Mengapa Harga BBM di AS Tetap Mahal hingga Tembus Rp100 Ribu meski Produksi Melimpah? Ini Sebabnya
Senin, 13 April 2026 - 08:42 WIB
loading...
A
A
A
"Ekonomi AS lebih terlindungi karena kita adalah pemasok besar. Tapi itu tidak menolong konsumen di depan pompa bensin," kata Nikolai Roussanov, profesor keuangan di Wharton School.
Sementara perusahaan minyak meraup untung besar dari kenaikan harga, konsumen rumah tangga harus memangkas pengeluaran lain demi membeli bahan bakar.
Selain itu biaya asuransi kapal pengangkut yang melintasi Selat Hormuz dipastikan tetap mahal. Ditambah banyak fasilitas kilang di Timur Tengah yang hancur akibat perang. "Beberapa di antaranya butuh bertahun-tahun untuk dibangun kembali," ungkap Kate Gordon, CEO California Forward.
Dengan gencatan senjata, banyak pengamat mengharapkan harga bensin turun dengan cepat — tetapi tidak sampai USD3 per galon. Dengan gencatan senjata, “kemungkinan kita akan kembali ke USD3,50 menjelang akhir musim panas, tapi itu akan bertahan sementara,” kata Zandi.
Beberapa catatan menyebutkan bahwa kontrak berjangka minyak, yang berspekulasi pada harga di masa depan, tetap tinggi hingga akhir 2026. Infrastruktur minyak di Timur Tengah telah rusak atau terganggu akibat perang Iran.
Beberapa di antaranya “akan memerlukan bertahun-tahun untuk dibangun kembali. Selama waktu itu, pasokan minyak dunia akan tetap terbatas. “Tidak ada jalan kembali ke kondisi sebelumnya. Setidaknya tidak tahun ini," kata Zandi.
Sementara perusahaan minyak meraup untung besar dari kenaikan harga, konsumen rumah tangga harus memangkas pengeluaran lain demi membeli bahan bakar.
Gencatan Senjata Bisa Bikin Harga BBM AS Turun?
Meski gencatan senjata yang diinisiasi Trump mulai diberlakukan, para pakar memperingatkan agar masyarakat tidak berharap harga bensin kembali ke level USD3 dalam waktu dekat. Ada beberapa alasan kuat di antara yakni selama gencatan senjata dianggap rapuh, pedagang minyak akan tetap mematok harga tinggi sebagai antisipasi jika perang pecah kembali.Selain itu biaya asuransi kapal pengangkut yang melintasi Selat Hormuz dipastikan tetap mahal. Ditambah banyak fasilitas kilang di Timur Tengah yang hancur akibat perang. "Beberapa di antaranya butuh bertahun-tahun untuk dibangun kembali," ungkap Kate Gordon, CEO California Forward.
Dengan gencatan senjata, banyak pengamat mengharapkan harga bensin turun dengan cepat — tetapi tidak sampai USD3 per galon. Dengan gencatan senjata, “kemungkinan kita akan kembali ke USD3,50 menjelang akhir musim panas, tapi itu akan bertahan sementara,” kata Zandi.
Beberapa catatan menyebutkan bahwa kontrak berjangka minyak, yang berspekulasi pada harga di masa depan, tetap tinggi hingga akhir 2026. Infrastruktur minyak di Timur Tengah telah rusak atau terganggu akibat perang Iran.
Beberapa di antaranya “akan memerlukan bertahun-tahun untuk dibangun kembali. Selama waktu itu, pasokan minyak dunia akan tetap terbatas. “Tidak ada jalan kembali ke kondisi sebelumnya. Setidaknya tidak tahun ini," kata Zandi.
(akr)
Lihat Juga :