Indonesia-AS Teken Perjanjian Dagang Resiprokal: Kabar Baik buat 4 Juta Buruh Tekstil

Jum'at, 20 Februari 2026 - 11:03 WIB
loading...
A A A
Dampak dari kebijakan ini bakal menjadi pelindung bagi 4 juta pekerja di sektor tekstil dan berdampak pada kesejahteraan sekitar 20 juta masyarakat Indonesia yang bergantung pada rantai pasok ini.

2. Menjaga Harga Pangan: Mie dan Tempe Tetap Terjangkau

Banyak yang khawatir impor akan merugikan, namun perjanjian ini justru dirancang untuk menekan inflasi. Indonesia memberikan tarif 0% untuk produk yang memang tidak diproduksi di dalam negeri, seperti gandum (Wheat), yang merupakan bahan baku utama mie instan dan roti.

Baca Juga: Ekonom: Tarif Dagang 19% ke Pasar AS Harus Dibaca Sebagai Alarm

Lalu ada kedelai (Soybean), sebagai bahan baku tahu dan tempe. Dengan tarif 0%, harga bahan baku industri makanan tetap stabil, sehingga harga produk harian di pasar tetap terjangkau oleh masyarakat luas.

3. Magnet Investasi: Indonesia Jadi Pemain Chip Global?

Bukan sekadar jual-beli barang, perjanjian ini mendorong investasi besar-besaran di sektor hilirisasi. Fokus utamanya meliputi, mineral kritis dimana pengolahan bahan tambang juga ditujukan untuk energi hijau.

Hilirisasi silika, sebagai langkah ambisius Indonesia masuk ke industri semikonduktor. Ditambah kawasan Industri, pembangunan kawasan industri khusus kerja sama Indonesia-AS.

4. Kedaulatan Tetap Terjaga dengan 'Council of Trade'

Meski membuka keran perdagangan, Indonesia tidak melepas kontrol begitu saja. Maka dibentuk sebuah wadah bernama Council of Trade & Investment.

Forum ini berfungsi sebagai "rem darurat" jika terjadi lonjakan impor yang tidak sehat atau kendala ekspor. Semua masalah diselesaikan melalui diskusi bersama, tanpa tindakan sepihak, guna menghormati kedaulatan masing-masing negara.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
Bank Dunia: Ketidakpastian...
Bank Dunia: Ketidakpastian Global Lebih Mengancam Ekonomi Asia Dibanding Tarif Trump
Produk AS Masuk RI Bawa...
Produk AS Masuk RI Bawa Logo Halal Sendiri, Kepala BPJPH Buka Suara
ART RI-AS Dinilai Tidak...
ART RI-AS Dinilai Tidak Mencerminkan Prinsip Timbal Balik, Indonesia Tanggung Beban Lebih Besar
ART Indonesia-AS Dinilai...
ART Indonesia-AS Dinilai Asimetris dan Berisiko pada Kedaulatan Ekonomi
Polemik Tarif Resiprokal...
Polemik Tarif Resiprokal AS, Prabowo Tegaskan Tak Bakal Korbankan Kepentingan Nasional
Rekomendasi
Gus Yaqut Sakit, KPK...
Gus Yaqut Sakit, KPK Bantarkan Penahanannya ke RS Polri Kramatjati
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Ketat! Hanya 17 Sekolah...
Ketat! Hanya 17 Sekolah dari Depok yang Lolos ke Babak Jakarta Liga Bintang Juara GTV
Berita Terkini
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Gandeng Mitra Global,...
Gandeng Mitra Global, PT WCS Dorong Ekosistem Pertanian Berbasis Digital
Telkom Catat Pendapatan...
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun, DPR Minta Soliditas Dijaga
Kemenkop dan Rumah Energi...
Kemenkop dan Rumah Energi Dorong Koperasi Jadi Motor Transisi Energi
Plaza Seremoni IKN Karya...
Plaza Seremoni IKN Karya Brantas Abipraya Raih Penghargaan Lanskap Internasional MLAA 2026
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved