Ekonomi Global Tahan Uji, AllianzGI Soroti Peluang dan Risiko Pasar
Selasa, 27 Januari 2026 - 19:19 WIB
loading...
AllianzGI menilai perekonomian global memasuki 2026 dalam kondisi tertekan, namun masih menunjukkan daya tahan yang relatif solid. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai perekonomian global memasuki 2026 dalam kondisi tertekan, namun masih menunjukkan daya tahan yang relatif solid. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan tetap berada di jalurnya, ditopang kebijakan pemerintah yang kondusif, kondisi keuangan korporasi yang kuat, serta perkembangan berkelanjutan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kondisi tersebut dinilai memberikan dukungan bagi aset berisiko, meskipun ketidakpastian fundamental dan politik global masih tinggi. Sejumlah faktor eksternal, terutama dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat dan agenda politik, berpotensi memicu fluktuasi pasar dalam jangka menengah.
"Latar belakang ini relatif kondusif bagi aset berisiko. Meski ketidakpastian fundamental dan politik tetap tinggi, kami yakin puncaknya telah terlewati. Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati potensi volatilitas pasar, terutama menjelang pemilu paruh waktu AS maupun transisi Ketua The Fed," ujar Tim CIO AllianzGI dalam Laporan House View Q1 2026, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: AllianzGI dan DBS Kolaborasi Perluas Akses Solusi Investasi Global Berbasis USD
AllianzGI menilai AI masih menjadi tema investasi utama, namun memerlukan pendekatan yang disiplin dan terdiversifikasi. Sektor ini dinilai belum memasuki fase gelembung, sehingga melewatkan peluang pertumbuhan lanjutan justru berpotensi merugikan investor. Peluang juga dinilai meluas ke ekosistem AI yang lebih luas, termasuk sektor energi dan infrastruktur.
"Di tengah meluasnya peluang AI, investor tetap perlu mencermati risiko konsentrasi serta memantau pergerakan credit default swap (CDS) pada perusahaan-perusahaan AI besar, karena indikator tersebut dapat menjadi sinyal awal munculnya risiko kredit," lanjut Tim CIO AllianzGI.
Dari sisi ekuitas, peluang dinilai masih terbuka di berbagai kawasan. Di Amerika Serikat, valuasi saham berkapitalisasi besar memang relatif tinggi, namun prospek tetap ditopang oleh pemulihan belanja modal sektor manufaktur. Di Eropa, sektor-sektor strategis yang diuntungkan oleh dorongan kemandirian regional memberikan stimulus tambahan, sementara Tiongkok berpotensi menjadi tujuan investasi menarik seiring meluasnya adopsi AI.
Pada kelas aset pendapatan tetap, AllianzGI melihat peluang pada obligasi pemerintah AS berdurasi pendek di tengah ekspektasi kurva imbal hasil yang menanjak. Sementara itu, di negara yang mendekati akhir siklus pelonggaran moneter seperti Kanada, strategi yield curve flattener dinilai semakin menarik.
"Untuk eksposur jangka panjang, obligasi pemerintah negara berkembang, khususnya dari Brasil, Peru, dan Afrika Selatan menawarkan tingkat suku bunga riil yang menarik, dengan bank sentral yang masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga," tulis Tim CIO AllianzGI.
Baca Juga: Allianz Global Investors Umumkan Kerja Sama dengan Standard Chartered
Dari perspektif multi-aset, AllianzGI tetap optimistis terhadap aset berisiko meskipun volatilitas pasar dan ketidakpastian data ekonomi AS serta arah kebijakan suku bunga The Fed masih berlanjut. Ekuitas tetap menjadi kelas aset utama, dengan penyesuaian eksposur dari AS ke kawasan Asia.
"Kami mempertahankan keyakinan jangka panjang terhadap emas, yang ditopang oleh permintaan bank sentral dan arus masuk ke produk exchange-traded fund (ETF). Kami juga meningkatkan pandangan terhadap tembaga, seiring pasokan yang stagnan dan meningkatnya permintaan untuk mendukung infrastruktur transisi hijau serta ekspansi AI," jelas Tim CIO AllianzGI.
Secara keseluruhan, AllianzGI mengambil sikap relatif lebih pro-risiko dengan penekanan pada diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah. "Dalam tahun yang kami perkirakan tetap tangguh namun kompleks, manajemen aktif akan menjadi faktor penentu keberhasilan investasi," tulis Tim CIO AllianzGI.
Kondisi tersebut dinilai memberikan dukungan bagi aset berisiko, meskipun ketidakpastian fundamental dan politik global masih tinggi. Sejumlah faktor eksternal, terutama dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat dan agenda politik, berpotensi memicu fluktuasi pasar dalam jangka menengah.
"Latar belakang ini relatif kondusif bagi aset berisiko. Meski ketidakpastian fundamental dan politik tetap tinggi, kami yakin puncaknya telah terlewati. Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati potensi volatilitas pasar, terutama menjelang pemilu paruh waktu AS maupun transisi Ketua The Fed," ujar Tim CIO AllianzGI dalam Laporan House View Q1 2026, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: AllianzGI dan DBS Kolaborasi Perluas Akses Solusi Investasi Global Berbasis USD
AllianzGI menilai AI masih menjadi tema investasi utama, namun memerlukan pendekatan yang disiplin dan terdiversifikasi. Sektor ini dinilai belum memasuki fase gelembung, sehingga melewatkan peluang pertumbuhan lanjutan justru berpotensi merugikan investor. Peluang juga dinilai meluas ke ekosistem AI yang lebih luas, termasuk sektor energi dan infrastruktur.
"Di tengah meluasnya peluang AI, investor tetap perlu mencermati risiko konsentrasi serta memantau pergerakan credit default swap (CDS) pada perusahaan-perusahaan AI besar, karena indikator tersebut dapat menjadi sinyal awal munculnya risiko kredit," lanjut Tim CIO AllianzGI.
Dari sisi ekuitas, peluang dinilai masih terbuka di berbagai kawasan. Di Amerika Serikat, valuasi saham berkapitalisasi besar memang relatif tinggi, namun prospek tetap ditopang oleh pemulihan belanja modal sektor manufaktur. Di Eropa, sektor-sektor strategis yang diuntungkan oleh dorongan kemandirian regional memberikan stimulus tambahan, sementara Tiongkok berpotensi menjadi tujuan investasi menarik seiring meluasnya adopsi AI.
Pada kelas aset pendapatan tetap, AllianzGI melihat peluang pada obligasi pemerintah AS berdurasi pendek di tengah ekspektasi kurva imbal hasil yang menanjak. Sementara itu, di negara yang mendekati akhir siklus pelonggaran moneter seperti Kanada, strategi yield curve flattener dinilai semakin menarik.
"Untuk eksposur jangka panjang, obligasi pemerintah negara berkembang, khususnya dari Brasil, Peru, dan Afrika Selatan menawarkan tingkat suku bunga riil yang menarik, dengan bank sentral yang masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga," tulis Tim CIO AllianzGI.
Baca Juga: Allianz Global Investors Umumkan Kerja Sama dengan Standard Chartered
Dari perspektif multi-aset, AllianzGI tetap optimistis terhadap aset berisiko meskipun volatilitas pasar dan ketidakpastian data ekonomi AS serta arah kebijakan suku bunga The Fed masih berlanjut. Ekuitas tetap menjadi kelas aset utama, dengan penyesuaian eksposur dari AS ke kawasan Asia.
"Kami mempertahankan keyakinan jangka panjang terhadap emas, yang ditopang oleh permintaan bank sentral dan arus masuk ke produk exchange-traded fund (ETF). Kami juga meningkatkan pandangan terhadap tembaga, seiring pasokan yang stagnan dan meningkatnya permintaan untuk mendukung infrastruktur transisi hijau serta ekspansi AI," jelas Tim CIO AllianzGI.
Secara keseluruhan, AllianzGI mengambil sikap relatif lebih pro-risiko dengan penekanan pada diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah. "Dalam tahun yang kami perkirakan tetap tangguh namun kompleks, manajemen aktif akan menjadi faktor penentu keberhasilan investasi," tulis Tim CIO AllianzGI.
(nng)
Lihat Juga :