5 Modal Mendorong Penguatan Sistem Ekonomi Domestik
Kamis, 15 Januari 2026 - 21:51 WIB
loading...
Dalam Dialog Sosial APINDO dan KSPSI mengemuka setidaknya ada lima modal penting dalam penguatan ekonomi dalam negeri atau ekonomi domestik. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Indonesia diyakini memiliki modal kuat dalam membangun sistem ekonomi domestik yang kuat. Dalam Dialog Sosial Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia ( KSPSI ) di Jakarta, Rabu (14/1) mengemuka setidaknya ada lima modal penting dalam penguatan ekonomi dalam negeri atau ekonomi domestik yakni pasar dalam negeri yang besar, pelaku industri idealis, tenaga kerja berkualitas, sumber bahan baku melimpah dan bahkan moda kapital yang cukup.
Ketua Umum KSPSI, Moh Jumhur Hidayat mengatakan, bila teguh dan percaya pada kemampuan diri sendiri untuk menguatkan kelima hal itu, maka sistem ekonomi domestik yang kuat itu bisa terwujud.
“Nah kalau dari lima hal itu kita kekurangan, barulah kita berpikir tentang asing. Jangan sampai kelima syarat itu belum dieksplorasi dengan optimal sudah langsung berasing-asing ria apalagi berupa impor produk-produk jadi," ujar Jumhur.
Baca Juga: Spirit Memperkuat Ekonomi Domestik
Sementara itu Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Bob Azam menyampaikan, bahwa dari survei APINDO saat ini 67% pengusaha belum siap untuk ekspansi, sementara sekitar 50% sudah mengurangi pekerja. Dalam keadaan seperti ini pastinya pendapatan pajak akan berkurang.
Dalam keadaan seperti ini Bob semakin heran mengapa impor barang jadi malah dipermudah yang justru membanjiri pasar dalam negeri. Tapi sebaliknya impor barang untuk keperluan industri mengalami kendala.
“Khawatirnya pemerintah akan meningkatkan pajak lagi dengan menekan pengusaha. Kalau peningkatannya dari ekstensi pajak sih itu baik. Dengan pemotongan anggaran ke daerah, juga khawatir pemda membebani masyarakatnya dengan pajak darah yang tinggi seperti PBB yang akhirnya mengurangi daya beli masyarakat," urai Bob Azam.
Tokoh industriawan APINDO, Anton Supit menyoroti dari sisi hubungan mikro dan makro. Sesungguhnya keadaan makro ekonomi itu harus tercermin dari dinamika mikro ekonomi atau sektor rill.
“Karena itu, sektor mikro ini harus betul-betuk dibenahi dengan regulasi yang mendukungnya. Dalam hal ini, di samping memperbaiki sistem industri dan perdagangan juga perlu dirumuskan penerapan Hubungan Industrial Pancasila untuk mencapai keadilan bagi semua pihak," ujar Anton Supit.
![5 Modal Mendorong Penguatan Sistem Ekonomi Domestik]()
Sekjend KSPSI Arif Minardi mengajak para pengusaha bersatu membentuk semacam satgas antara pelaku industri dan serikat pekerja untuk ikut menyelesaikan masalah ekosistem perindustrian. “Buruh dan Pengusaha itu punya banyak kepentingan yang sama, jadi wajar kalau kita bentuk kerjasama kemudian menginventarisir berbagai masalah perekonomian secara menyeluruh termasuk impor-impor ilegal untuk kita perjuangkan perbaikannya," tegas Arif.
Baca Juga: KSPSI dan KOWAJA Kerja Sama Pengadaan Beras bagi Pekerja Jakarta dan Sekitarnya
Kesimpulan dari Dialog Sosial ini adalah perlunya perombakan Rezim Perdagangan dan Industri agar bisa memperkuat sistem ekonomi domestik. "Dengan kokohnya ekonomi domestik Indonesia, maka Indonesia akan lebih mandiri. Saya rasa hal ini adalah juga yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto," pungkas Jumhur.
Dialog Sosial kali ini diselenggarakan KSPSI setelah sebelumnya di tahun lalu diinisiasi dan diselenggarakan oleh APINDO. Untuk kali ini, dari APINDO di antaranya dihadiri Bob Azam, Anton Supit, Subchan, Mira Hanartani dan Henry Wibowo dan Popy Meilani. Sementara dari KSPSI di antaranya dihadiri Jumhur Hidayat, Idrus, Saadi Pamungkas, Arif Minardi, Henry Wardana, Raslina Rasyidin, Dedi Sudarajat dan Jemmy Pongoh.
Ketua Umum KSPSI, Moh Jumhur Hidayat mengatakan, bila teguh dan percaya pada kemampuan diri sendiri untuk menguatkan kelima hal itu, maka sistem ekonomi domestik yang kuat itu bisa terwujud.
“Nah kalau dari lima hal itu kita kekurangan, barulah kita berpikir tentang asing. Jangan sampai kelima syarat itu belum dieksplorasi dengan optimal sudah langsung berasing-asing ria apalagi berupa impor produk-produk jadi," ujar Jumhur.
Baca Juga: Spirit Memperkuat Ekonomi Domestik
Sementara itu Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Bob Azam menyampaikan, bahwa dari survei APINDO saat ini 67% pengusaha belum siap untuk ekspansi, sementara sekitar 50% sudah mengurangi pekerja. Dalam keadaan seperti ini pastinya pendapatan pajak akan berkurang.
Dalam keadaan seperti ini Bob semakin heran mengapa impor barang jadi malah dipermudah yang justru membanjiri pasar dalam negeri. Tapi sebaliknya impor barang untuk keperluan industri mengalami kendala.
“Khawatirnya pemerintah akan meningkatkan pajak lagi dengan menekan pengusaha. Kalau peningkatannya dari ekstensi pajak sih itu baik. Dengan pemotongan anggaran ke daerah, juga khawatir pemda membebani masyarakatnya dengan pajak darah yang tinggi seperti PBB yang akhirnya mengurangi daya beli masyarakat," urai Bob Azam.
Tokoh industriawan APINDO, Anton Supit menyoroti dari sisi hubungan mikro dan makro. Sesungguhnya keadaan makro ekonomi itu harus tercermin dari dinamika mikro ekonomi atau sektor rill.
“Karena itu, sektor mikro ini harus betul-betuk dibenahi dengan regulasi yang mendukungnya. Dalam hal ini, di samping memperbaiki sistem industri dan perdagangan juga perlu dirumuskan penerapan Hubungan Industrial Pancasila untuk mencapai keadilan bagi semua pihak," ujar Anton Supit.

Sekjend KSPSI Arif Minardi mengajak para pengusaha bersatu membentuk semacam satgas antara pelaku industri dan serikat pekerja untuk ikut menyelesaikan masalah ekosistem perindustrian. “Buruh dan Pengusaha itu punya banyak kepentingan yang sama, jadi wajar kalau kita bentuk kerjasama kemudian menginventarisir berbagai masalah perekonomian secara menyeluruh termasuk impor-impor ilegal untuk kita perjuangkan perbaikannya," tegas Arif.
Baca Juga: KSPSI dan KOWAJA Kerja Sama Pengadaan Beras bagi Pekerja Jakarta dan Sekitarnya
Kesimpulan dari Dialog Sosial ini adalah perlunya perombakan Rezim Perdagangan dan Industri agar bisa memperkuat sistem ekonomi domestik. "Dengan kokohnya ekonomi domestik Indonesia, maka Indonesia akan lebih mandiri. Saya rasa hal ini adalah juga yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto," pungkas Jumhur.
Dialog Sosial kali ini diselenggarakan KSPSI setelah sebelumnya di tahun lalu diinisiasi dan diselenggarakan oleh APINDO. Untuk kali ini, dari APINDO di antaranya dihadiri Bob Azam, Anton Supit, Subchan, Mira Hanartani dan Henry Wibowo dan Popy Meilani. Sementara dari KSPSI di antaranya dihadiri Jumhur Hidayat, Idrus, Saadi Pamungkas, Arif Minardi, Henry Wardana, Raslina Rasyidin, Dedi Sudarajat dan Jemmy Pongoh.
(akr)
Lihat Juga :