Mengulik Penyebab Ekonomi Syariah Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia
Kamis, 05 Februari 2026 - 15:13 WIB
loading...
A
A
A
Miftah menilai tantangan utama Indonesia bukan lagi pada ketersediaan regulasi, melainkan pada kemampuan para pelaku industri dalam memanfaatkan kebijakan dan platform yang telah disediakan. Edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap produk dan layanan syariah menjadi faktor penting yang masih perlu terus diperkuat.
Selain itu ia juga menyoroti bahwa industri keuangan konvensional telah lebih dulu berkembang dan menjadi kebiasaan masyarakat. Namun sektor syariah dinilai tengah melakukan percepatan untuk mengejar ketertinggalan tersebut termasuk mulai meningkatkan perbankan syariah.
“Teman-teman di syariah sekarang sudah banyak melakukan catching up. Tinggal masalah waktu untuk meningkatkan awareness, edukasi, dan kapabilitas, apalagi dengan dukungan teknologi dan digitalisasi saat ini,” tambahnya.
Baca Juga: Refleksi Muharram: Membangun Ekonomi Syariah Indonesia
Miftah optimistis, dengan seluruh elemen pendukung yang sudah tersedia, ekonomi syariah Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang lebih pesat ke depan. Menurutnya, keberhasilan tersebut sangat bergantung pada kolaborasi dan inisiatif masing-masing pelaku industri dalam memaksimalkan ekosistem yang telah ada.
“Semuanya sebenarnya sudah in place. Tinggal bagaimana masing-masing pemain mendorong dan memanfaatkan peluang tersebut,” bebernya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pelaksana dan Mitra di Boston Consulting Group (BCG) Tushar Agarwal mengatakan, sektor keuangan Islam Indonesia memasuki fase baru dalam hal skala dan kematangan. Secara global, keuangan Islam diperkirakan akan melebihi USD7,5 triliun pada tahun 2028. Hal ini didorong oleh sektor perbankan inti tetapi didukung oleh pertumbuhan di segmen non-perbankan dan inovasi digital.
Selain itu ia juga menyoroti bahwa industri keuangan konvensional telah lebih dulu berkembang dan menjadi kebiasaan masyarakat. Namun sektor syariah dinilai tengah melakukan percepatan untuk mengejar ketertinggalan tersebut termasuk mulai meningkatkan perbankan syariah.
“Teman-teman di syariah sekarang sudah banyak melakukan catching up. Tinggal masalah waktu untuk meningkatkan awareness, edukasi, dan kapabilitas, apalagi dengan dukungan teknologi dan digitalisasi saat ini,” tambahnya.
Baca Juga: Refleksi Muharram: Membangun Ekonomi Syariah Indonesia
Miftah optimistis, dengan seluruh elemen pendukung yang sudah tersedia, ekonomi syariah Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang lebih pesat ke depan. Menurutnya, keberhasilan tersebut sangat bergantung pada kolaborasi dan inisiatif masing-masing pelaku industri dalam memaksimalkan ekosistem yang telah ada.
“Semuanya sebenarnya sudah in place. Tinggal bagaimana masing-masing pemain mendorong dan memanfaatkan peluang tersebut,” bebernya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pelaksana dan Mitra di Boston Consulting Group (BCG) Tushar Agarwal mengatakan, sektor keuangan Islam Indonesia memasuki fase baru dalam hal skala dan kematangan. Secara global, keuangan Islam diperkirakan akan melebihi USD7,5 triliun pada tahun 2028. Hal ini didorong oleh sektor perbankan inti tetapi didukung oleh pertumbuhan di segmen non-perbankan dan inovasi digital.
Lihat Juga :