Pengamat Nilai Kinerja PGEO 2025 Tegaskan Keuntungan Investasi Sektor Panas Bumi
Kamis, 23 April 2026 - 22:07 WIB
loading...
A
A
A
“Kinerja yang stabil seperti yang ditunjukkan PGEO menjadi sinyal positif bagi pasar. Ini penting untuk mendorong investasi baru, karena industri geothermal membutuhkan komitmen jangka panjang serta kepastian kebijakan,” katanya.
Sejalan dengan kinerja keuangan tersebut, PGEO juga mencatatkan produksi listrik sebesar 5.095,48 gigawatt hour (GWh) pada 2025, meningkat 5,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh mulai beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 yang menambah kapasitas terpasang.
Di sisi lain, pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menargetkan porsi kapasitas pembangkit energi baru terbarukan mencapai 76 persen pada periode 2025–2034. Energi panas bumi sendiri diproyeksikan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Dengan capaian tersebut, kinerja PGEO dinilai sejalan dengan upaya Indonesia dalam menekan emisi karbon. Pemanfaatan energi panas bumi berperan langsung dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil, sekaligus mendukung target penurunan emisi sebesar 31,89 persen pada 2030, sebagaimana tertuang dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2022.
Ke depan, PGEO diharapkan mampu menjadi katalis utama dalam mempercepat pengembangan energi panas bumi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta transisi energi global.
Sejalan dengan kinerja keuangan tersebut, PGEO juga mencatatkan produksi listrik sebesar 5.095,48 gigawatt hour (GWh) pada 2025, meningkat 5,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh mulai beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 yang menambah kapasitas terpasang.
Di sisi lain, pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menargetkan porsi kapasitas pembangkit energi baru terbarukan mencapai 76 persen pada periode 2025–2034. Energi panas bumi sendiri diproyeksikan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Dengan capaian tersebut, kinerja PGEO dinilai sejalan dengan upaya Indonesia dalam menekan emisi karbon. Pemanfaatan energi panas bumi berperan langsung dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil, sekaligus mendukung target penurunan emisi sebesar 31,89 persen pada 2030, sebagaimana tertuang dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2022.
Ke depan, PGEO diharapkan mampu menjadi katalis utama dalam mempercepat pengembangan energi panas bumi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta transisi energi global.
(wur)
Lihat Juga :