Harga Minyak Dunia Melonjak 2,2%, Brent Tembus USD111 per Barel
Senin, 06 April 2026 - 09:00 WIB
loading...
Harga minyak mentah telah melonjak sejak dimulainya perang di Iran. FOTO/AP
A
A
A
TOKYO - Harga minyak dunia menguat pada awal perdagangan Senin (6/4) setelah libur Paskah, didorong gangguan pasokan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan juga dipicu ancaman geopolitik serta hambatan distribusi minyak dari Rusia yang memperketat pasar energi.
Dikutip Reuters, kontrak berjangka minyak Brent Crude Oil naik USD2,4 atau 2,2% menjadi USD111,43 per barel pada pukul 22.15 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak USD3 atau 2,7% ke level USD114,57 per barel.
Baca Juga: Efek Perang Iran, Inflasi AS Diramal Melonjak Tajam Imbas Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya jalur distribusi energi global, terutama setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mempersempit akses pengiriman minyak di kawasan strategis.
Di sisi lain, gangguan juga terjadi pada rantai pasok minyak Rusia. Serangan terhadap infrastruktur pelabuhan, termasuk di Ust-Luga, dilaporkan merusak fasilitas ekspor dan menghambat distribusi energi dalam dua pekan terakhir Maret.
Sumber industri menyebut pembatasan ekspor serta gangguan operasional di kilang utama berpotensi menurunkan produksi minyak Rusia. Kondisi ini diperparah dengan terhentinya pengiriman diesel ke Primorsk sejak 22 Maret.
Baca Juga: Trump Ultimatum Iran Lagi: Buka Selat Hormuz Hari Rabu atau Listriknya Akan Dibom AS!
Akibatnya, pelaku industri mulai mencari jalur alternatif yang lebih mahal, seperti pengiriman melalui rel ke terminal lain, termasuk Vysotsk di Teluk Finlandia atau pelabuhan Taman di Laut Hitam, meskipun kapasitasnya terbatas.
Otoritas maritim Finlandia melaporkan volume pengiriman dari Primorsk dan Ust-Luga anjlok drastis menjadi hanya beberapa kapal per pekan, jauh di bawah rata-rata normal 40–50 kapal, sehingga semakin memperketat pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga.
Selain itu, Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengintensifkan tekanan terhadap Iran, termasuk ancaman menargetkan infrastruktur vital jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Dikutip Reuters, kontrak berjangka minyak Brent Crude Oil naik USD2,4 atau 2,2% menjadi USD111,43 per barel pada pukul 22.15 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak USD3 atau 2,7% ke level USD114,57 per barel.
Baca Juga: Efek Perang Iran, Inflasi AS Diramal Melonjak Tajam Imbas Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya jalur distribusi energi global, terutama setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mempersempit akses pengiriman minyak di kawasan strategis.
Di sisi lain, gangguan juga terjadi pada rantai pasok minyak Rusia. Serangan terhadap infrastruktur pelabuhan, termasuk di Ust-Luga, dilaporkan merusak fasilitas ekspor dan menghambat distribusi energi dalam dua pekan terakhir Maret.
Sumber industri menyebut pembatasan ekspor serta gangguan operasional di kilang utama berpotensi menurunkan produksi minyak Rusia. Kondisi ini diperparah dengan terhentinya pengiriman diesel ke Primorsk sejak 22 Maret.
Baca Juga: Trump Ultimatum Iran Lagi: Buka Selat Hormuz Hari Rabu atau Listriknya Akan Dibom AS!
Akibatnya, pelaku industri mulai mencari jalur alternatif yang lebih mahal, seperti pengiriman melalui rel ke terminal lain, termasuk Vysotsk di Teluk Finlandia atau pelabuhan Taman di Laut Hitam, meskipun kapasitasnya terbatas.
Otoritas maritim Finlandia melaporkan volume pengiriman dari Primorsk dan Ust-Luga anjlok drastis menjadi hanya beberapa kapal per pekan, jauh di bawah rata-rata normal 40–50 kapal, sehingga semakin memperketat pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga.
Selain itu, Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengintensifkan tekanan terhadap Iran, termasuk ancaman menargetkan infrastruktur vital jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
(nng)
Lihat Juga :