Iran Tutup Selat Hormuz, Pasokan Minyak RI dari Arab Saudi Terancam

Senin, 02 Maret 2026 - 21:57 WIB
loading...
Iran Tutup Selat Hormuz,...
Pemerintah mengkhawatirkan penutupan Selat Hormuz di mana 20% transportasi global melewati selat ini. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Pemerintah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih relatif kuat menghadapi potensi guncangan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, meskipun harga minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) telah menyentuh level di atas asumsi makro ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah saat ini masih bersikap wait and see sembari mencermati durasi dan kompleksitas konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

"Kita belum tahu perang ini lama atau pendek dan tujuannya berbeda dengan perang yang lain yaitu perubahan dari pemerintahan atau pergantian rezim. Yang mengkhawatirkan bagi kita tentu penutupan Selat Hormuz di mana itu 20 persen minyak global lewat di sana dan 20 persen dari kebutuhan minyak di Indonesia itu juga berkontrak dengan Saudi," kata Airlangga dalam forum diskusi ekonomi, Senin (2/3/2026).

Baca Juga: Mojtaba, Putra Khamenei, Diajukan sebagai Calon Pemimpin Tertinggi Iran

Airlangga menekankan kepentingan soal ketersediaan dan kestabilan minyak menjadi atensi dunia global karena komoditas ini vital bagi seluruh negara. Ia menjelaskan, di berbagai negara, termasuk anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC), terus berupaya menjaga stok dan produksi untuk memitigasi risiko. "Nah, tinggal masalah transportasi," kata Airlangga merujuk pada tantangan distribusi akibat konflik.



Harga minyak WTI untuk suplai April 2026 tercatat berada pada level 71,78 dolar AS per barel atau naik 7,10 persen dibanding akhir pekan lalu yang senilai 67,02 dolar AS per barel. Meski demikian, Airlangga menilai tekanan fiskal masih terkendali. "Diperkirakan pasukan akan terganggu dan harga WTI per hari ini sudah 73 dolar, namun APBN kita di USD70 dolar per barel jadi relatif masih terkendali," kata dia.

Terkait potensi dampak terhadap komoditas lain, Airlangga merujuk pengalaman krisis sebelumnya. Dari krisis yang ada, menurutnya, tingkat permintaan akan menyesuaikan.

"Kita sudah pengalaman saat Covid-19 plus perang di Ukraina. Nah, itu kenaikan komoditasnya sangat luar biasa. Namun bagi Indonesia, kenaikan komoditas juga ada upside. Kalau batu bara dan kelapa sawit naik, penerimaan negara juga naik. Jadi itu yang terjadi di tahun 2022 dan 2023," kata dia.

Baca Juga: Iran Blokade Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Impor BBM dan LPG Indonesia dari AS

Di tengah ketegangan geopolitik, Presiden Prabowo Subianto disebut Airlangga memberikan perhatian khusus pada stok dan ketersediaan pangan. "Kemarin malam kami rapat dengan Pak Presiden di Hambalang, beliau secara khusus mengecek mengenai kondisi pangan yang relatif aman. Beliau juga memberi catatan untuk mempercepat negosiasi Indonesia dengan Amerika. Ada hal yang terkait dengan pembelian minyak, ada hal yang terkait dengan investasi Indonesia di luar negeri," ucap dia.

Airlangga menegaskan bahwa posisi perekonomian Indonesia relatif aman di tengah konflik global. Ia merujuk konsumsi domestik yang mencapai 54 persen, rasio utang masih di bawah 30 persen, cadangan devisa sebesar 154,6 miliar dolar AS, serta rasio perdagangan luar negeri yang masih 42 persen dari produk domestik bruto (PDB). Dengan fundamental tersebut, pemerintah optimistis mampu menghadapi gejolak ekonomi akibat konflik Timur Tengah.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
Stok BBM Global Menipis,...
Stok BBM Global Menipis, Dunia Sedang Menguras Cadangan Minyaknya
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
Iran dan Oman Tegaskan...
Iran dan Oman Tegaskan Komitmen Navigasi Maritim Aman melalui Selat Hormuz setelah Kesepakatan dengan AS
Trump Ungkap Selat Hormuz...
Trump Ungkap Selat Hormuz akan Dibuka Kembali Sepenuhnya pada Hari Jumat Secara Permanen
Rekomendasi
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo Ardianto
Messi Menggila! Argentina...
Messi Menggila! Argentina Gilas Aljazair 3-0 di Piala Dunia 2026
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp4.000 per Gram, Simak Rinciannya
Harga Emas Bangkit usai...
Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Momentum Indonesia Perkuat...
Momentum Indonesia Perkuat Fondasi Ketahanan Energi di 2026, Ini Kuncinya
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Infografis
3 Penyebab Arab Saudi...
3 Penyebab Arab Saudi Membela Israel saat Diserang Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved