Efek Nataru, Penjualan Ritel Tumbuh Tertinggi dalam Dua Tahun
Senin, 12 Januari 2026 - 12:00 WIB
loading...
Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru memberikan dorongan signifikan bagi kinerja industri ritel nasional. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru memberikan dorongan signifikan bagi kinerja industri ritel nasional. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penjualan eceran pada Desember 2025 tetap berada dalam tren pertumbuhan yang solid, mencerminkan kuatnya konsumsi masyarakat pada akhir tahun.
Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran, Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diprakirakan tumbuh 4,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian tersebut menjadi yang tertinggi hampir dalam dua tahun terakhir dan menegaskan pemulihan permintaan domestik yang berlanjut.
"Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Senin (12/1/2026).
Baca Juga: Cadangan Devisa Indonesia Desember 2025 Naik ke USD156,5 Miliar
Secara bulanan (month-to-month/mtm), penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan melonjak 4,0 persen. Angka ini meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan November 2025 yang tercatat sebesar 1,5 persen, seiring meningkatnya aktivitas belanja masyarakat selama periode libur panjang.
Lonjakan penjualan tersebut terutama didorong oleh mayoritas kelompok barang, dengan kontribusi besar berasal dari Peralatan Informasi dan Komunikasi serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya. Peningkatan ini mencerminkan pergeseran pola belanja konsumen yang memanfaatkan momen akhir tahun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan hiburan.
Baca Juga: BI Beberkan Alasan Hapus JIBOR Beralih ke INDONIA Mulai 2026
Sebelumnya, pada November 2025, IPR secara tahunan juga mencatatkan pertumbuhan kuat sebesar 6,3 persen. Menurut BI, kinerja tersebut didukung oleh peningkatan penjualan di berbagai kelompok barang yang mulai menunjukkan geliat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Meski penjualan eceran menunjukkan tren positif, BI mencatat adanya potensi tekanan inflasi ke depan. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 tercatat meningkat ke level 168,6 dari 163,2, didorong ekspektasi kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan 1447 H, meskipun tekanan inflasi jangka menengah pada Mei 2026 diprakirakan mereda.
Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran, Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diprakirakan tumbuh 4,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian tersebut menjadi yang tertinggi hampir dalam dua tahun terakhir dan menegaskan pemulihan permintaan domestik yang berlanjut.
"Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Senin (12/1/2026).
Baca Juga: Cadangan Devisa Indonesia Desember 2025 Naik ke USD156,5 Miliar
Secara bulanan (month-to-month/mtm), penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan melonjak 4,0 persen. Angka ini meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan November 2025 yang tercatat sebesar 1,5 persen, seiring meningkatnya aktivitas belanja masyarakat selama periode libur panjang.
Lonjakan penjualan tersebut terutama didorong oleh mayoritas kelompok barang, dengan kontribusi besar berasal dari Peralatan Informasi dan Komunikasi serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya. Peningkatan ini mencerminkan pergeseran pola belanja konsumen yang memanfaatkan momen akhir tahun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan hiburan.
Baca Juga: BI Beberkan Alasan Hapus JIBOR Beralih ke INDONIA Mulai 2026
Sebelumnya, pada November 2025, IPR secara tahunan juga mencatatkan pertumbuhan kuat sebesar 6,3 persen. Menurut BI, kinerja tersebut didukung oleh peningkatan penjualan di berbagai kelompok barang yang mulai menunjukkan geliat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Meski penjualan eceran menunjukkan tren positif, BI mencatat adanya potensi tekanan inflasi ke depan. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 tercatat meningkat ke level 168,6 dari 163,2, didorong ekspektasi kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan 1447 H, meskipun tekanan inflasi jangka menengah pada Mei 2026 diprakirakan mereda.
(nng)
Lihat Juga :