Mengapa Harga BBM di AS Tetap Mahal hingga Tembus Rp100 Ribu meski Produksi Melimpah? Ini Sebabnya

Senin, 13 April 2026 - 08:42 WIB
loading...
Mengapa Harga BBM di...
AS kini menjadi produsen minyak terbesar di bumi, dengan menghasilkan lebih dari 13 juta barel per hari. Namun harga bensin (gasoline) di Amerika Serikat justru meroket. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Amerika Serikat (AS) sering digaungkan tidak membutuhkan minyak mentah dari Timur Tengah, seperti yang diucapkan Presiden Donald Trump dalam berbagai pidatonya. Termasuk ketika pecahnya perang AS-Israel melawan Iran belum lama ini, tapi kenapa harga BBM di Amerika tetap mahal?

Secara data, Trump benar. Amerika Serikat kini menjadi produsen minyak terbesar di bumi, dengan menghasilkan lebih dari 13 juta barel per hari. Namun fakta di lapangan berbicara lain, harga bensin (gasoline) di Amerika Serikat justru meroket hingga rata-rata USD4,16 per galon (setara Rp70.623) pada awal April 2026, melonjak drastis dari bawah USD3 di awal tahun.

Baca Juga: Efek Perang Iran, Inflasi AS Diramal Melonjak Tajam Imbas Kenaikan Harga BBM

Jika AS tidak bergantung pada minyak Iran, mengapa dompet warga Amerika tetap terkuras? Berikut adalah penjelasannya.

Hukum Satu Harga

Meskipun AS hanya mengimpor 8% minyak dari Timur Tengah, minyak mentah adalah komoditas global. Mark Zandi, kepala ekonom di Moody’s Analytics, menjelaskan bahwa minyak mengalir ke penawar harga tertinggi.

"Jika sebuah tanker bisa mendapatkan harga lebih tinggi di Malaysia daripada di Rotterdam atau Rio de Janeiro, maka kapal itu akan pergi ke Malaysia," ujar Zandi.



Ketika perang melumpuhkan pasokan di Selat Hormuz, harga minyak dunia (seperti indeks WTI) melompat dari USD67 ke USD105 per barel. Produsen minyak di Texas tidak akan menjual murah ke warga lokal jika mereka bisa menjualnya dengan harga internasional yang jauh lebih tinggi.

Perang mengancam pasokan minyak ke wilayah yang sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah, termasuk sebagian Asia dan Eropa. Harga melonjak di mana-mana, tidak terkecuali AS.

"Semua orang bersaing untuk mendapatkan barel minyak yang sama. Tidak masalah apakah minyak itu diproduksi di Texas, Iran, Saudi Arabia, atau Rusia," kata James Cox, mitra pengelola di Harris Financial Group.

Amerika Serikat adalah negara penghasil minyak terbesar di dunia. Tapi mereka juga merupakan konsumen minyak terbesar, dan produsen minyak Amerika adalah bagian dari pasar global.

"Kami memproduksi sebanyak yang kami konsumsi. Tapi pada akhirnya, para produsen di sini akan menjual kepada siapa pun yang bisa memberi mereka harga tertinggi. Mereka adalah pebisnis," terang Zandi.

Baca Juga: Waswas Harga BBM RI Bakal Naik Terdampak Gempuran AS-Israel ke Iran

California menjadi wilayah yang paling terpukul dengan harga bensin menyentuh USD5,93 per galon (senilai Rp100.673). Mengapa? Karena secara geografis, wilayah Pantai Barat AS lebih terisolasi dari pipa minyak domestik yang berasal dari timur Pegunungan Rocky.

Akibatnya wilayah ini jauh lebih bergantung pada impor langsung dari kawasan Teluk Persia dibandingkan negara bagian lainnya. Hal ini diungkapkan oleh Kate Gordon, CEO California Forward, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung keberlanjutan seperti dilansir USD Today.

Ekonom menekankan bahwa situasi tahun 2026 ini bukanlah pengulangan krisis minyak tahun 1970-an. Tidak ada jatah bensin (rationing) atau antrean kilometer akibat kelangkaan stok.

"Ekonomi AS lebih terlindungi karena kita adalah pemasok besar. Tapi itu tidak menolong konsumen di depan pompa bensin," kata Nikolai Roussanov, profesor keuangan di Wharton School.

Sementara perusahaan minyak meraup untung besar dari kenaikan harga, konsumen rumah tangga harus memangkas pengeluaran lain demi membeli bahan bakar.

Gencatan Senjata Bisa Bikin Harga BBM AS Turun?

Meski gencatan senjata yang diinisiasi Trump mulai diberlakukan, para pakar memperingatkan agar masyarakat tidak berharap harga bensin kembali ke level USD3 dalam waktu dekat. Ada beberapa alasan kuat di antara yakni selama gencatan senjata dianggap rapuh, pedagang minyak akan tetap mematok harga tinggi sebagai antisipasi jika perang pecah kembali.

Selain itu biaya asuransi kapal pengangkut yang melintasi Selat Hormuz dipastikan tetap mahal. Ditambah banyak fasilitas kilang di Timur Tengah yang hancur akibat perang. "Beberapa di antaranya butuh bertahun-tahun untuk dibangun kembali," ungkap Kate Gordon, CEO California Forward.

Dengan gencatan senjata, banyak pengamat mengharapkan harga bensin turun dengan cepat — tetapi tidak sampai USD3 per galon. Dengan gencatan senjata, “kemungkinan kita akan kembali ke USD3,50 menjelang akhir musim panas, tapi itu akan bertahan sementara,” kata Zandi.

Beberapa catatan menyebutkan bahwa kontrak berjangka minyak, yang berspekulasi pada harga di masa depan, tetap tinggi hingga akhir 2026. Infrastruktur minyak di Timur Tengah telah rusak atau terganggu akibat perang Iran.

Beberapa di antaranya “akan memerlukan bertahun-tahun untuk dibangun kembali. Selama waktu itu, pasokan minyak dunia akan tetap terbatas. “Tidak ada jalan kembali ke kondisi sebelumnya. Setidaknya tidak tahun ini," kata Zandi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Menlu AS Jual Kesepakatan...
Menlu AS Jual Kesepakatan Damai dengan Iran ke Negara-negara Arab
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Rekomendasi
Polemik Ijazah Jokowi,...
Polemik Ijazah Jokowi, Bonatua Silalahi Gugat KPU, Bawaslu, hingga Rektor UGM
Kolombia Pecundangi...
Kolombia Pecundangi RD Kongo, Daniel Munoz Cetak Gol Penentu Kemenangan
Sidang PK Nikita Mirzani...
Sidang PK Nikita Mirzani Ditunda hingga 1 Juli 2026, Kuasa Hukum Ungkap Alasannya
Berita Terkini
Prabowo Prediksi Indonesia...
Prabowo Prediksi Indonesia Swasembada BBM 3 Tahun Lagi
Potongan Aplikasi Gojek...
Potongan Aplikasi Gojek Turun Jadi 8% Mulai 1 Juli 2026, Manajemen GOTO Angkat Suara
Biaya Medis Meningkat,...
Biaya Medis Meningkat, Allianz Ajak Pahami Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Pascapengumuman MSCI,...
Pascapengumuman MSCI, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,62% ke Level 6.002
Harga Emas Terjun Rp18...
Harga Emas Terjun Rp18 Ribu, Hari Ini 1 Gram Dijual Rp2.655.000 per Gram
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved