RI Gencar Dedolarisasi Sejak 2025, Transaksi Mata Uang Lokal Naik 2 Kali Lipat ke Rp434,8 Triliun
Rabu, 15 April 2026 - 20:12 WIB
loading...
Indonesia menunjukkan taringnya dalam melepaskan ketergantungan dolar AS, usai transaksi mata uang lokal di 2025 melonjak dua kali lipat hingga menyentuh angka USD25,6 miliar. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Indonesia semakin menunjukkan taringnya dalam melepaskan ketergantungan terhadap dolar AS . Langkah strategis dedolarisasi meningkat signifikan di 2025 dengan nilai transaksi mata uang lokal (Local Currency Transactions/LCT) yang melonjak dua kali lipat hingga menyentuh angka USD25,6 miliar atau setara Rp434,8 triliun (dengan kurs Rp16.984 per USD).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, bahwa pencapaian luar biasa di tahun 2025 ini menjadi fondasi kuat bagi stabilitas ekonomi nasional di tahun 2026. Penggunaan mata uang lokal digadang-gadang bisa menjadi nilai tambah bagi perekonomian dari setor perdagangan internasional.
“Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” ujar Menteri Koordinator Airlangga dalam keterangan resminya.
Baca Juga: Indonesia Lanjutkan Aksi Dedolarisasi, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp144 Triliun
Tren positif penggunaan mata uang lokal kembali terlihat di awal 2026. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan menitikberatkan bahwa transaksi LCT telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam nilai, partisipasi, dan adopsi pasar.
Pada Januari-Februari 2026, nilai transaksi mencapai sekitar USD8,45 miliar atau setara Rp144 triliun, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar USD3,21 miliar.
"Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi," ujar Ferry dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (12/4/2026).
Baca Juga: Lepas Ketergantungan Dolar AS, BRICS Siapkan Arah Baru di KTT 2026
Ferry menjelaskan soal adanya surplus perdagangan yang konsisten, yakni mencapai USD1,27 miliar pada Februari 2026, yang terutama ditopang oleh ekspor komoditas non-migas seperti batubara, minyak sawit, serta produk besi dan baja.
Terbaru Bank Indonesia (BI) dan Bank of Korea resmi meluncurkan konektivitas pembayaran QR Antarnegara Indonesia–Korea Selatan, yang memungkinkan masyarakat Indonesia bertransaksi di Korea Selatan menggunakan QRIS melalui aplikasi domestik1 tanpa perlu menukar valuta asing. Transaksi dilakukan langsung dalam mata uang lokal kedua negara, sehingga lebih efisien dan berbiaya rendah.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Joint Vision Statement (JVS) antara Presiden Prabowo dan Presiden Lee Jae Myung yang ditandatangani di Korea Selatan (1/4).
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan, bahwa peresmian ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan visi bersama Indonesia dan Korea Selatan untuk membangun sistem pembayaran yang terintegrasi, efisien, dan inklusif sebagai fondasi konektivitas ekonomi digital kedua negara.
“Terhubungnya pembayaran QR Antarnegara tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga memperkuat UMKM, meningkatkan pariwisata, serta membuka peluang baru bagi dunia usaha, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," tutur Gubernur Perry.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, bahwa pencapaian luar biasa di tahun 2025 ini menjadi fondasi kuat bagi stabilitas ekonomi nasional di tahun 2026. Penggunaan mata uang lokal digadang-gadang bisa menjadi nilai tambah bagi perekonomian dari setor perdagangan internasional.
“Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” ujar Menteri Koordinator Airlangga dalam keterangan resminya.
Baca Juga: Indonesia Lanjutkan Aksi Dedolarisasi, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp144 Triliun
Tren positif penggunaan mata uang lokal kembali terlihat di awal 2026. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan menitikberatkan bahwa transaksi LCT telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam nilai, partisipasi, dan adopsi pasar.
Pada Januari-Februari 2026, nilai transaksi mencapai sekitar USD8,45 miliar atau setara Rp144 triliun, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar USD3,21 miliar.
"Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi," ujar Ferry dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (12/4/2026).
Baca Juga: Lepas Ketergantungan Dolar AS, BRICS Siapkan Arah Baru di KTT 2026
Ferry menjelaskan soal adanya surplus perdagangan yang konsisten, yakni mencapai USD1,27 miliar pada Februari 2026, yang terutama ditopang oleh ekspor komoditas non-migas seperti batubara, minyak sawit, serta produk besi dan baja.
QRIS Antarnegara Jadi Ujung Tombak
Peningkatan transaksi mata uang lokal tidak lepas dari meluasnya penggunaan QRIS antarnegara. Saat ini, masyarakat Indonesia sudah bisa bertransaksi langsung menggunakan rupiah di berbagai negara mitra.Terbaru Bank Indonesia (BI) dan Bank of Korea resmi meluncurkan konektivitas pembayaran QR Antarnegara Indonesia–Korea Selatan, yang memungkinkan masyarakat Indonesia bertransaksi di Korea Selatan menggunakan QRIS melalui aplikasi domestik1 tanpa perlu menukar valuta asing. Transaksi dilakukan langsung dalam mata uang lokal kedua negara, sehingga lebih efisien dan berbiaya rendah.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Joint Vision Statement (JVS) antara Presiden Prabowo dan Presiden Lee Jae Myung yang ditandatangani di Korea Selatan (1/4).
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan, bahwa peresmian ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan visi bersama Indonesia dan Korea Selatan untuk membangun sistem pembayaran yang terintegrasi, efisien, dan inklusif sebagai fondasi konektivitas ekonomi digital kedua negara.
“Terhubungnya pembayaran QR Antarnegara tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga memperkuat UMKM, meningkatkan pariwisata, serta membuka peluang baru bagi dunia usaha, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," tutur Gubernur Perry.
(akr)
Lihat Juga :