IHSG Terjun Bebas, Ekonom: Negara Sudah Bergerak, Tapi Pasar Belum Percaya
Senin, 02 Februari 2026 - 14:33 WIB
loading...
A
A
A
"Ini penting untuk mencegah kepanikan massal dan menjaga optimisme publik. Masalahnya, pasar modal bukan hanya mendengar kata kata. Pasar membaca arah. Dan pada Senin pagi, arah itu belum cukup meyakinkan," tegasnya.
Baca Juga: 30 Menit Perdagangan, IHSG Ambruk Tinggalkan Level 8.000 Dibayangi MSCI Effect
"Peringatan dari MSCI sebelumnya bukan tentang emosi, tetapi tentang kualitas pasar. Soal transparansi kepemilikan saham. Soal free float yang terlalu tipis. Soal integritas data perdagangan. Ini bukan isu baru, tapi kali ini sorotannya terang," tegasnya.
Maka terang dia, ketika masalahnya struktural, maka respons psikologis tidak cukup. Pernyataan stabilitas bisa menenangkan satu dua jam, tetapi begitu bursa dibuka, keputusan kembali ke tangan investor dan mereka memilih menjual atau menunggu. Itulah sebabnya IHSG tetap tertekan sejak pembukaan hingga siang hari pada 2 Februari.
"Bayangkan mobil melaju kencang lalu lampu peringatan mesin menyala. Pengemudi bisa menepuk dashboard sambil berkata, “Tenang, mesinnya kuat.” Mobil mungkin tetap jalan, tapi rasa percaya sudah hilang. Yang dibutuhkan bukan kata kata, melainkan bengkel," jelasnya.
Pasar Tidak Takut, Pasar Ragu
Achmad memberikan, catatan bahwa ketika pasar bergejolak, sering kali mengira karena panik. Padahal yang terjadi sekarang lebih tepat disebut ragu. "Investor global dan domestik tidak sedang histeris, mereka sedang berhitung," bebernya.Baca Juga: 30 Menit Perdagangan, IHSG Ambruk Tinggalkan Level 8.000 Dibayangi MSCI Effect
"Peringatan dari MSCI sebelumnya bukan tentang emosi, tetapi tentang kualitas pasar. Soal transparansi kepemilikan saham. Soal free float yang terlalu tipis. Soal integritas data perdagangan. Ini bukan isu baru, tapi kali ini sorotannya terang," tegasnya.
Maka terang dia, ketika masalahnya struktural, maka respons psikologis tidak cukup. Pernyataan stabilitas bisa menenangkan satu dua jam, tetapi begitu bursa dibuka, keputusan kembali ke tangan investor dan mereka memilih menjual atau menunggu. Itulah sebabnya IHSG tetap tertekan sejak pembukaan hingga siang hari pada 2 Februari.
"Bayangkan mobil melaju kencang lalu lampu peringatan mesin menyala. Pengemudi bisa menepuk dashboard sambil berkata, “Tenang, mesinnya kuat.” Mobil mungkin tetap jalan, tapi rasa percaya sudah hilang. Yang dibutuhkan bukan kata kata, melainkan bengkel," jelasnya.
(akr)
Lihat Juga :