Rekor Utang Dunia Tembus USD348 Triliun, Negara Berkembang Tanggung Beban Berat

Kamis, 26 Februari 2026 - 09:08 WIB
loading...
Rekor Utang Dunia Tembus...
Seorang anak laki-laki bermain layang-layang sementara pemandangan kota Jakarta terlihat di latar belakang, Jumat, 11 Agustus 2023. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Utang global kembali mencetak rekor baru dengan menembus USD348 triliun pada akhir 2025. Lonjakan tersebut terjadi di tengah percepatan pinjaman pemerintah untuk membiayai pertahanan, keamanan energi, dan infrastruktur digital.

"Kombinasi kuat dari ekspansi fiskal, kebijakan moneter yang mendukung, dan kerangka regulasi yang longgar dapat menyebabkan akumulasi utang lebih lanjut, menimbulkan kekhawatiran tentang peningkatan leverage dan potensi overheating di segmen pasar tertentu," dikutip dari laporan Institute of International Finance (IIF), dari Reuters, Kamis (26/2/2026).

Baca Juga: 8 Negara dengan Utang Tertinggi, Nomor 1 di Luar Perkiraan

Berdasarkan laporan Global Debt Monitor terbaru, IIF mencatatkan hampir USD29 triliun tambahan utang sepanjang 2025. Pinjaman pemerintah menyumbang lebih dari USD10 triliun dari kenaikan tersebut, dengan Amerika Serikat (AS), China, dan kawasan euro menjadi kontributor terbesar mencakup sekitar tiga perempat lonjakan global.

Secara komposisi, total utang pemerintah dunia meningkat menjadi sekitar USD106,7 triliun dari USD96,3 triliun pada akhir 2024. Sementara, utang korporasi non-keuangan naik menjadi USD100,6 triliun dan utang rumah tangga mencapai USD64,6 triliun.

IIF menilai rasio utang sektor swasta telah menurun dari puncak pandemi, namun pinjaman publik terus bertambah. Pergeseran struktural ini membuat neraca global semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga dan sentimen investor.

Secara rasio terhadap produk domestik bruto (PDB), utang global turun tipis untuk tahun kelima berturut-turut menjadi sekitar 308% pada 2025, terutama di negara maju. Namun, rasio utang negara berkembang justru meningkat hingga melampaui 235% dari PDB, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Total utang di negara maju tercatat sekitar USD231,7 triliun, sedangkan negara berkembang mencapai USD116,6 triliun. Kondisi ini meningkatkan kerentanan negara berkembang terhadap gejolak eksternal dan tekanan pembiayaan.



Di sisi korporasi, aktivitas penerbitan obligasi tetap tinggi, didorong investasi pada pusat data berbasis kecerdasan buatan, keamanan energi, dan infrastruktur tangguh. Perusahaan-perusahaan di AS mencatat rekor penerbitan obligasi terkait kecerdasan buatan sepanjang 2025.

Baca Juga: 9 Negara yang Pernah Bangkrut karena Utang Menggila, Pelajaran bagi Indonesia

Memasuki 2026, Januari menjadi salah satu periode tersibuk dalam sejarah penerbitan obligasi berdaulat global karena pemerintah berupaya mengamankan pendanaan di tengah permintaan investor yang kuat.

IIF memproyeksikan pasar berkembang menghadapi lebih dari USD9 triliun pembayaran utang tahun ini sebagai beban refinancing rekor, sementara pasar maju menghadapi lebih dari USD20 triliun obligasi dan pinjaman jatuh tempo.

Berdasarkan pembaruan laporan World Economic Outlook Januari 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan global sekitar 3,3% pada 2026 belum cukup untuk menurunkan rasio utang secara signifikan jika tren pinjaman tetap berlanjut.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Rekomendasi
Pulisic Absen, Amerika...
Pulisic Absen, Amerika Serikat Bungkam Australia 2-0 di Piala Dunia 2026
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
Ubedilah Badrun Bongkar...
Ubedilah Badrun Bongkar Upaya Pembelahan Gerakan Mahasiswa
Berita Terkini
Pelemahan Emas Antam...
Pelemahan Emas Antam Berlanjut ke Rp2.6 Juta per Gram, Ini Daftar Lengkapnya
Grab For Business Luncurkan...
Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out, Jamuan Makan Kantor Bebas Reimburse
Saingan Selat Malaka!...
Saingan Selat Malaka! Thailand Nekat Hidupkan Megaproyek Rp535 Triliun
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved