Awal Tahun 2026, Pertumbuhan Petikemas IPC TPK Tumbuh 8,7 Persen
Jum'at, 13 Maret 2026 - 21:29 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Tanjung Priok 2 mencatat arus petikemas sebesar 286.613 TEUs, tumbuh 6,9 persen dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 268.127 TEUs.
“Kinerja positif juga tercatat di sejumlah terminal IPC TPK di luar Jakarta. Hingga Februari 2026, arus petikemas di Area Pontianak mencapai 43.550 TEUs, meningkat sekitar 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 41.504 TEUs,” terangnya.
Di Area Panjang, arus petikemas tercatat 20.660 TEUs, tumbuh 20,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 17.075 TEUs. Sementara itu Area Teluk Bayur mencatat arus petikemas sebesar 18.561 TEUs, meningkat 7,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 17.220 TEUs.
Pertumbuhan arus petikemas ini menunjukkan aktivitas logistik yang tetap terjaga di berbagai wilayah operasional. Baca Juga: Mengawali Tahun 2026, Realisasi Arus Petikemas IPC TPK Tumbuh 6,82%
“Kami akan terus mendorong komunikasi dan koordinasi lintas fungsi dengan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi ini menjadi kunci untuk memastikan kelancaran arus logistik, khususnya pada periode dengan aktivitas distribusi yang meningkat,” tutup Pramestie.
“Kinerja positif juga tercatat di sejumlah terminal IPC TPK di luar Jakarta. Hingga Februari 2026, arus petikemas di Area Pontianak mencapai 43.550 TEUs, meningkat sekitar 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 41.504 TEUs,” terangnya.
Di Area Panjang, arus petikemas tercatat 20.660 TEUs, tumbuh 20,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 17.075 TEUs. Sementara itu Area Teluk Bayur mencatat arus petikemas sebesar 18.561 TEUs, meningkat 7,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 17.220 TEUs.
Pertumbuhan arus petikemas ini menunjukkan aktivitas logistik yang tetap terjaga di berbagai wilayah operasional. Baca Juga: Mengawali Tahun 2026, Realisasi Arus Petikemas IPC TPK Tumbuh 6,82%
“Kami akan terus mendorong komunikasi dan koordinasi lintas fungsi dengan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi ini menjadi kunci untuk memastikan kelancaran arus logistik, khususnya pada periode dengan aktivitas distribusi yang meningkat,” tutup Pramestie.
(akr)
Lihat Juga :