Pasar Kredit Global di Titik Kritis, Pakar Ingatkan Memori Kelam Krisis 2008

Minggu, 18 Januari 2026 - 09:12 WIB
loading...
Pasar Kredit Global...
Pasar obligasi global kini tengah berada di titik kritis seiring menyusutnya selisih kredit (spread) ke level terendah dalam hampir dua dekade. FOTO/Bloomberg
A A A
JAKARTA - Pasar obligasi global kini tengah berada di titik kritis seiring menyusutnya selisih kredit (spread) ke level terendah dalam hampir dua dekade. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor mulai mengabaikan risiko fundamental demi mengejar reli utang korporasi yang kian padat, menyerupai situasi menjelang krisis keuangan global tahun 2008.

Berdasarkan data Indeks Bloomberg yang melacak obligasi lintas mata uang, spread kredit saat ini menyempit hingga 103 basis poin. Angka ini merupakan level terendah yang terakhir kali terlihat pada Juni 2007. Fenomena ini tidak hanya menyasar obligasi berperingkat investasi (investment grade), tetapi juga merambah ke obligasi berperingkat spekulatif atau junk bond.

"Rasa puas diri merupakan risiko terbesar di pasar saat ini," ujar Direktur Investasi Pendapatan Tetap di Aberdeen Investments, Luke Hickmore. Ia menyarankan investor untuk menghindari pengambilan risiko yang berlebihan di tengah euforia pasar dinilai mulai tidak rasional.

Baca Juga: Protes Pedesaan China Melonjak Tajam di Tengah Tekanan Ekonomi

Penyempitan spread ini terjadi secara ironis di tengah lonjakan penerbitan obligasi global yang mencetak rekor sejarah. Pada paruh pertama Januari 2026 saja, perusahaan global telah menerbitkan utang senilai USD435 miliar, melonjak lebih dari sepertiga dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Goldman Sachs memimpin tren ini dengan penjualan utang sebesar USD16 miliar, diikuti Morgan Stanley dan Wells Fargo.

Agresivitas aliran dana ke pasar kredit ini utamanya didorong oleh ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve dan bank sentral lain. Optimisme tersebut diperkuat oleh langkah Bank Dunia yang menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB riil global 2026 menjadi 2,6%, didorong oleh performa ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tetap tangguh.

Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, sejumlah pengelola aset kelas dunia mulai menyuarakan peringatan. Tiffany Wilding dan Andrew Balls dari Pacific Investment Management Co. (Pimco) menilai imbal hasil yang kuat dalam beberapa waktu terakhir justru telah "memicu sikap lengah" di kalangan pelaku pasar.



Pimco kini memilih untuk lebih selektif dalam mengalokasikan dana. Mereka mendeteksi adanya tanda-tanda perilaku fase akhir siklus (late-cycle behavior) di pasar kredit global, yang biasanya diikuti oleh pelemahan fundamental ekonomi secara tiba-tiba.

Secara historis, kondisi saat ini memiliki kemiripan yang mencemaskan dengan periode musim gugur 2007. Kala itu, selisih obligasi berperingkat AAA berada di posisi 100 basis poin sebelum akhirnya melebar secara ekstrem saat krisis finansial meledak dan menghancurkan stabilitas ekonomi dunia.

Baca Juga: Bloomberg Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5% di 2026

Sebagai pengingat, saat Lehman Brothers runtuh pada September 2008, selisih kredit melonjak drastis hingga menembus angka 600 basis poin. Dengan bantalan risiko yang kini sangat tipis, para analis memperingatkan bahwa pasar kredit global sangat rentan terhadap guncangan jika terjadi pemburukan kondisi keuangan yang tak terduga.

Tanpa adanya kewaspadaan terhadap premi risiko yang kian menipis, pasar modal dunia dikhawatirkan akan terjebak dalam siklus yang sama dengan krisis dua dekade silam, di mana optimisme berlebihan menjadi pembuka jalan bagi keruntuhan ekonomi global.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Rekor Terburuk Lagi,...
Rekor Terburuk Lagi, Rupiah Tembus Rp18.187 per Dolar AS Sore Ini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Dorong Media CCTV Masuk ke Bisnis E-commerce
Rekomendasi
Ini Teks Resmi 14 Poin...
Ini Teks Resmi 14 Poin Kesepakatan Damai AS dan Iran
10 Pemain Tersubur dalam...
10 Pemain Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia: Lionel Messi Naik Takhta!
Dharma Pongrekun Rombak...
Dharma Pongrekun Rombak 85% Gugatan UU Kesehatan di MK
Berita Terkini
Dokumen Rahasia Bocor!...
Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran
Menhub Minta Tambahan...
Menhub Minta Tambahan Anggaran Rp20 Triliun, Buat Apa?
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
NHM Raih PROPER Biru...
NHM Raih PROPER Biru KLHK, Tegaskan Komitmen terhadap Pengelolaan Lingkungan yang Taat dan Berkelanjutan
Mau Bebas Iuran Tahunan...
Mau Bebas Iuran Tahunan Seumur Hidup? Yuk, Ajukan Kartu Kredit MNC Bank Sekarang
Infografis
5 Negara BRICS Terkuat...
5 Negara BRICS Terkuat di Tahun 2025 Versi Global Fire Power
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved