Link and Match Pendidikan-Dunia Kerja, Wilmar Dukung Program Magang Mahasiswa
Minggu, 19 April 2026 - 10:38 WIB
loading...
Wilmar memperkuat komitmennya mendukung program pemerintah melalui program magang (internship) bagi mahasiswa, yang membantu menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Wilmar memperkuat komitmennya mendukung program pemerintah melalui program magang (internship) bagi mahasiswa, yang membantu menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Program magang memberikan kesempatan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, sehingga diharapkan membuka peluang lebih besar untuk terserap di dunia industri.
Head of Human Capital Wilmar Erlina Panitri mengatakan, program magang memiliki peran penting dalam mendukung konsep link and match antara pendidikan dan praktik kerja di lapangan. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga membantu mahasiswa memahami kebutuhan industri sejak dini. “Mahasiswa dapat lebih siap memasuki dunia kerja setelah lulus,” kata Erlina dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026). Baca juga: Uang Saku Peserta Magang Nasional Utuh, Pajak Ditanggung Negara
Wilmar menyediakan dua skema program magang, yaitu reguler dengan durasi hingga tiga bulan dan berbasis kompetensi yang berlangsung hingga enam bulan. Pada program berbasis kompetensi, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja, tetapi juga dapat memanfaatkan program tersebut untuk menyelesaikan tugas akhir. “Melalui program ini, selain belajar langsung di lapangan, mereka dapat sekaligus menyelesaikan tugas akademiknya, sehingga lebih efisien dan aplikatif,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan telah bekerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan. Mulai dari Akademi Kimia Analis (AKA) Bogor, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Fakultas Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Universitas Widya Mandala Surabaya serta Politeknik Industri Petrokimia Banten.
Untuk memperluas dampak program, sejak tahun lalu Wilmar juga bekerja sama dengan Kemnaker untuk melaksanakan program magang nasional (SiapKerja). Ke depan, Wilmar akan terus mengembangkan program ini sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM) unggul dan peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia.
Erlina menambahkan, berdasarkan pengalaman pelaksanaan program, mahasiswa yang mengikuti magang cenderung lebih mudah mendapatkan pekerjaan karena telah memiliki pengalaman kerja yang relevan.
Bahkan, sebagian peserta memiliki peluang untuk direkrut langsung oleh perusahaan setelah menyelesaikan program magang. “Umumnya, peserta magang dapat memperoleh pekerjaan dalam waktu relatif singkat setelah wisuda, bahkan ada yang langsung direkrut oleh perusahaan,” jelasnya. Baca juga: Peduli Pendidikan, Wilmar Sediakan Sekolah Berkualitas di Perkebunan Sawit
Salah satu mantan peserta magang, Aziz Fakhruddin Amrullah, alumni Fakultas Pertanian IPB mengaku memperoleh banyak pengalaman praktis selama magang di Wilmar Group. Dia terlibat langsung dalam proses operasional, mulai dari penerimaan gabah, pengolahan, hingga pendampingan dengan petani.
Dia juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan petani melalui Farmer Engagement Pogram (FEP). Dari situ saya belajar memahami berbagai karakter petani, sekaligus menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah. “Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam meningkatkan kesiapan menghadapi dunia kerja,” katanya.
Head of Human Capital Wilmar Erlina Panitri mengatakan, program magang memiliki peran penting dalam mendukung konsep link and match antara pendidikan dan praktik kerja di lapangan. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga membantu mahasiswa memahami kebutuhan industri sejak dini. “Mahasiswa dapat lebih siap memasuki dunia kerja setelah lulus,” kata Erlina dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026). Baca juga: Uang Saku Peserta Magang Nasional Utuh, Pajak Ditanggung Negara
Wilmar menyediakan dua skema program magang, yaitu reguler dengan durasi hingga tiga bulan dan berbasis kompetensi yang berlangsung hingga enam bulan. Pada program berbasis kompetensi, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja, tetapi juga dapat memanfaatkan program tersebut untuk menyelesaikan tugas akhir. “Melalui program ini, selain belajar langsung di lapangan, mereka dapat sekaligus menyelesaikan tugas akademiknya, sehingga lebih efisien dan aplikatif,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan telah bekerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan. Mulai dari Akademi Kimia Analis (AKA) Bogor, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Fakultas Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Universitas Widya Mandala Surabaya serta Politeknik Industri Petrokimia Banten.
Untuk memperluas dampak program, sejak tahun lalu Wilmar juga bekerja sama dengan Kemnaker untuk melaksanakan program magang nasional (SiapKerja). Ke depan, Wilmar akan terus mengembangkan program ini sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM) unggul dan peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia.
Erlina menambahkan, berdasarkan pengalaman pelaksanaan program, mahasiswa yang mengikuti magang cenderung lebih mudah mendapatkan pekerjaan karena telah memiliki pengalaman kerja yang relevan.
Bahkan, sebagian peserta memiliki peluang untuk direkrut langsung oleh perusahaan setelah menyelesaikan program magang. “Umumnya, peserta magang dapat memperoleh pekerjaan dalam waktu relatif singkat setelah wisuda, bahkan ada yang langsung direkrut oleh perusahaan,” jelasnya. Baca juga: Peduli Pendidikan, Wilmar Sediakan Sekolah Berkualitas di Perkebunan Sawit
Salah satu mantan peserta magang, Aziz Fakhruddin Amrullah, alumni Fakultas Pertanian IPB mengaku memperoleh banyak pengalaman praktis selama magang di Wilmar Group. Dia terlibat langsung dalam proses operasional, mulai dari penerimaan gabah, pengolahan, hingga pendampingan dengan petani.
Dia juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan petani melalui Farmer Engagement Pogram (FEP). Dari situ saya belajar memahami berbagai karakter petani, sekaligus menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah. “Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam meningkatkan kesiapan menghadapi dunia kerja,” katanya.
(poe)
Lihat Juga :