Mendag Sangkal Harga Daging Ayam Naik Gegara MBG
Rabu, 18 Februari 2026 - 18:04 WIB
loading...
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan menjadi pemicu kenaikan harga daging ayam. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso membantah isu yang menyebutkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pemicu kenaikan harga dan keterbatasan stok pangan, khususnya komoditas ayam potong di pasar. Pihaknya menilai kehadiran program tersebut justru menciptakan tren positif bagi para petani dan pelaku usaha melalui kepastian serapan pasar yang sebelumnya fluktuatif.
"Justru sekarang ketika permintaan itu grafiknya naik. Ada kepastian dan produksi itu mengikuti permintaan sehingga harga malah cenderung stabil. Apakah banyak permintaan terus tiba-tiba harga melunjak karena MBG, kan tidak ada," ujar Budi di Kantor Kemendag, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: Mainkan Harga Daging, Amran Ancam Cabut Izin RPH hingga Feedlotter
Budi menjelaskan kepastian kondisi pasar pasca-bergulirnya MBG didapatkan langsung dari hasil koordinasi dengan para pelaku usaha dan UMKM. Menurutnya, skema permintaan yang terukur memudahkan produsen untuk menyesuaikan kapasitas produksi, sehingga ketersediaan pasokan tetap terjaga tanpa mengganggu stabilitas harga di tingkat konsumen.
Dia juga menyoroti sebelum program ini berjalan, grafik permintaan pangan cenderung tidak menentu yang sering kali merugikan sisi hulu. "Semua harga kan bagus juga ya karena memang kami bertemu teman-teman termasuk UMKM ini justru bagus karena produksinya terus meningkat dan pasti karena permintaan menjadi pasti. Kalau dulu permintaan naik turun kan tergantung pasar," tambahnya.
Baca Juga: Produksi Cabai Surplus, Mentan Jamin Stok Ramadan Aman hingga Lebaran
Meski demikian, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Selasa (17/2) menunjukkan adanya dinamika harga di lapangan, di mana daging ayam ras segar menyentuh Rp42.600 per kilogram atau naik Rp1.400 dari hari sebelumnya. Selain ayam, telur ayam ras juga mengalami kenaikan tipis sebesar Rp400 menjadi Rp32.250 per kilogram.
Menyikapi data tersebut, Kemendag berkomitmen untuk terus memantau pergerakan harga di berbagai daerah guna memastikan tidak ada distorsi distribusi selama implementasi program strategis pemerintah ini. Pemerintah optimistis bahwa dengan sinkronisasi antara produksi dan permintaan, gejolak harga dapat diminimalisir demi menjaga daya beli masyarakat.
"Justru sekarang ketika permintaan itu grafiknya naik. Ada kepastian dan produksi itu mengikuti permintaan sehingga harga malah cenderung stabil. Apakah banyak permintaan terus tiba-tiba harga melunjak karena MBG, kan tidak ada," ujar Budi di Kantor Kemendag, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: Mainkan Harga Daging, Amran Ancam Cabut Izin RPH hingga Feedlotter
Budi menjelaskan kepastian kondisi pasar pasca-bergulirnya MBG didapatkan langsung dari hasil koordinasi dengan para pelaku usaha dan UMKM. Menurutnya, skema permintaan yang terukur memudahkan produsen untuk menyesuaikan kapasitas produksi, sehingga ketersediaan pasokan tetap terjaga tanpa mengganggu stabilitas harga di tingkat konsumen.
Dia juga menyoroti sebelum program ini berjalan, grafik permintaan pangan cenderung tidak menentu yang sering kali merugikan sisi hulu. "Semua harga kan bagus juga ya karena memang kami bertemu teman-teman termasuk UMKM ini justru bagus karena produksinya terus meningkat dan pasti karena permintaan menjadi pasti. Kalau dulu permintaan naik turun kan tergantung pasar," tambahnya.
Baca Juga: Produksi Cabai Surplus, Mentan Jamin Stok Ramadan Aman hingga Lebaran
Meski demikian, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Selasa (17/2) menunjukkan adanya dinamika harga di lapangan, di mana daging ayam ras segar menyentuh Rp42.600 per kilogram atau naik Rp1.400 dari hari sebelumnya. Selain ayam, telur ayam ras juga mengalami kenaikan tipis sebesar Rp400 menjadi Rp32.250 per kilogram.
Menyikapi data tersebut, Kemendag berkomitmen untuk terus memantau pergerakan harga di berbagai daerah guna memastikan tidak ada distorsi distribusi selama implementasi program strategis pemerintah ini. Pemerintah optimistis bahwa dengan sinkronisasi antara produksi dan permintaan, gejolak harga dapat diminimalisir demi menjaga daya beli masyarakat.
(nng)
Lihat Juga :