Lampaui Temasek, Danantara Targetkan Indonesia Jadi Raksasa Investasi Dunia di 2028

Kamis, 22 Januari 2026 - 17:27 WIB
loading...
Lampaui Temasek, Danantara...
Round Table Discussion (RTD) edisi ketiga yang digelar Nagara Institute dan Akbar Faizal Uncensored (AFU) di Bandung, Kamis (22/1/2026). FOTO/dok.SindoNews
A A A
BANDUNG - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) diproyeksikan menjadi instrumen strategis atau game changer dalam peta ekonomi nasional. Lembaga ini dirancang khusus untuk mengonsolidasikan seluruh kekuatan ekonomi Indonesia guna mewujudkan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam mengakselerasi pertumbuhan negara.

Visi tersebut dikupas tuntas oleh Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, dalam Round Table Discussion (RTD) edisi ketiga yang digelar Nagara Institute dan Akbar Faizal Uncensored (AFU) di Bandung, Kamis (22/1/2026). Dalam forum tersebut, Anggito memaparkan filosofi di balik pembentukan Danantara sebagai motor baru ekonomi.

"Nama Danantara diberikan langsung oleh Presiden Prabowo. Artinya Energi Masa Depan Indonesia. Ini bukan sekadar penyehatan BUMN, melainkan upaya mengonsolidasi seluruh aset dan kekuatan pendapatan negara untuk menumbuhkan perekonomian," ungkap Anggito saat membedah tantangan investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca Juga: Gaet Investasi, Danantara Susun Strategi di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Lebih lanjut, Anggito mengungkapkan ambisi Presiden untuk menempatkan Indonesia di jajaran elit pengelola dana abadi atau Sovereign Wealth Fund (SWF) global. Dengan total konsolidasi aset BUMN yang diperkirakan mencapai nilai fantastis sebesar 1 triliun dolar AS, Indonesia secara de facto kini telah menembus peringkat lima besar SWF dunia.

Posisi ini membawa Indonesia bersaing langsung dengan raksasa dunia seperti Norwegia, Safe Investment Center (SIC) dan China Investment Corporation (CIC) dari Tiongkok, hingga Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dari Uni Emirat Arab. Anggito menegaskan bahwa dari sisi angka konsolidasi, posisi Indonesia saat ini bahkan sudah melampaui Temasek milik Singapura.

Strategi Leveraging dan Kedaulatan Ekonomi

"Beliau (Presiden Prabowo) mau kita lebih tinggi dari Temasek. Apakah berhasil? Secara angka konsolidasi sudah berhasil, namun dampaknya tentu butuh waktu karena membangun investment vehicle sebesar ini tidaklah mudah," jelas Anggito.

Targetnya, ambisi ini mampu mendongkrak rasio investasi nasional hingga 40 persen dan menjaga kontribusi manufaktur terhadap PDB di level 25 persen.
Berbeda dengan SWF konvensional yang mengelola surplus komoditas, Danantara bekerja melalui mekanisme leveraging.

Aset BUMN senilai USD1 triliun tersebut digunakan sebagai daya tawar untuk menarik dana segar dari investor global. Dana yang masuk kemudian dijadikan modal untuk membiayai berbagai proyek strategis nasional.



Anggito menganalogikan Danantara sebagai raksasa yang baru saja terbangun. Saat ini, pengelola tengah menyusun portofolio proyek menarik untuk ditawarkan kepada investor mancanegara, mulai dari Amerika Serikat hingga Timur Tengah. Hasil signifikan dari langkah ini diprediksi baru akan terlihat pada tahun 2028 mendatang.

"Danantara adalah raksasa yang baru dibangunkan. Saat ini, teman-teman di Danantara sedang menyusun portofolio proyek yang menarik untuk ditawarkan kepada investor dari Amerika Serikat hingga Timur Tengah. Hasil signifikan diprediksi baru akan terlihat pada tahun 2028 saat proyek-proyek tersebut mulai berjalan," tuturnya.

Baca Juga: Hadir Perdana di WEF 2026, Danantara Bakal Tawarkan Investor Akses Mineral Kritis

Salah satu poin krusial yang ditegaskan adalah masalah kedaulatan ekonomi. Sesuai arahan Presiden, dalam setiap kerja sama investasi, Indonesia wajib memegang kepemilikan mayoritas sebesar 51 persen. Hal ini dilakukan agar pemerintah tetap memiliki kendali penuh dan memastikan dampak investasi mengalir hingga ke daerah.

Namun demikian, Anggito memberikan catatan kritis mengenai penguatan tata kelola (governance) dan kualitas sumber daya manusia. Sebagai institusi yang baru lahir, Danantara memerlukan jaringan luas dan ketelitian tingkat tinggi agar benar-benar menjadi titik terang dalam skema investment-led growth di Indonesia.

"Ini adalah titik terang dalam ekonomi kita, sebuah investment-led growth. Namun, kita harus bersabar karena proses ini adalah terowongan panjang yang membutuhkan ketelitian dalam pengelolaannya," tutup Anggito.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Emas Now Tawarkan Investasi...
Emas Now Tawarkan Investasi Logam Mulia Lebih Inklusif
8 Bank Bangkrut Sepanjang...
8 Bank Bangkrut Sepanjang Januari-Juni 2026, Ini Daftarnya
LPS Naikkan Tingkat...
LPS Naikkan Tingkat Bunga Penjaminan Bank Umum Jadi 3,75%
Pangkas Ratusan Entitas...
Pangkas Ratusan Entitas BUMN, Terobosan Rosan Roeslani Tuai Dukungan Akademisi
Tips MotionTrade: Waspada...
Tips MotionTrade: Waspada Janji Keuntungan Tinggi Tanpa Risiko, Intip Ciri Umum Investasi Ilegal
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
BP Batam Kawal Investasi...
BP Batam Kawal Investasi 88 Triliun AI Data Centre guna Transformasi Digital
Rekomendasi
Sejak 2023, Kabel Udara...
Sejak 2023, Kabel Udara Sepanjang 11 Kilometer di Jakarta Barat Direlokasi
Rekomendasi Short Drama...
Rekomendasi Short Drama China, First Marriage Bliss Tayang di V+Short
4 Pelaku Penyekapan...
4 Pelaku Penyekapan Karyawan Padel Langsung Ditahan
Berita Terkini
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
Pasar Potensial Industri...
Pasar Potensial Industri Pembiayaan, Chailease Finance Dukung Pertumbuhan UKM Bandung
BPDP Dukung Jakarta...
BPDP Dukung Jakarta Fiscal Forum 2026, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Pertamina Siap Turunkan...
Pertamina Siap Turunkan Harga BBM secara Bertahap Mulai Awal Juli
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Rumah BUMN SIG di Rembang...
Rumah BUMN SIG di Rembang Catat Transaksi Rp6,9 Miliar
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved