM Permudah Perizinan Bahan Baku Impor
BPS: Neraca Dagang RI...
BPS: Neraca Dagang RI Januari-April 2026 Surplus USD5,64 Miliar
Bea Cukai Respons Munculnya...
Bea Cukai Respons Munculnya Nama Dirjen Djaka Budi Utama dalam Dakwaan Kasus Suap Impor
4 Juta Barel Minyak...
4 Juta Barel Minyak Iran Tiba di India Sebelum Berakhirnya Masa Tenggang Sanksi AS
Pengecualian Sanksi...
Pengecualian Sanksi AS, India Banjir Minyak Rusia Melonjak 90%
Namanya Terseret Kasus...
Namanya Terseret Kasus Dugaan Suap Impor Bea Cukai, Raffi Ahmad Buka Suara
Kasus Bea Cukai, KPK...
Kasus Bea Cukai, KPK Periksa 20 Petinggi Forwarder
Selain Daun Pepaya dan...
Selain Daun Pepaya dan Nanas, Ini Bahan Alami Lain untuk Mengempukkan Daging Kurban
Rekomendasi
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Xbox Hadapi Tekanan...
Xbox Hadapi Tekanan Keuangan, CEO Mengancam Restrukturisasi
Tarian Tradisional Sambut...
Tarian Tradisional Sambut Kedatangan Presiden Jerman Steinmeier di Halim
Berita Terkini
IHSG Dibuka Melesat...
IHSG Dibuka Melesat 1,85% ke 6.118, Mayoritas Saham Menghijau
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp18.000, Buyback Melonjak Rp46.000 per Gram
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Pastikan Kualitas BBM dengan Pengelolaan Impurities di Kilang
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
Bank Mantap Dorong Penerapan...
Bank Mantap Dorong Penerapan Gaya Hidup Ramah Lingkungan di Sekolah
Stok BBM Global Menipis,...
Stok BBM Global Menipis, Dunia Sedang Menguras Cadangan Minyaknya
Infografis
Balas Dendam ke AS,...
Balas Dendam ke AS, China Naikkan Tarif Impor Jadi 125%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved