Hemat BBM, Indonesia Kaji Penerapan WFA Imbas Gangguan Pasokan

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:07 WIB
loading...
Hemat BBM, Indonesia...
Pemerintah Indonesia sedang mengkaji penerapan kebijakan WFA sebagai salah satu langkah untuk menekan konsumsi BBM. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Pemerintah Indonesia sedang mengkaji penerapan kebijakan Work From Anywhere (WFA) sebagai salah satu langkah untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kebijakan tersebut menjadi pertimbangkan di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan opsi tersebut masih dalam tahap pembahasan dan menjadi bagian dari strategi penghematan energi nasional.

"Memang ada beberapa langkah-langkah yang akan dilakukan, tetapi sedang dikaji. Tentang apakah kita butuhkan WFA, tetapi menurut saya semua kemungkinan itu bisa terjadi, yang penting adalah penghematan BBM," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga: Hemat BBM, Pemerintah Bahas Skema WFA bagi ASN dan Belajar Daring bagi Pelajar

Menurut Bahlil, fokus utama pemerintah saat ini adalah menekan konsumsi BBM sekaligus mengurangi beban impor energi. Kebijakan WFA dinilai berpotensi menekan mobilitas masyarakat sehingga konsumsi BBM dapat ditekan.

Pengetatan konsumsi energi menjadi penting menyusul terganggunya rantai pasok minyak global akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi sekitar 20–30% perdagangan minyak dunia.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah melampaui asumsi APBN sebesar USD70 per barel, bahkan kini telah menembus di atas USD90 per barel. Kenaikan ini berpotensi meningkatkan beban subsidi energi jika harga BBM dalam negeri tetap ditahan.



Bahlil menambahkan, selain menekan impor, kebijakan penghematan seperti WFA juga dapat mengurangi beban pengeluaran masyarakat. "Tapi yang penting adalah penghematan terhadap BBM. Disamping kita memang menghemat impor, itu juga (WFA) menghemat pengeluaran bagi seluruh masyarakat Indonesia," katanya.

Sementara itu, ekonom INDEF Hakam Naja memperkirakan lonjakan harga minyak dapat berdampak signifikan terhadap fiskal. Ia menyebut setiap kenaikan USD1 per barel berpotensi menambah defisit APBN sebesar Rp6,8 triliun.

Baca Juga: Catat Jadwal Libur dan WFA Lebaran 2026, Bisa Mudik hingga 2 Minggu!

Dengan asumsi harga minyak mencapai sekitar USD92 per barel, defisit APBN diproyeksikan bisa membengkak hingga Rp149,6 triliun dan berisiko melampaui batas aman 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Di sisi lain, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global. Gangguan di jalur tersebut dapat berdampak luas terhadap perekonomian dunia, mengingat negara-negara pengguna utama minyak di kawasan tersebut menyumbang sekitar 27% PDB global.

Gangguan pasokan energi tersebut berpotensi memperlambat aktivitas industri dan perdagangan internasional, sehingga mendorong pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipatif, termasuk melalui kebijakan efisiensi energi di dalam negeri.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Krisis Hormuz Kuras...
Krisis Hormuz Kuras Cadangan Minyak Singapura ke Titik Terendah sejak 13 Tahun
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Panel Energi SPIEF 2026...
Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Gencatan Senjata Gagal!...
Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Ini 5 Bukti Perjanjian...
Ini 5 Bukti Perjanjian Damai AS dan Iran Tunjukkan Kegagalan Tujuan Perang Israel
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Rekomendasi
Audisi Miss Indonesia...
Audisi Miss Indonesia 2026 Yogyakarta Disambut Antusias, Jakarta Jadi Kota Terakhir Seleksi
Turnamen Futsal Bertajuk...
Turnamen Futsal Bertajuk Okezone National Championship 2026 Seri Jabodetabek Selesai Digelar
Audisi Miss Indonesia...
Audisi Miss Indonesia 2026 Yogyakarta Hari Kedua Diserbu Talenta Muda Berprestasi
Berita Terkini
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai Besok 15 Juni 2026, Usaha Nasional Didata Tanpa Terkecuali
Prabowo Perintahkan...
Prabowo Perintahkan Rosan Jelaskan Kondisi Investasi RI di Istana Merdeka Besok
Mengapa Harga Pertamax...
Mengapa Harga Pertamax Naik? Kemkomdigi: Karena Indonesia Tak Hidup Sendirian
Siap-siap! Harga Rumah...
Siap-siap! Harga Rumah Subsidi Bakal Naik, Ini Penyebabnya
Dorong Penguatan Pendidikan...
Dorong Penguatan Pendidikan Vokasi Ganda, Endress+Hauser Gelar Education Forum 2026
IHSG Besok Berpeluang...
IHSG Besok Berpeluang Lanjut Reli ke Level 6.100, Intip Faktor Pendongkraknya
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved