Rupiah Terkapar Sentuh Rp16.896 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya
Kamis, 15 Januari 2026 - 16:40 WIB
loading...
Pengamat pasar uang ungkap beberapa faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terkapar ke level Rp16.896 per dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (15/1/2026), turun 31 poin atau sekitar 0,18% ke level Rp16.896 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda juga terlihat pada data JISDOR BI, usai jatuh ke Rp16.880/USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu ketegangan antara AS dan Iran mereda setelah Trump mengatakan ia telah diyakinkan bahwa otoritas Iran akan berhenti membunuh para demonstran dan tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar. Hal itu meredakan kekhawatiran bahwa Washington sedang mempersiapkan respons militer segera terhadap demonstrasi menentang pemerintah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
“AS mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela, setelah Presiden AS mengatakan ia berbicara pada hari Kamis sebelumnya dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dan menggambarkan panggilan tersebut sebagai sangat positif,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Trump mengatakan, diskusi mencakup "minyak, mineral, perdagangan dan, tentu saja, keamanan nasional," menambahkan bahwa "kami membuat kemajuan yang luar biasa, saat kami membantu Venezuela menstabilkan dan pulih."
Baca Juga: Rupiah Coba Melawan Balik Dolar AS, Hari Ini Sentuh Rp16.865
Kemudian dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan, dia tidak berencana untuk memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell, meskipun ada penyelidikan yang sedang berlangsung. Komentar Trump meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS.
Sementara itu Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) di AS untuk bulan Oktober menunjukkan bahwa harga produsen jauh dari target 2% Fed, namun para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada tahun 2026.
Data lebih lanjut mengungkapkan bahwa Penjualan Ritel melebihi perkiraan, sebuah indikasi bahwa rumah tangga Amerika meningkatkan pengeluaran, sebagian besar untuk kendaraan bermotor dan lainnya.
Hari ini fokus pasar adalah Klaim Pengangguran Awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan bahwa 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya.
Dari sentimen domestik, konsumsi rumah tangga hingga kini masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional, dengan didominasi oleh kelas menengah. Namun kelas menengah di Indonesia mengalami kondisi tertekan dan bergerak menuju ke kelompok rentan.
Baca Juga: Rupiah Melemah Menuju Rp17.000 per Dolar AS, Purbaya: Anda Nggak Usah Takut
Perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya. Sebab kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi.
Stimulus ekonomi pemerintah diketahui kerap kali lebih banyak digelontorkan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah atau kelompok miskin. Di antaranya seperti bantuan sosial (bansos), program keluarga harapan (PKH), dan bantuan langsung tunai (BLT).
Sementara untuk kalangan menengah yang baru-baru ini ditetapkan pemerintah yakni insentif pajak penghasilan (PPh) 21 bagi pekerja di sektor padat karya dan pariwisata dengan penghasilan di bawah Rp 10 juta per bulan. Namun, stimulus itu baru diberlakukan bagi lima sektor, yakni industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta sektor pariwisata.
Pemerintah juga perlu untuk memperluas atau memperbanyak bentuk stimulus untuk kalangan menengah. Bahkan perlunya kelompok menengah memperoleh stimulus yang serupa dengan stimulus yang digelontorkan untuk kelompok masyarakat berpengasilan rendah.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.840 - Rp17.000 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu ketegangan antara AS dan Iran mereda setelah Trump mengatakan ia telah diyakinkan bahwa otoritas Iran akan berhenti membunuh para demonstran dan tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar. Hal itu meredakan kekhawatiran bahwa Washington sedang mempersiapkan respons militer segera terhadap demonstrasi menentang pemerintah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
“AS mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela, setelah Presiden AS mengatakan ia berbicara pada hari Kamis sebelumnya dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dan menggambarkan panggilan tersebut sebagai sangat positif,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Trump mengatakan, diskusi mencakup "minyak, mineral, perdagangan dan, tentu saja, keamanan nasional," menambahkan bahwa "kami membuat kemajuan yang luar biasa, saat kami membantu Venezuela menstabilkan dan pulih."
Baca Juga: Rupiah Coba Melawan Balik Dolar AS, Hari Ini Sentuh Rp16.865
Kemudian dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan, dia tidak berencana untuk memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell, meskipun ada penyelidikan yang sedang berlangsung. Komentar Trump meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS.
Sementara itu Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) di AS untuk bulan Oktober menunjukkan bahwa harga produsen jauh dari target 2% Fed, namun para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada tahun 2026.
Data lebih lanjut mengungkapkan bahwa Penjualan Ritel melebihi perkiraan, sebuah indikasi bahwa rumah tangga Amerika meningkatkan pengeluaran, sebagian besar untuk kendaraan bermotor dan lainnya.
Hari ini fokus pasar adalah Klaim Pengangguran Awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan bahwa 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya.
Dari sentimen domestik, konsumsi rumah tangga hingga kini masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional, dengan didominasi oleh kelas menengah. Namun kelas menengah di Indonesia mengalami kondisi tertekan dan bergerak menuju ke kelompok rentan.
Baca Juga: Rupiah Melemah Menuju Rp17.000 per Dolar AS, Purbaya: Anda Nggak Usah Takut
Perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya. Sebab kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi.
Stimulus ekonomi pemerintah diketahui kerap kali lebih banyak digelontorkan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah atau kelompok miskin. Di antaranya seperti bantuan sosial (bansos), program keluarga harapan (PKH), dan bantuan langsung tunai (BLT).
Sementara untuk kalangan menengah yang baru-baru ini ditetapkan pemerintah yakni insentif pajak penghasilan (PPh) 21 bagi pekerja di sektor padat karya dan pariwisata dengan penghasilan di bawah Rp 10 juta per bulan. Namun, stimulus itu baru diberlakukan bagi lima sektor, yakni industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta sektor pariwisata.
Pemerintah juga perlu untuk memperluas atau memperbanyak bentuk stimulus untuk kalangan menengah. Bahkan perlunya kelompok menengah memperoleh stimulus yang serupa dengan stimulus yang digelontorkan untuk kelompok masyarakat berpengasilan rendah.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.840 - Rp17.000 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :