Blok Masela Jadi Solusi, Purbaya Dorong Gas Murah buat Industri
Selasa, 24 Februari 2026 - 21:30 WIB
loading...
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menaruh perhatian serius pada skema harga gas yang dihasilkan dari proyek jumbo Blok Masela. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menaruh perhatian serius pada skema harga gas yang dihasilkan dari proyek jumbo Blok Masela . Dalam rapat koordinasi percepatan proyek tersebut, Purbaya menekankan pentingnya harga gas yang kompetitif.
Tidak hanya untuk pasar global, tetapi juga sebagai motor penggerak industri domestik yang saat ini terbebani harga energi yang tinggi. Purbaya menyoroti realitas harga gas di pasar saat ini yang mencapai angka di atas USD12 per MMBTU, yang dinilai memberatkan pelaku usaha dalam negeri.
"Saya ini melihat, pengusaha kita beli gas harganya mahal, sekarang 12 dolar lebih. Ini ada produksi yang akan besar ke depan kan," ujar Menkeu Purbaya usai memimpin Sidang Debottlenecking Investasi, Selasa (24/2/2026).
Baca Juga: Kadin: Gas Jadi Penopang Hilirisasi Industri Strategis
Adapun Purbaya secara spesifik meminta agar besarnya potensi produksi gas dari Lapangan Abadi Masela dapat memberikan nilai tambah bagi penguatan struktur industri nasional melalui harga yang lebih terjangkau. "Bisa enggak ini dipakai untuk mensupport industri dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Nanti kita pikirkan itu," tegasnya.
Pada saat rapat berlangsung, Purbaya juga mempertanyakan ambang batas harga yang dianggap layak oleh Inpex agar fasilitas produksi tetap menguntungkan secara bisnis, namun tetap kompetitif.
"Berapa harga pasar yang layak bagi kalian untuk mengoperasikan fasilitas ini secara menguntungkan?" tanya Purbaya kepada manajemen Inpex.
Selain itu Purbaya mempertanyakan kelayakan proyek gas jumbo Blok Masela yang digarap oleh Inpex Corporation Ltd, terutama dari sisi keekonomian harga gas. Hal tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela yang ia pimpin di Kementerian Keuangan.
Baca Juga: Pasokan Minim, Kadin Desak Pemerintah Buka Keran Impor Gas Industri
Menanggapi pertanyaan Menkeu, Project Director Inpex Masela, Harrad Blinco mengungkapkan bahwa memperkirakan kisaran harga keekonomian sangatlah sulit mengingat biaya investasi pembangunan Kilang LNG yang terus membengkak setiap tahunnya.
Blok Masela mempunyai nilai investasi mencapai USD21 miliar (sekitar Rp352 triliun) dengan kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) dan 150 MMSCFD gas pipa dan memiliki potensi cadangan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) di Laut Arafura.
Harrad Blinco mengakui bahwa secara internasional, tingkat keuntungan proyek ini berada pada level yang sangat tipis. "Itu marginal. Sangat marginal secara internasional. Ini adalah kekhawatiran terbesar kami dan risiko terbesar kami dalam proyek ini," ungkap Harrad Blinco.
Selain kompleksitas teknis seperti pengeboran laut dalam (deepwater) dan penerapan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS), proyek ini diharapkan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja dan beroperasi hingga tahun 2055.
Pemerintah kini tengah mencari titik keseimbangan agar proyek tetap layak secara bisnis bagi investor, namun tetap mampu menyediakan energi murah bagi kemajuan industri di Indonesia.
Tidak hanya untuk pasar global, tetapi juga sebagai motor penggerak industri domestik yang saat ini terbebani harga energi yang tinggi. Purbaya menyoroti realitas harga gas di pasar saat ini yang mencapai angka di atas USD12 per MMBTU, yang dinilai memberatkan pelaku usaha dalam negeri.
"Saya ini melihat, pengusaha kita beli gas harganya mahal, sekarang 12 dolar lebih. Ini ada produksi yang akan besar ke depan kan," ujar Menkeu Purbaya usai memimpin Sidang Debottlenecking Investasi, Selasa (24/2/2026).
Baca Juga: Kadin: Gas Jadi Penopang Hilirisasi Industri Strategis
Adapun Purbaya secara spesifik meminta agar besarnya potensi produksi gas dari Lapangan Abadi Masela dapat memberikan nilai tambah bagi penguatan struktur industri nasional melalui harga yang lebih terjangkau. "Bisa enggak ini dipakai untuk mensupport industri dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Nanti kita pikirkan itu," tegasnya.
Pada saat rapat berlangsung, Purbaya juga mempertanyakan ambang batas harga yang dianggap layak oleh Inpex agar fasilitas produksi tetap menguntungkan secara bisnis, namun tetap kompetitif.
"Berapa harga pasar yang layak bagi kalian untuk mengoperasikan fasilitas ini secara menguntungkan?" tanya Purbaya kepada manajemen Inpex.
Selain itu Purbaya mempertanyakan kelayakan proyek gas jumbo Blok Masela yang digarap oleh Inpex Corporation Ltd, terutama dari sisi keekonomian harga gas. Hal tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela yang ia pimpin di Kementerian Keuangan.
Baca Juga: Pasokan Minim, Kadin Desak Pemerintah Buka Keran Impor Gas Industri
Menanggapi pertanyaan Menkeu, Project Director Inpex Masela, Harrad Blinco mengungkapkan bahwa memperkirakan kisaran harga keekonomian sangatlah sulit mengingat biaya investasi pembangunan Kilang LNG yang terus membengkak setiap tahunnya.
Blok Masela mempunyai nilai investasi mencapai USD21 miliar (sekitar Rp352 triliun) dengan kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) dan 150 MMSCFD gas pipa dan memiliki potensi cadangan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) di Laut Arafura.
Harrad Blinco mengakui bahwa secara internasional, tingkat keuntungan proyek ini berada pada level yang sangat tipis. "Itu marginal. Sangat marginal secara internasional. Ini adalah kekhawatiran terbesar kami dan risiko terbesar kami dalam proyek ini," ungkap Harrad Blinco.
Selain kompleksitas teknis seperti pengeboran laut dalam (deepwater) dan penerapan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS), proyek ini diharapkan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja dan beroperasi hingga tahun 2055.
Pemerintah kini tengah mencari titik keseimbangan agar proyek tetap layak secara bisnis bagi investor, namun tetap mampu menyediakan energi murah bagi kemajuan industri di Indonesia.
(akr)
Lihat Juga :