Bukan Cuma Danantara, Saham BEI Bisa Dipegang Lembaga Keuangan Dunia
Minggu, 01 Februari 2026 - 11:21 WIB
loading...
CEO Danantara, Rosan Roeslani. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah mengambil langkah drastis untuk membenahi integritas pasar modal Indonesia menyusul runtuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera menjalani proses demutualisasi, yakni perubahan status dari organisasi nirlaba berbasis keanggotaan menjadi perusahaan publik yang kepemilikannya terbuka bagi pihak luar.
BPI Danantara dipastikan akan menjadi salah satu pemegang saham strategis setelah proses demutualisasi rampung. Namun, kepemilikan bursa tidak akan bersifat tunggal. Pemerintah berencana membuka pintu bagi lembaga keuangan internasional untuk ikut menanamkan modal di BEI guna meningkatkan transparansi dan standar global.
CEO Danantara, Rosan Roeslani menyambut baik rencana keterbukaan struktur kepemilikan bursa ini sebagai upaya mencari tata kelola terbaik.
"Tentunya bukan hanya Danantara, tapi juga dari institusi keuangan dunia lainnya pun akan dibuka. Saya disampaikan seperti itu. Ya, nanti kita lihat yang terbaiknya seperti apa," papar Rosan di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Baca Juga: Purbaya Sebut Jeffrey Hendrik jadi Pjs Dirut BEI, Besok Bertemu MSCI
Langkah ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna menghapus praktik pasar yang tidak sehat dan menghilangkan benturan kepentingan antara pengurus bursa dengan para anggotanya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa percepatan reformasi ini menjadi prioritas utama pemerintah tahun ini. "Bapak Presiden memerintahkan percepatan reformasi integritas pasar antara lain dengan reform pasar modal secara struktural melalui demutualisasi bursa," ujar Airlangga.
Baca Juga: Profil Kiki Widyasari, Mantan Aktris Sinetron dan Istri Kepala BNPT yang Kini Pimpin OJK
Keputusan demutualisasi ini diambil setelah BEI mendapat sorotan tajam dari berbagai lembaga keuangan dunia terkait kurangnya transparansi data, yang dituding sebagai pemicu market crash dalam beberapa hari terakhir.
Dengan berubah menjadi perusahaan publik, BEI diharapkan memiliki standar pelaporan dan pengawasan yang lebih ketat layaknya bursa-bursa maju di dunia. Melalui transformasi struktural ini, pemerintah berharap kepercayaan investor global dapat segera pulih, sekaligus memastikan perdagangan saham di Indonesia berjalan lebih adil, transparan, dan bebas dari manipulasi kepemilikan yang tersembunyi.
BPI Danantara dipastikan akan menjadi salah satu pemegang saham strategis setelah proses demutualisasi rampung. Namun, kepemilikan bursa tidak akan bersifat tunggal. Pemerintah berencana membuka pintu bagi lembaga keuangan internasional untuk ikut menanamkan modal di BEI guna meningkatkan transparansi dan standar global.
CEO Danantara, Rosan Roeslani menyambut baik rencana keterbukaan struktur kepemilikan bursa ini sebagai upaya mencari tata kelola terbaik.
"Tentunya bukan hanya Danantara, tapi juga dari institusi keuangan dunia lainnya pun akan dibuka. Saya disampaikan seperti itu. Ya, nanti kita lihat yang terbaiknya seperti apa," papar Rosan di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Baca Juga: Purbaya Sebut Jeffrey Hendrik jadi Pjs Dirut BEI, Besok Bertemu MSCI
Langkah ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna menghapus praktik pasar yang tidak sehat dan menghilangkan benturan kepentingan antara pengurus bursa dengan para anggotanya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa percepatan reformasi ini menjadi prioritas utama pemerintah tahun ini. "Bapak Presiden memerintahkan percepatan reformasi integritas pasar antara lain dengan reform pasar modal secara struktural melalui demutualisasi bursa," ujar Airlangga.
Baca Juga: Profil Kiki Widyasari, Mantan Aktris Sinetron dan Istri Kepala BNPT yang Kini Pimpin OJK
Keputusan demutualisasi ini diambil setelah BEI mendapat sorotan tajam dari berbagai lembaga keuangan dunia terkait kurangnya transparansi data, yang dituding sebagai pemicu market crash dalam beberapa hari terakhir.
Dengan berubah menjadi perusahaan publik, BEI diharapkan memiliki standar pelaporan dan pengawasan yang lebih ketat layaknya bursa-bursa maju di dunia. Melalui transformasi struktural ini, pemerintah berharap kepercayaan investor global dapat segera pulih, sekaligus memastikan perdagangan saham di Indonesia berjalan lebih adil, transparan, dan bebas dari manipulasi kepemilikan yang tersembunyi.
(nng)
Lihat Juga :