Krisis Selat Hormuz, Impor Minyak Rusia ke India Melonjak 50% Tembus 1,5 Juta Barel per Hari
Jum'at, 13 Maret 2026 - 07:53 WIB
loading...
A
A
A
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. India termasuk negara yang paling terdampak karena sekitar 40% impor minyaknya melewati selat tersebut. Pasokan minyak dari Irak, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab ke India pun turun tajam dalam 11 hari pertama Maret, masing-masing menjadi sekitar 0,6 juta bph, 0,4 juta bph, dan 0,1 juta bph, jauh lebih rendah dibandingkan aliran pasokan pada Februari.
Baca Juga: Sebulan Bisa Produksi 5.000 Drone, Iran Terus Mengulur Waktu Berperang
Analis Kpler Sumit Ritolia mengatakan, lonjakan impor minyak Rusia ke India berpotensi meningkat lebih lanjut jika pola pengiriman saat ini berlanjut. "Sejumlah besar kargo minyak mentah Rusia saat ini sedang berada di laut, terutama bergerak menuju pelabuhan-pelabuhan di India," ujarnya.
Krisis ini juga memengaruhi harga minyak global. Minyak mentah Rusia jenis Urals yang pada Februari diperdagangkan dengan diskon sekitar USD13 per barel kini justru berbalik menjadi premi sekitar USD4–5 di atas harga Brent untuk pengiriman Maret hingga awal April. Sementara itu, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat di Amerika Serikat mendesak pemerintah untuk mencabut kebijakan waiver tersebut karena dinilai berbahaya dan kontraproduktif.
Baca Juga: Sebulan Bisa Produksi 5.000 Drone, Iran Terus Mengulur Waktu Berperang
Analis Kpler Sumit Ritolia mengatakan, lonjakan impor minyak Rusia ke India berpotensi meningkat lebih lanjut jika pola pengiriman saat ini berlanjut. "Sejumlah besar kargo minyak mentah Rusia saat ini sedang berada di laut, terutama bergerak menuju pelabuhan-pelabuhan di India," ujarnya.
Krisis ini juga memengaruhi harga minyak global. Minyak mentah Rusia jenis Urals yang pada Februari diperdagangkan dengan diskon sekitar USD13 per barel kini justru berbalik menjadi premi sekitar USD4–5 di atas harga Brent untuk pengiriman Maret hingga awal April. Sementara itu, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat di Amerika Serikat mendesak pemerintah untuk mencabut kebijakan waiver tersebut karena dinilai berbahaya dan kontraproduktif.
(nng)
Lihat Juga :