Moody's Turunkan Outlook Utang RI Jadi Negatif, IHSG Dibuka Ambruk ke 7.919
Jum'at, 06 Februari 2026 - 09:46 WIB
loading...
A
A
A
Di tengah aksi jual massal, beberapa saham tetap mencatatkan kenaikan signifikan (Top Gainers), seperti XPLQ (Pinnacle Persada Investama) melesat 24,07% ke Rp670, NZIA (Nusantara Almazia Tbk.) naik 19,57% ke Rp220.
Sebaliknya jajaran saham yang tertekan paling dalam (Top Losers) yaitu, PADI (Minna Padi Investama) anjlok 15,00% ke Rp85. FILM (MD Entertainment Tbk.) turun tajam 14,14% ke Rp6.525, RMKE (RMK Energy Tbk.) terkoreksi 13,96% ke Rp3.760.
Baca Juga: IHSG Menguat Tipis ke 8.161 di Awal Perdagangan, Asing Masih Net Sell
Sekedar informasi tambahan, penurunan peringkat oleh Moodys Ratings ini didasari pada kekhawatiran stabilitas kebijakan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Perubahan outlook tersebut diumumkan menyusul aksi jual besar-besaran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu. Hal tersebut terkait dengan kekhawatiran investor terhadap kelayakan investasi atas saham-saham Indonesia.
Moody's menambahkan, jika tren ini berlanjut, kondisi tersebut dapat menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah terbangun sejak lama, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan.
Sebaliknya jajaran saham yang tertekan paling dalam (Top Losers) yaitu, PADI (Minna Padi Investama) anjlok 15,00% ke Rp85. FILM (MD Entertainment Tbk.) turun tajam 14,14% ke Rp6.525, RMKE (RMK Energy Tbk.) terkoreksi 13,96% ke Rp3.760.
Baca Juga: IHSG Menguat Tipis ke 8.161 di Awal Perdagangan, Asing Masih Net Sell
Sekedar informasi tambahan, penurunan peringkat oleh Moodys Ratings ini didasari pada kekhawatiran stabilitas kebijakan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Perubahan outlook tersebut diumumkan menyusul aksi jual besar-besaran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu. Hal tersebut terkait dengan kekhawatiran investor terhadap kelayakan investasi atas saham-saham Indonesia.
Moody's menambahkan, jika tren ini berlanjut, kondisi tersebut dapat menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah terbangun sejak lama, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan.
(akr)
Lihat Juga :