Tertinggi Sepanjang Masa, Pendapatan HRTA di 2025 Tumbuh 144% Capai Rp44,55 Triliun
Sabtu, 28 Maret 2026 - 22:35 WIB
loading...
A
A
A
Ketegangan geopolitik, terutama gangguan pasokan minyak, mendorong negara pengimpor energi untuk menggunakan cadangan devisa guna membiayai impor dibandingkan mengakumulasi aset seperti emas. Di sisi lain, tekanan fiskal pada negara eksportir energi juga berpotensi mendorong penjualan emas dalam jangka pendek.
Hal ini menciptakan tekanan sementara terhadap permintaan emas dari bank sentral, sementara investor ritel di pasar seperti India dan China juga cenderung melakukan likuidasi untuk menutupi peningkatan biaya hidup imbas dari inflasi bahan pokok.
Tekanan tersebut diperkuat oleh faktor global lainnya sepeti penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury dan ekspektasi penundaan penurunan suku bunga The Fed menurunkan daya tarik emas sebagai aset karena tidak menghasilkan cashflow berkala.
Selain itu, aksi profit taking oleh investor institusi terutama hedge fund, rotasi dana ke pasar ekuitas global yang lebih kuat, serta likuidasi posisi di pasar futures turut mempercepat penurunan harga emas dalam jangka pendek. Namun demikian secara fundamental prospek jangka panjang emas tetap positif.
Lihat Juga :