Iran Gempur Fasilitas Energi Negara Teluk, Harga Minyak Tembus USD115 per Barel
Jum'at, 20 Maret 2026 - 07:55 WIB
loading...
A
A
A
Meski Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat empat rudal yang menuju Riyadh, sumber industri menyebut serangan juga sempat menyasar kilang SAMREF di Yanbu, meski dampaknya dilaporkan minimal. Uni Emirat Arab juga menghentikan sementara operasi di fasilitas gas Habshan setelah mencegat satu drone.
Akibat serangan ini, harga minyak acuan Brent melonjak hingga 7 persen, mencapai level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Lonjakan tajam juga terjadi pada harga gas alam menyusul terganggunya produksi LNG di Qatar. "Ini adalah eskalasi yang sangat berbahaya. Untuk pertama kalinya, infrastruktur energi negara-negara Teluk menjadi target langsung, yang memicu kekhawatiran akan krisis pasokan berkepanjangan," ujar seorang analis energi dari perusahaan konsultan internasional kepada Antara dari London.
Guncangan di pasar energi langsung berimbas ke pasar saham global. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average di Wall Street terkoreksi tajam, sementara di Asia, indeks Sensex India ambles sekitar 2.500 poin.
Kekhawatiran pasar semakin menjadi setelah Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, memberi sinyal bahwa kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu lonjakan inflasi baru dan mempersulit kebijakan moneter ke depan. "Kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan harga minyak. Situasi ini kami pantau sangat ketat," kata Powell.
Akibat serangan ini, harga minyak acuan Brent melonjak hingga 7 persen, mencapai level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Lonjakan tajam juga terjadi pada harga gas alam menyusul terganggunya produksi LNG di Qatar. "Ini adalah eskalasi yang sangat berbahaya. Untuk pertama kalinya, infrastruktur energi negara-negara Teluk menjadi target langsung, yang memicu kekhawatiran akan krisis pasokan berkepanjangan," ujar seorang analis energi dari perusahaan konsultan internasional kepada Antara dari London.
Guncangan di pasar energi langsung berimbas ke pasar saham global. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average di Wall Street terkoreksi tajam, sementara di Asia, indeks Sensex India ambles sekitar 2.500 poin.
Kekhawatiran pasar semakin menjadi setelah Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, memberi sinyal bahwa kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu lonjakan inflasi baru dan mempersulit kebijakan moneter ke depan. "Kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan harga minyak. Situasi ini kami pantau sangat ketat," kata Powell.
Lihat Juga :