Digitalisasi Maritim, Pelni dan DTP Perkuat Layanan Berbasis Teknologi Satelit LEO BuanterOne
Selasa, 27 Januari 2026 - 21:40 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini menyebabkan, satelit LEO memilki latensi rendah, biasanya di 70-100 milidetik (ms), atau setara dengan fiber optik. Sedangkan satelit GEO memiliki latensi tinggi, sekitar 550-1.500 ms atau lebih, membuat koneksinya lebih lambat.
Implementasi teknologi satelit LEO menjadi fondasi utama penguatan SisKomKap Pelni. Teknologi ini menawarkan bandwidth tinggi dan latensi rendah, sehingga memungkinkan konektivitas data dan komunikasi tetap stabil dan real-time, termasuk saat kapal beroperasi di wilayah perairan terpencil dan terdalam Indonesia.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Pelni (Persero), Anik Hidayati menegaskan bahwa modernisasi sistem komunikasi kapal merupakan bagian dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) sekaligus upaya meningkatkan keselamatan dan kualitas layanan publik.
“Pemanfaatan teknologi satelit LEO BuanterOne di seluruh armada PELNI merupakan wujud nyata digitalisasi maritim. Konektivitas yang lebih stabil memungkinkan koordinasi antara kantor pusat dan kru kapal berlangsung cepat dan akurat. Ini bukan semata soal teknologi, tetapi menyangkut keselamatan pelayaran, efisiensi operasional, serta kenyamanan penumpang sebagai prioritas utama kami,” ujar Anik.
Dari sisi teknologi, Chief Sales & Marketing Officer (CSMO) BuanterOne, Budi Santoso, menjelaskan bahwa solusi yang dihadirkan BuanterOne dirancang khusus untuk menjawab kompleksitas operasional sektor maritim nasional.
Layanan tersebut mencakup internet satelit LEO berkecepatan tinggi, sistem pemantauan kapal berbasis Vessel Monitoring System (VMS) dan Automatic Identification System (AIS) untuk memastikan akurasi posisi dan keselamatan navigasi, serta pemantauan on-time performance secara real-time guna menjaga ketepatan jadwal pelayaran.
Implementasi teknologi satelit LEO menjadi fondasi utama penguatan SisKomKap Pelni. Teknologi ini menawarkan bandwidth tinggi dan latensi rendah, sehingga memungkinkan konektivitas data dan komunikasi tetap stabil dan real-time, termasuk saat kapal beroperasi di wilayah perairan terpencil dan terdalam Indonesia.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Pelni (Persero), Anik Hidayati menegaskan bahwa modernisasi sistem komunikasi kapal merupakan bagian dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) sekaligus upaya meningkatkan keselamatan dan kualitas layanan publik.
“Pemanfaatan teknologi satelit LEO BuanterOne di seluruh armada PELNI merupakan wujud nyata digitalisasi maritim. Konektivitas yang lebih stabil memungkinkan koordinasi antara kantor pusat dan kru kapal berlangsung cepat dan akurat. Ini bukan semata soal teknologi, tetapi menyangkut keselamatan pelayaran, efisiensi operasional, serta kenyamanan penumpang sebagai prioritas utama kami,” ujar Anik.
Dari sisi teknologi, Chief Sales & Marketing Officer (CSMO) BuanterOne, Budi Santoso, menjelaskan bahwa solusi yang dihadirkan BuanterOne dirancang khusus untuk menjawab kompleksitas operasional sektor maritim nasional.
Layanan tersebut mencakup internet satelit LEO berkecepatan tinggi, sistem pemantauan kapal berbasis Vessel Monitoring System (VMS) dan Automatic Identification System (AIS) untuk memastikan akurasi posisi dan keselamatan navigasi, serta pemantauan on-time performance secara real-time guna menjaga ketepatan jadwal pelayaran.
Lihat Juga :