Dorong PLTS Atap, Kementerian ESDM Alihkan Sebagian Subsidi Listrik
Rabu, 16 September 2020 - 19:01 WIB
loading...
A
A
A
"Kalau ada aset PLTS surya ini akan ada produksi listrik yang selalu mengalir. Tentunya ini akan memberikan dampak positif terhadap PLN karena nanti biaya listrik PLN akan menurun. Kemudian, emisi juga akan menurun karena sebagian diganti dengan PLTS. Dengan begitu target EBT akan meningkat capaiannya," jelasnya. (Baca juga: Tak Mau Ketinggalan, Indonesia Bisa Bikin Baterai Kendaraan Listrik 4 Tahun Lagi )
Harris melanjutkan, dalam pengembangan PLTS skala besar, pemerintah melakukan kerja sama dengan ADB melalui proses pelelangan. "Mereka sedang melakukan studi bagaimana strategi kita melakukan pelelangan besar," ungkapnya.
Kementerian ESDM juga berencana mengembangkan PLTS di area lahan eks tambang di berbagai daerah yang potensinya cukup besar. "Kemudian ada PLTS terapung, PLTS cold storage yang potensinya juga cukup besar, dan PLTS hybrid untuk memenuhi listrik di daerah 3T," tutur Harris.
Harris menuturkan, saat ini tenaga surya dan angin mempunyai tren yang paling tinggi implementasinya di dunia. Bahkan dalam perkembangannya telah terjadi perubahan yang sangat drastis di mana PLTS yang sering dianggap mahal sekarang harganya menjadi paling murah.
"Sekitar 10 tahun ini terjadi perubahan yang sangat drastis, dari yang mengatakan PLTS mahal, sekarang harganya mungkin yang paling murah. Sudah mencapai USD1,35 sen per kWh. Dibandingkan pembangkit lain seperti fosil, batubara pun, yang tidak dikenai biaya karbon, harganya masih mahal dari PLTS yang ada saat ini," tandasnya.
Harris melanjutkan, dalam pengembangan PLTS skala besar, pemerintah melakukan kerja sama dengan ADB melalui proses pelelangan. "Mereka sedang melakukan studi bagaimana strategi kita melakukan pelelangan besar," ungkapnya.
Kementerian ESDM juga berencana mengembangkan PLTS di area lahan eks tambang di berbagai daerah yang potensinya cukup besar. "Kemudian ada PLTS terapung, PLTS cold storage yang potensinya juga cukup besar, dan PLTS hybrid untuk memenuhi listrik di daerah 3T," tutur Harris.
Harris menuturkan, saat ini tenaga surya dan angin mempunyai tren yang paling tinggi implementasinya di dunia. Bahkan dalam perkembangannya telah terjadi perubahan yang sangat drastis di mana PLTS yang sering dianggap mahal sekarang harganya menjadi paling murah.
"Sekitar 10 tahun ini terjadi perubahan yang sangat drastis, dari yang mengatakan PLTS mahal, sekarang harganya mungkin yang paling murah. Sudah mencapai USD1,35 sen per kWh. Dibandingkan pembangkit lain seperti fosil, batubara pun, yang tidak dikenai biaya karbon, harganya masih mahal dari PLTS yang ada saat ini," tandasnya.
(ind)
Lihat Juga :