Kebut Sekolah Rakyat di Sulut dan Kalsel, Brantas Abipraya Menjaga Laju, Menjamin Mutu
Selasa, 05 Mei 2026 - 20:57 WIB
loading...
A
A
A
“Pembangunan Sekolah Rakyat ini kami pastikan tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga memenuhi standar kualitas terbaik serta mengedepankan aspek keselamatan kerja,” ujarnya
Di tengah progres tersebut, proyek juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain tingginya curah hujan yang memengaruhi aktivitas konstruksi serta kelangkaan solar (BBM) yang berdampak pada distribusi material alam seperti pasir, baik untuk pekerjaan di lapangan maupun suplai ke batching plant.
Baca Juga: Merayakan 45 Tahun lewat Beragam Inovasi, Brantas Abipraya Merajut Masa Depan
Menanggapi tantangan tersebut, Brantas Abipraya menerapkan berbagai langkah strategis guna menjaga target penyelesaian proyek pada 20 Juni 2026. Perusahaan menambah dua unit mobile crane sehingga total menjadi empat unit, serta mengubah metode pengecoran pelat dari sistem konvensional menjadi metal deck untuk meningkatkan efisiensi waktu. Optimalisasi pekerjaan juga dilakukan melalui penerapan tiga shift kerja.
Selain itu, percepatan dilakukan melalui penggunaan material fasad GRC super panel menggantikan plester aci, serta perubahan struktur gedung SMA dari beton bertulang menjadi baja profil. Di SR Barito Kuala dan Banjarbaru, percepatan pembangunan dilakukan dengan mengganti bekisting konvensional ke bondex, dan pembesian plat lantai dari besi konvensional menjadi wiremesh.
Jumlah tenaga kerja juga ditingkatkan demi percepatan pembangunan hingga 600 orang, termasuk melalui mobilisasi menggunakan pesawat carter.
Dari sisi logistik, perusahaan mempercepat pengadaan material seperti keramik, MEP, dan furnitur dengan memaksimalkan sewa gudang. Pengiriman material juga dialihkan menggunakan pesawat Hercules dan kargo udara untuk memastikan kelancaran suplai di tengah keterbatasan distribusi konvensional.
Di tengah progres tersebut, proyek juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain tingginya curah hujan yang memengaruhi aktivitas konstruksi serta kelangkaan solar (BBM) yang berdampak pada distribusi material alam seperti pasir, baik untuk pekerjaan di lapangan maupun suplai ke batching plant.
Baca Juga: Merayakan 45 Tahun lewat Beragam Inovasi, Brantas Abipraya Merajut Masa Depan
Menanggapi tantangan tersebut, Brantas Abipraya menerapkan berbagai langkah strategis guna menjaga target penyelesaian proyek pada 20 Juni 2026. Perusahaan menambah dua unit mobile crane sehingga total menjadi empat unit, serta mengubah metode pengecoran pelat dari sistem konvensional menjadi metal deck untuk meningkatkan efisiensi waktu. Optimalisasi pekerjaan juga dilakukan melalui penerapan tiga shift kerja.
Selain itu, percepatan dilakukan melalui penggunaan material fasad GRC super panel menggantikan plester aci, serta perubahan struktur gedung SMA dari beton bertulang menjadi baja profil. Di SR Barito Kuala dan Banjarbaru, percepatan pembangunan dilakukan dengan mengganti bekisting konvensional ke bondex, dan pembesian plat lantai dari besi konvensional menjadi wiremesh.
Jumlah tenaga kerja juga ditingkatkan demi percepatan pembangunan hingga 600 orang, termasuk melalui mobilisasi menggunakan pesawat carter.
Dari sisi logistik, perusahaan mempercepat pengadaan material seperti keramik, MEP, dan furnitur dengan memaksimalkan sewa gudang. Pengiriman material juga dialihkan menggunakan pesawat Hercules dan kargo udara untuk memastikan kelancaran suplai di tengah keterbatasan distribusi konvensional.
Lihat Juga :