DBS Dorong Perencanaan Keuangan Jangka Panjang Hadapi Transisi Demografi

Selasa, 20 Januari 2026 - 18:14 WIB
loading...
DBS Dorong Perencanaan...
Bank DBS Indonesia hadirkan retirement goal calculator untuk merencanakan masa tua. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Perubahan struktur demografi menjadikan perencanaan keuangan jangka panjang, khususnya persiapan pensiun, semakin relevan bagi masyarakat Indonesia. Dalam dua dekade ke depan, Indonesia diperkirakan memasuki fase penuaan penduduk, seiring menyusutnya bonus demografi dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia yang membutuhkan kesiapan finansial, kesehatan, serta perlindungan sosial yang memadai.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan lebih dari 14 persen penduduk Indonesia berusia di atas 60 tahun pada 2035, dan meningkat menjadi sekitar 20 persen atau 63 juta jiwa pada 2045. Kondisi ini menuntut perubahan cara pandang, dari pensiun sebagai fase akhir kehidupan menjadi bagian dari perencanaan ekonomi yang perlu dipersiapkan sejak usia produktif.

“Perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan. Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika dalam pernyataannya, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga: digibank by DBS Bawa Bank DBS Raih Penghargaan Digital Innovation Awards 2025

Sejalan dengan itu, perencanaan pensiun dinilai tidak semata berkaitan dengan akumulasi dana, tetapi juga pemahaman terhadap kebutuhan hidup di masa tua, termasuk gaya hidup, kesehatan, dan tujuan personal. Berbagai alat bantu perencanaan keuangan kini digunakan sebagai referensi awal untuk membantu masyarakat menghitung kebutuhan pensiun secara lebih terarah dan realistis.



Perhitungan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pensiun dapat mencapai nilai signifikan, terutama jika mempertimbangkan inflasi, harapan hidup yang semakin panjang, serta keinginan mempertahankan kualitas hidup. Kondisi ini mendorong pentingnya disiplin menabung dan berinvestasi sejak dini, meski dengan nominal bertahap.

Founder & CEO QM Financial Ligwina Hananto menilai banyak masyarakat masih menunda perencanaan pensiun. “Banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal: penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan,” ujarnya.

Baca Juga: UU APBN 2026 Tambah Wewenang Menkeu, Purbaya Pegang Peran Strategis Baru

Selain dana, kesiapan pensiun juga mencakup perlindungan terhadap risiko. Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo menekankan pentingnya keseimbangan antara investasi dan proteksi. “Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri,” katanya.

Urgensi perencanaan ini turut diperkuat tren global. Studi CIO Insights mencatat harapan hidup manusia meningkat dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini, mendorong berkembangnya silver economy. Ekosistem ekonomi lansia, yang mencakup layanan kesehatan, perumahan, transportasi, hingga teknologi, diperkirakan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi bernilai triliunan dolar di masa depan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Delapan Fraksi Setujui...
Delapan Fraksi Setujui RUU PFII, Indonesia Didorong Jadi Pusat Keuangan Global
MNC Bank Gandeng MNC...
MNC Bank Gandeng MNC Sekuritas Dorong Literasi Keuangan Gen Z lewat Solusi Perbankan Digital
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
Ketidakpastian Ekonomi...
Ketidakpastian Ekonomi Dorong Pentingnya Proteksi Keuangan
Fintech Makin Dekat...
Fintech Makin Dekat dengan Gen Z, OVO Dorong Mahasiswa Lebih Cerdas Kelola Keuangan
Jadikan Bali Pusat Keuangan...
Jadikan Bali Pusat Keuangan Internasional, Purbaya Tawarkan Pajak 0 Persen
Malapraktik Penguatan...
Malapraktik Penguatan Rupiah dan IHSG
Tujuh Langkah Memperbaiki...
Tujuh Langkah Memperbaiki Keuangan Pesantren
5 Tips Menabung untuk...
5 Tips Menabung untuk Pernikahan agar Hemat dan Finansial Tetap Sehat
Rekomendasi
Febrie Adriansyah Penuhi...
Febrie Adriansyah Penuhi Panggilan Panggilan Pemeriksaan Tim 9 Kejagung
Soal Biaya Lepas Status...
Soal Biaya Lepas Status WNI Rp5 Juta, Menkum Supratman: Kami Kaji Kembali
Bandung Jadi Tuan Rumah...
Bandung Jadi Tuan Rumah Perdana Erafone Run 2026, Targetkan 2.000 Peserta
Berita Terkini
Bitcoin Kembali ke Level...
Bitcoin Kembali ke Level USD65.500, Didukung Regulasi AS dan Arus ETF
Dukung Pendidikan Wilayah...
Dukung Pendidikan Wilayah Pesisir, PHE Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di Kepulauan Seribu
Indonesia Digetok Tarif...
Indonesia Digetok Tarif Baru Trump 10%, Purbaya: Baik Buat Kita
Harga Minyak Dunia Kembali...
Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?
Perluas Akses Asuransi,...
Perluas Akses Asuransi, IFG Life Gandeng Bank Papua Lindungi Debitur KPR
IHSG Ditutup Anjlok...
IHSG Ditutup Anjlok 1,88% ke 6.196, Hampir Seluruh Sektor Merana
Infografis
4 Kejutan Pakistan Saat...
4 Kejutan Pakistan Saat Hadapi Serangan Militer India
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved