Berbasis Data Historis, Konflik AS-Iran Bakal Percepat Pelemahan Rupiah ke Rp20.400/USD

Selasa, 24 Maret 2026 - 15:40 WIB
loading...
Berbasis Data Historis,...
Melihat data historis yang pernah terjadi sebelumnya, Konflik AS versus Iran berpotensi mempercepat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) hingga menyentuh Rp20.400 per dolar AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Konflik Amerika Serikat atau AS versus Iran berpotensi mempercepat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS(USD) hingga menyentuh Rp20.400 per dolar AS. Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan menerangkan, pelemahan kurs rupiah dalam situasi seperti ini bukanlah skenario yang berlebihan apabila melihat data historis yang pernah terjadi sebelumnya.

Ia menjelaskan, depresiasi rupiah sebesar 15 hingga 20% pernah berulang dalam berbagai periode tekanan global. Dengan posisi rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat, pelemahan 20 persen berpotensi membawa kurs ke level sekitar Rp20.400 per dolar AS.

“Angka ini bukan lagi angka spekulatif, tetapi berbasis data historis,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Baca Juga: Rupiah Diramal Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Ekonom Wanti-wanti Krisis

Anthony menambahkan, dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, tekanan terhadap rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen dalam waktu relatif singkat, yakni antara tiga hingga enam bulan ke depan.



“Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen. Skenario tersebut dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, tiga hingga enam bulan ke depan,” ucapnya.

Ia juga menilai fundamental ekonomi nasional saat ini masih rentan menghadapi gejolak eksternal, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun stabilitas nilai tukar. Baca Juga: Rupiah Diguncang Perang AS-Iran, Hari Ini Rp16.893 per Dolar AS

“Fundamental ekonomi, baik fiskal, moneter, dan nilai tukar, sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh. Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik,” jelasnya.

Perang Iran dinilai berpotensi mempercepat tekanan terhadap perekonomian Indonesia melalui berbagai jalur eksternal, mulai dari kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok global, hingga pelemahan nilai tukar rupiah. Ia mengatakan kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah dapat menjadi katalis yang memperburuk tekanan ekonomi yang saat ini sudah dihadapi Indonesia.

"Konflik Iran bisa menjadi katalis yang berpotensi mempercepat tekanan yang sudah ada. Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia," terangnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekor Terburuk Lagi,...
Rekor Terburuk Lagi, Rupiah Tembus Rp18.187 per Dolar AS Sore Ini
Dipakai Bayar Utang...
Dipakai Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Mei 2026 Ambles ke USD144,9 Miliar
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
Heboh Sell Indonesia...
Heboh 'Sell Indonesia' saat Rupiah-IHSG Terpuruk, Muncul Sosok Lama Bikin Kepercayaan Runtuh
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Dijadikan Ganti Rugi bagi Negara Arab, 3 Alasan Teheran Marah Besar!
Tak Ingin Kerusakan...
Tak Ingin Kerusakan Akibat Serangan Iran Diketahui Dunia, Israel Berlakukan Sensor Militer
Rudal Iran Guncang Israel,...
Rudal Iran Guncang Israel, Trump: Netanyahu Tak Boleh Balas Dendam
Rekomendasi
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
Dari Iran ke Indonesia,...
Dari Iran ke Indonesia, Pesepeda Arezoo Tampil Memukau Lewat Sentuhan Ade Fitri Kirana
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Berita Terkini
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
BKI dan ASDP Perkuat...
BKI dan ASDP Perkuat Sinergi Keselamatan Kerja Melalui Audit SMK3
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
DPR Ingatkan Potensi...
DPR Ingatkan Potensi Moral Hazard Penambahan Layer Rokok Ilegal
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved