Membaca Ruang Kenaikan Lanjutan IHSG Pekan Ini usai Gaspol ke 7.634
Minggu, 19 April 2026 - 22:25 WIB
loading...
A
A
A
Ia menambahkan, ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah, terutama potensi gangguan di Selat Hormuz sebagai jalur bagi 20% distribusi minyak dunia, telah memicu sensitivitas tinggi pada pasar energi global. Tekanan pasokan ini bukan sekadar sentimen, melainkan fakta nyata yang mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak tajam ke level USD102 per barel pada Maret lalu.
Meskipun Amerika Serikat (AS) berupaya melakukan stabilisasi melalui izin pembelian minyak Rusia untuk meredam inflasi energi, kondisi fundamental tetap menunjukkan ketatnya suplai akibat menipisnya cadangan di hub utama seperti Cushing, AS. Harga energi secara struktural diprediksi akan tetap bertahan di level tinggi, meski terjadi koreksi jangka pendek.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Dibuka Naik Tipis ke 7.663, Ada 365 Saham Menghijau
Dampak dari tingginya biaya energi ini mulai merembet pada kualitas pertumbuhan ekonomi global yang tidak merata. China, sebagai motor ekonomi Asia, memang mencatat pertumbuhan solid sebesar 5%, namun mulai menunjukkan kerentanan akibat lemahnya konsumsi domestik dan tekanan di sisi eksternal. Jika konflik regional berlanjut, risiko terhadap permintaan global menjadi ancaman yang nyata bagi pelaku pasar.
Di sisi lain, komoditas nikel menunjukkan prospek yang kompleks. Meski ada potensi kenaikan harga akibat gangguan logistik bahan baku seperti sulphuric acid, lonjakan biaya produksi turut membayangi margin keuntungan. Kondisi ini membuat prospek sektor komoditas berada pada posisi cautiously optimistic, dimana potensi penguatan tetap ada, namun dibatasi oleh tantangan biaya operasional yang membengkak.
Di luar faktor tersebut, ada beberapa data penting yang perlu dicermati. Dari China, pasar akan menunggu rilis Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun dengan konsensus di level 3,0% dan LPR 5 tahun di 3,5%.
Meskipun Amerika Serikat (AS) berupaya melakukan stabilisasi melalui izin pembelian minyak Rusia untuk meredam inflasi energi, kondisi fundamental tetap menunjukkan ketatnya suplai akibat menipisnya cadangan di hub utama seperti Cushing, AS. Harga energi secara struktural diprediksi akan tetap bertahan di level tinggi, meski terjadi koreksi jangka pendek.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Dibuka Naik Tipis ke 7.663, Ada 365 Saham Menghijau
Dampak dari tingginya biaya energi ini mulai merembet pada kualitas pertumbuhan ekonomi global yang tidak merata. China, sebagai motor ekonomi Asia, memang mencatat pertumbuhan solid sebesar 5%, namun mulai menunjukkan kerentanan akibat lemahnya konsumsi domestik dan tekanan di sisi eksternal. Jika konflik regional berlanjut, risiko terhadap permintaan global menjadi ancaman yang nyata bagi pelaku pasar.
Di sisi lain, komoditas nikel menunjukkan prospek yang kompleks. Meski ada potensi kenaikan harga akibat gangguan logistik bahan baku seperti sulphuric acid, lonjakan biaya produksi turut membayangi margin keuntungan. Kondisi ini membuat prospek sektor komoditas berada pada posisi cautiously optimistic, dimana potensi penguatan tetap ada, namun dibatasi oleh tantangan biaya operasional yang membengkak.
Sentimen Global dan Domestik yang Wajib Dipantau
Berbicara tentang potensi pergerakan market pada sepekan (20-24 April 2026), Imam memprediksi pasar masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen geopolitik, khususnya terkait dinamika konflik di Timur Tengah dan perkembangan terbaru di Selat Hormuz. Meskipun ada data ekonomi yang rilis, arah market tetap akan sangat bergantung pada headline geopolitik yang sifatnya unpredictable.Di luar faktor tersebut, ada beberapa data penting yang perlu dicermati. Dari China, pasar akan menunggu rilis Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun dengan konsensus di level 3,0% dan LPR 5 tahun di 3,5%.
Lihat Juga :