Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Jajaki Impor Kemasan dari Malaysia hingga Rusia

Senin, 20 April 2026 - 22:40 WIB
loading...
Krisis Bahan Baku Plastik,...
Pemerintah mulai memetakan strategi untuk mengamankan pasokan plastik kemasan pangan nasional yang terancam akibat krisis bahan baku global. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pemerintah mulai memetakan strategi untuk mengamankan pasokan plastik kemasan pangan nasional yang terancam akibat krisis bahan baku global. Konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya ketegangan di Iran, telah mengganggu ketersediaan nafta sebagai bahan baku utama plastik yang berasal dari minyak bumi.

Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, Sam Herodian, mengungkapkan bahwa salah satu langkah yang sedang dijajaki adalah melakukan impor plastik kemasan dari Malaysia. Rencana ini muncul di tengah momentum pemerintah yang juga sedang menjajaki peluang ekspor beras ke negara tetangga tersebut.

“Plastik ternyata saya peluang (impor) dari Malaysia. Tawaran itu ada, kita lagi nyari peluang (impor) ya, kita kan bahan bakunya (nafta) dari minyak bumi," ujar Sam Herodian dalam media briefing di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Senin (20/4/2026).

Baca Juga: Harga Plastik Dunia Cetak Rekor Usai Trump Perintahkan Blokade Laut Iran

Sam menjelaskan, penjajakan impor ini tidak hanya menyasar plastik kemasan ritel 5 kilogram, tetapi juga teknologi penyimpanan yang lebih canggih seperti hermetic bag. Teknologi ini diklaim mampu menjaga kualitas beras dalam jangka waktu yang sangat lama tanpa bantuan bahan kimia.



“Bahkan bukan hanya plastik untuk kemasan yang 5 kilogram, termasuk namanya hermetic bag untuk bisa menyimpan beras sampai 2-3 tahun tanpa harus dikasih obat dan seterusnya,” tambahnya.

Meski demikian, Sam menegaskan proses ini masih dalam tahap awal. Pemerintah tetap membuka pintu bagi negara produsen lain agar tidak bergantung pada satu sumber saja.

Senada dengan hal tersebut, Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa mengakui adanya guncangan ekonomi politik yang mulai berdampak pada industri pengemasan di Indonesia. Bapanas telah melakukan simulasi kasar terkait potensi kenaikan harga pangan jika biaya produksi plastik melonjak 10%.

"Di beras itu hampir sekitar Rp300 per pilihan yang benar-benar dampaknya. Tapi di gula, relatif lebih sedikit, sekitar Rp100-150an. Itu pun paling kasar," jelas Ketut.

Baca Juga: Bahan Baku Plastik Langka, Indonesia Sibuk Cari Sumber Pasokan Alternatif ke 3 Negara

Ketut menekankan ,bahwa pelaku usaha di dalam negeri tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi ini. Saat ini para produsen bersama Kementerian Perdagangan sedang giat mencari alternatif pasokan bahan baku dari negara-negara lain, termasuk Rusia.

"Langkah daripada pelaku usaha kan gak diam, dia akan mencari, dan sudah akan mencari peluang-peluang apakah di seberang, apakah dari Rusia, apakah dari produsen-produsen pasokan plastik itu. Itulah sebenarnya sumber-sumber pasokan plastik yang akan hitung," tegasnya.

Pemerintah berharap upaya diversifikasi sumber pasokan ini dapat segera diselesaikan dalam waktu dekat. Langkah antisipatif ini diambil agar fluktuasi biaya logistik dan pengemasan tidak dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga pangan di pasar.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dataran Tinggi Tak Lagi...
Dataran Tinggi Tak Lagi Area Pinggiran, UPLAND Jadikannya Pilar Kedaulatan Pangan
Industri AMDK di Antara...
Industri AMDK di Antara Tekanan Energi dan Logistik, Menunggu Keberpihakan Negara
Pembebasan Bea Masuk...
Pembebasan Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Berlaku 6 Bulan
Darurat, Pemerintah...
Darurat, Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen
Harga Plastik Meroket...
Harga Plastik Meroket 100%, Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Industri
Siap-siap! Lonjakan...
Siap-siap! Lonjakan Biaya Plastik Picu Kenaikan Harga Minyak Goreng
Dirjenbun Kementan Pastikan...
Dirjenbun Kementan Pastikan Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
Tinjau Teknologi Tanam...
Tinjau Teknologi Tanam PM-AAS, Presiden Prabowo Sebut Inovasi Pertanian Revolusioner
Makanan Panas Disantap...
Makanan Panas Disantap dengan Sendok Plastik, Apa Dampaknya bagi Tubuh?
Rekomendasi
3 Irjen Pol Dimutasi...
3 Irjen Pol Dimutasi Kapolri pada Juni 2026, Ini Nama-namanya
Bintang Senegal Boikot...
Bintang Senegal Boikot Timnas Usai Tersingkir Dramatis di Piala Dunia 2026
MNC Digital Entertainment...
MNC Digital Entertainment Raih Penghargaan Bisnis Indonesia Awards 2026 Kategori Media dan Hiburan
Berita Terkini
Hadir Kembali, Mandiri...
Hadir Kembali, Mandiri Donor Darah Gerakkan 280 Pendonor di 12 Region: Satu Langkah Darimu, Sejuta Harapan Untuknya
Tak Lagi Sekadar Hiburan,...
Tak Lagi Sekadar Hiburan, Industri Entertainment Kini Jadi Ladang Investasi Baru
Perkuat Kontribusi ke...
Perkuat Kontribusi ke Pembangunan Sultra, Setoran Pajak CNI Paling Besar
Nekat Melenceng dari...
Nekat Melenceng dari Jalur Bakal Disikat! Iran Ultimatum Keras soal Selat Hormuz
Satu Sendok, Sejuta...
Satu Sendok, Sejuta Mitos: Sasa Luruskan Fakta MSG yang Benar
TAP Untuk Negeri Perkuat...
TAP Untuk Negeri Perkuat Produktivitas Petani Sawit Dukung Program B50
Infografis
20 Negara yang Pernah...
20 Negara yang Pernah Dijajah Alexander Agung, dari Pakistan hingga Palestina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved